Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream – Pemerintah Indonesia yang sesumbar mengatakan negara akan capai pertumbuhan ekonomi pada triwulan kedua tahun ini harus kembali menelan ludahnya. Pasalnya, bukan lebih tinggi pertumbuhan ekonomi yang dicapai, justru lebih lambat.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan perekonomian Indonesia pada triwulan kedua 2015 hanya sebesar 4,67 persen atau lebih lambat dibandingkan pertumbuhan di triwulan I 2015 yang sebesar 4,71 persen dan pertumbuhan pada periode yang sama tahun 2014 yaitu 5,12 persen.
Realisasi pertumbuhan ekonomi ini dibentuk oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang sebesar 4,97 persen, Pembentukan Modal Tetap Bruto sebesar 3,55 persen, dan konsumsi pemerintah sebesar 2,28 persen. Sedangkan, komponen pembentuk pertumbuhan lainnya mengalami pertumbuhan negatif.
Menurut Kepala BPS Suryamin, perlambatan ekonomi ini masih dipengaruhi kuat oleh kondisi ekonomi global yang tidak kondusif dan diperkirakan melambat di beberapa negara termasuk beberapa mitra ekonomi Indonesia.
" Pertumbuhan ekonomi negara mitra juga melemah. Amerika Serikat pertumbuhan ekonominya 2,9 persen pada kuartal pertama menjadi 2,3 persen pada kuartal kedua. Tiongkok pertumbuhannya 7 persen dan Singapura pertumbuhan ekonominya 2,1 persen pada kuartal pertama menjadi 1,7 persen pada kuartal kedua," ujar Suryamin dalam jumpa pers di kantornya, Rabu, 5 Agustus 2015.
Rendahnya harga komoditas, lanjut Suryamin, turut pula memengaruhi perlambatan ekonomi yang dialami Indonesia. Menurutnya, beberapa barang dagang yang harganya amat rendah di pasar global diantaranya gandum, jagung, beras, kedelai, kopi, daging sapi, ikan, bijih besi, alumunium, nikel dan timah.
Yang terakhir, kata Suryamin, perlambatan pertumbuhan ekonomi juga dipengaruhi oleh ketidakpastian kondisi pasar keuangan yang terkait dengan ketidakpastian kenaikan fed fund rate.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya