Dua Jalan Berbeda Bursa Saham di 2 Tahun Pemerintahan Prabowo VS Jokowi
Di Balik 8 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo
Kepuasan Publik Setelah Dua Tahun Prabowo-Gibran
Jalan Ekonomi Hijau Indofood
Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya
JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
Ilustrasi/Shutterstock
Dream - Pengobatan secara herbal sering kali jadi pilihan alternatif bagi masyarakat Indonesia. Namun, dalam kasus pengobatan obat herbal untuk penyakit kanker prostat belum terjamin keamanannya.
Menurut dr. Agus Rizal Ardy Hariandy Hamid, Sp.U (K), PhD, Konsultan Dokter Spesialis Uro-Onkologi Siloam Hospitals ASRI, efek samping yang dihasilkan obat herbal untuk pengobatan kanker prostat hingga saat ini masih belum diketahui.
Ia sendiri pun tidak menyarankan penggunaan obat herbal, terutama yang beredar di pasaran karena banyaknya kasus penemuan kandungan berbahaya di dalamnya serta kurangnya bukti ilmiah yang mendukung efektivitas obat tersebut bagi pasien kanker prostat.

Meskipun begitu, ia tidak melarang penggunaan obat herbal sepenuhnya, dengan catatan pasien harus selektif dalam memilih obat herbal.
" Obat herbal bukanlah masalah, asal kita sendiri yang menyiapkan dan menyeduhnya karena itu sama saja seperti mengonsumsi sayur dan buah," ujar dr. Agus dalam acara webinar World Cancer Day 2021, Rabu 17 Februari 2021.
Ia juga mengingatkan bahwa pengobatan medis yang diberikan dokter tetap menjadi sumber pengobatan utama yang tidak boleh dihentikan.
Laporan: Silmi Safriyantini
Dream - Kanker prostat menjadi hantu di kalangan pria. Banyak yang bergidik begitu mendengarnya. Padahal, kanker prostat tidak selalu berbahaya.
Manusia pada dasarnya memiliki sel pontensi kanker. Apabila bermutasi, sel tersebut dapat menggerogoti organ tubuh. Genetik dan gaya hidup menjadi faktor risiko terbesar. Tak semudah itu mendiagnosa kanker. Jenis kanker prostat terbagi menjadi dua, yakni jinak dan ganas. Poh Beow Kiong, Ahli Urologi Parkway Hospitals Singapore menyebutkan tingkat keganasan kanker dapat dilihat melalui PSA (Prostate Specific Antigen). " Kalau nilainya tinggi patut dicurigai, meski belum tentu kanker. Nilai di atas 3 harus dilakukan tes biopsi untuk mengukur sifat dan tingkat keganasan kanker," tuturnya di Jakarta, Kamis 31 Januari 2019. Tes biopsi dilakukan melalui dubur. Alat akan mengukur tingkat kepadatan kelenjar prostat. Apabila terasa keras maka patut dicurigai. Prosesnya berlangsung 5 menit dan tidak menimbulkan rasa sakit karena kelenjar prostat tidak memiliki saraf.
Jika terbukti kanker, dokter akan melakukan PET Scan untuk menghitung laju penyebaran kanker. Jika sudah menyebar, kanker prostat bisa menyerang organ tubuh lain seperti tulang belakang.
" Jika sifatnya jinak bukan berarti didiamkan. Dia dalam keadaan dorman atau tidur. Akan diberikan obat untuk memperkecil ukuran kanker dan monitoring setiap 6 bulan sekali," ujarnya.
Gaya hidup sebaiknya lebih diperhatikan agar kanker tidak berubah jadi agresif. Jauhi rokok dan mulai konsumsi makanan bernutrisi.
Selain itu, pastikan mendapat waktu tidur yang cukup. Kekebalan tubuh akan berkurang seiring dengan kurangnya istirahat. Faktor stres tersebut dapat memicu ganasnya kanker.(Sah)
Advertisement

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun


Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh

Dua Jalan Berbeda Bursa Saham di 2 Tahun Pemerintahan Prabowo VS Jokowi

