Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Gagang Pintu Dari Tembaga. (Foto: Shutterstock)
Dream - Virus corona dari jenis SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19 termasuk salah satu jenis virus yang mudah menular.
Orang bisa tertular melalui sentuhan pada mata, hidung, dan mulut setelah menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi virus corona.
Permukaan benda bisa terkontaminasi jika ada pasien Covid-19 menutup batuk dan bersin mereka dengan tangan, kemudian menyentuh benda tersebut.
Penelitian sebelumnya menunjukkan virus corona bisa bertahan hidup di permukaan besi, baja dan plastik selama tiga hari.
Namun menurut William Keevil, ahli mikrobiologi di University of Southampton, virus corona akan mati dalam beberapa jam jika menempel di permukaan benda yang dilapisi tembaga.
Keevil mengatakan Inggris termasuk salah satu negara yang lambat dalam mengadopsi penggunaan tembaga di fasilitas umum.
Karena itu Keevil menyarankan agar gagang pintu, pegangan tangga, troli belanja, pegangan tangan di transportasi publik hingga alat olahraga di pusat kebugaran dilapisi tembaga.
Keevil kemudian menjelaskan bagaimana tembaga bisa membunuh virus corona dengan cepat dan efisien.
Ketika virus corona mendarat di tembaga, ion metal, yaitu atom bermuatan listrik, dari metal tersebut akan menyerang membran lipid pelindung virus.
Tembaga kemudian menyerang sel virus corona, dan menghancurkan DNA-nya. Dengan kata lain, tembaga mampu membunuh virus corona di tempat seketika.
Profesor William Keevil adalah seorang ahli mikrobiologi yang telah mempelajari efek antimikroba dari tembaga selama lebih dari 20 tahun.
Penelitian Keevil sudah dibuktikan dalam sebuah studi di Amerika Serikat pada November 2019 lalu.
Di dalam studi itu ditemukan bahwa tempat tidur rumah sakit yang dilapisi tembaga di unit gawat darurat mengandung 95% lebih sedikit bakteri daripada tempat tidur konvensional.
" Temuan menunjukkan bahwa lapisan antimikroba pada tembaga dapat membantu praktisi pengendali infeksi dalam upaya menjaga permukaan peralatan kesehatan tetap higienis," tulis studi yang dilakukan oleh Medical University di South Carolina itu.
Hasil serupa diperoleh dari tes yang mereka lakukan pada virus corona yang menyebabkan wabah SARS pada tahun 2003.
Sumber: DailyMail
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya