42 Tenaga Medis di Jakarta Terinfeksi Covid-19

Reporter : Maulana Kautsar
Selasa, 24 Maret 2020 08:02
42 Tenaga Medis di Jakarta Terinfeksi Covid-19
Warga yang meninggal, kata dia, mencapai 29 orang.

Dream - Sebanyak 42 tenaga medis di DKI Jakarta terinfeksi virus corona, Covid-19. Informasi tersebut disampaikan Asisten Kesejahteraan Rakyat (Kesra) DKI Jakarta, Catur Laswanto.

" Tenaga kesehatan yang terinfeksi (Covid-19) mencapai 42 orang," kata Catur, Senin, 23 Maret 2020.

Catur mengatakan,hari ada 50 warga DKI Jakarta yang dinyatakan positif Covid-19. Dengan penambahan itu, kini warga DKI Jakarta yang terinfeksi virus itu mencapai 355.

Sementara itu warga yang dinyatakan sembuh dari Covid-19 sebanyak 22 orang. Warga yang meninggal, kata dia, mencapai 29 orang.

Dia menyebut, orang dalam pemantauan (ODP) Covid-19 sebanyak 1.465 orang. Adapun pasien yang selesai dipantau 1.064.

" Jumlah PDP (Pasien Dalam Pemantauan) adalah 691 orang. Yang masih dirawat sampai hari ini berjumlah 430 orang dan 261 orang telah pulang, artinya sudah sehat," kata dia.

Sumber: Liputan6.com/Ika Defianti

1 dari 5 halaman

Soal Corona, Wapres Minta Ada Fatwa Pengurusan Jasad & Cara Bersuci Tenaga Medis

Dream - Wakil Presiden, Ma'ruf Amin akan mengusulkan kepada Majelis Ulama Indonesia dan organisasi massa Islam untuk mengeluarkan dua fatwa seputar penanganan virus corona Covid-19. Dia menilai keberadaan fatwa tersebut sangat dibutuhkan saat ini

Fatwa yang dimaksud Ma'ruf yaitu mengenai tata cara pengurusan jenazah yang meninggal akibat virus mematikan dan cara bersuci bagi tenaga medis yang tidak bisa melepaskan alat pelindung diri.

" Ke depan, saya meminta MUI dan ormas Islam mengeluarkan fatwa jika terjadi kesulitan untuk mengurusi jenazah apabila kurang atau tidak ada tenaga medisnya," ujar Ma'ruf di Jakarta, Senin 23 Maret 2020.

Ma'ruf mengatakan masyarakat sangat membutuhkan fatwa tersebut, yang juga memuat kemungkinan bisa tidaknya jenazah tidak dimandikan.

2 dari 5 halaman

Fatwa Untuk Petugas Medis Memakai APD Hendak Sholat

Tak hanya itu, fatwa mengenai ketentuan petugas medis yang hendak sholat namun tidak memungkinkan melepas alat perlindungan diri selama delapan jam sangat dibutuhkan saat ini. Ma'ruf menilai fatwa ini perlu dikeluarkan mengingat sudah banyak petugas mengalami kejadian tersebut.

" Kepada petugas medis yang menggunakan alat perlindungan diri yang tidak bisa dilepas selama delapan jam, tidak bisa wudhu, saya sudah meminta dibuatkan agar mereka bisa sholat tanpa wudhu," kata Ma'ruf.

Lebih lanjut, Ma'ruf mengimbau semua pihak bersatu dalam menangani virus corona. Dia juga meminta masing-masing pihak untuk tidak lagi berpolemik.

" Tapi bagaimana menjalankan langkah pengamanan, penanggulangan," kata dia.(Sah)

3 dari 5 halaman

Dua Kasus Pertama Positif Corona di Gaza

Dream - Otoritas Palestina untuk Jalur Gaza melaporkan adanya dua kasus pertama infeksi virus corona pada Minggu, 22 Maret 2020 waktu setempat. Gaza langsung memberlakukan karantina pada dua kasus itu.

Dua kasus itu merupakan warga Palestina usia 79 tahun dan 63 tahun yang baru pulang dari Pakistan lewat Mesir.

Keduanya dinyatakan positif terinfeksi Covid-19 saat menjalani pemeriksaan di perbatasan Gaza-Mesir di Rafah dan langsung dikarantina.

" Alhamdulillah, lingkaran kontaknya tidak besar," ujar kepala kantor media Pemerintah Gaza, dikutip dari Arab News.

Seluruh orang yang pernah memiliki kontak langsung dengan dua kasus itu juga sudah dikarantina. Gaza juga telah menerapkan penutupan sekolah, pasar, hingga aula pertemuan untuk mencegah penyebaran virus corona.

Otoritas keagamaan di Gaza mendesak masyarakat untuk sholat dan ibadah di rumah dibandingkan ke masjid. Juga meminta ditiadakan takziah ketika ada keluarga yang meninggal untuk sementara waktu.

 

4 dari 5 halaman

Ancaman Fatal untuk Gaza

Covid-19 menjadi ancaman fatal bagi penduduk Gaza. Ini mengingat Jalur Gaza adalah kawasan padat penduduk dengan tingkat kemiskinan tinggi dan fasilitas kesehatan sangat kurang ,akibat blokade yang dijalankan Israel.

Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan, ada 59 kasus infeksi Covid-19 terkonfirmasi di Tepi Barat. Sementara Israel menyatakan ada 945 kasus terkonfirmasi dengan kematian dilaporkan satu kasus.

Jalur Gaza seluas 375 kilometer persegi dihuni sekitar 2 juta warga Palestina. Pakar kesehatan menyebut, infeksi dapat menyebar lebih cepat mengingat warga Gaza tinggal saling berdekatan ditambah kelangkaan peralatan medis dan obat-obatan.

Blokade yang dijalankan Israel didukung Mesir telah membatasi pergerakan warga Palestina di Jalur Gaza selama bertahun-tahun. Pemicunya adalah kekhawatiran setelah gerakan milisi Hamas menguasai Gaza pada 2007.

 

5 dari 5 halaman

Tepi Barat Sepi

Di Tepi Barat, Pemerintah Palestina menginstruksikan masyarakat untuk tetap di dalam rumah selama dua pekan untuk mencegah penyebaran virus. Tenaga medis, apoteker, pemilik toko dan pembuat roti diizinkan tetap aktivitas.

Seorang pejabat Palestina mengatakan masyarakat dibolehkan pergi ke toko untuk belanja makanan.

Pada Sabtu, otoritas Israel menutup perbatasan dengan Gaza dan Tepi Barat untuk lalu lintas komersial. Meski demikian, beberapa pasien dan relawan kemanusiaan dibolehkan melintas.

Orang-orang masuk Gaza lewat Rafah atau jalur perlintasan Erez di Israel mulai 15 Maret 2020 dikarantina di fasilitas yang telah disiapkan.

WHO menyatakan ada 1.287 orang diisolasi di fasilitas terebut, sedangkan 2.017 mengkarantina diri di rumah masing-masing.

Beri Komentar