Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Warga berusia lanjut, Lai Kim meninggal di ambulans karena terlambat sampai di rumah sakit. Peristiwa itu dilaporkan terjadi di Kuching, Sarawak, Malaysia, Senin, 11 Maret 2019.
Saat ini, dilaporkan World of Buzz, Fung Ying, putri Lai Kim mencari penjelasan dari pihak berwenang mengenai dugaan kesalahan yang merenggut nyawa ayahnya.
Dia mengunggah kronologi alasan meninggalnya ayahnya di Facebook. Dia menyebut, ambulans sempat berhenti di pompa bensin karena kehabisan bahan bakar.

Ambulans yang berhenti di stasiun pengisian bahan bakar (Foto: World of Buzz)
“ Di pagi hari, ayah saya menderita sakit perut ekstrem dan jantungnya berdetak sangat cepat. Ibu dan adik laki-lakiku membawanya ke klinik terdekat, Klinik Kesehatan Siburan," tulis Ying.
Dari rekam Elektrokargdiogram (ECG) menunjukkan ayahnya memiliki detak jantung yang tidak normal. Tapi, klinik tersebut tak memiliki fasilitas untuk mendiagnosis penyebab sakit perut tersebut.
" Dokter kemudian meminta ayah saya untuk dipindahkan ke rumah sakit," ujar dia.
Ying mengatakan, ambulans tidak segera menuju ke rumah sakit. Bahkan sirene ambulans tersebut juga tak menyala.
Dengan kondisi sakit, ambulans tersebut ternyata menyempatkan diri menuju pengisian bahan bakar di Petronas Siburan. Tapi, saat di pengisian bahan bakar, sebuah truk menyenggol ambulans sehingga pintu pengemudi tidak bisa menutup.
" Ibuku berkata, ayahku masih sadar ketika kecelakaan itu terjadi. Dia memberi tahu ibuku, ‘Bagaimana kecelakaan itu terjadi? Kita seharusnya sudah sampai di rumah sakit sekarang`. Saya percaya kecelakaan itu menyisakan banyak waktu di pompa bensin," ucap dia.
Meski sedang membawa pasien, akibat tabrakan yang terjadi, asisten medis dan sopir ambulans justru membuat laporan polisi. Kondisi itu membuat keluarga pasien tertinggal di ambulans.
Tiba-tiba, kondisinya memburuk. Ayahnya berhenti bernafas dan suhu tubuhnya mendadak jadi dingin.
“ Saudaraku dengan cepat mencari bantuan asisten medis di kantor polisi. Dia melakukan CPR selama hampir 15 menit pada ayah saya. Sayangnya, ayah saya tidak merespon dan meninggal sekitar pukul 11 pagi,” kata dia.
Sudah lebih dari sepekan sejak ayahnya meninggal dan satu-satunya jawaban yang mereka terima hanya permintaan maaf.
Fung Ying sekarang menuntut penjelasan dari pihak berwenang atas nama ibunya. Dia juga mempertanyakan prosedur operasi standar (SOP) yang dipraktikkan oleh personel medis.
Kasus ini sekarang sedang diselidiki berdasarkan Pasal 43 dari Undang-Undang Tahun 1987 Tentang Transportasi Jalan.
(Sah, Sumber: World of Buzz)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang