Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
DR. Dr. Julitasari Sundoro MSc-PH, Executive Secretary ITAGI Indonesia (Foto: Merdeka.com)
Dream - Program vaksinasi Covid-19 masih mendapatkan penolakan dari beberapa pihak. Banyaknya informasi salah dan kabar bohong mengenai vaksin Covid-19 yang beredar di tengah masyarakat, ditengarai menjadi salah satu penyebabnya.
Para tenaga medis dan kesehatan diimbau ikut menyukseskan kampanye vaksinasi Covid-19.
" Mereka terkenal dengan vaccine resistance. Ini sudah di dunia, tidak hanya di Indonesia saja. Seiring berjalannya waktu, gerakan anti vaksin menyebar di internet, seminar-seminar perguruan tinggi di perguruan tinggi," ujar Dr. dr. Julitasari Sundoro MSc-PH, Executive Secretary Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) dalam Dialog Produktif ‘Tolak dan Tangkas Hoaks’ secara virtual yang diselenggarakan di Media Center Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Senin 7 Desember 2020.
Gerakan menentang vaksinasi atau imunisasi sebenarnya bukanlah hal baru dan terjadi di hampir seluruh belahan dunia.
Dia menyayangkan sejumlah dokter pernah menyebarluaskan keraguannya terhadap vaksinasi dengan memberikan klaim yang salah.
" Seharusnya dokter memegang peran penting untuk mensukseskan kampanye vaksinasi Covid-19 dan tidak terlibat dalam pusaran propaganda anti vaksinasi," tegasnya.
Dia tidak menampik ada sejumlah pernyataan dari dokter di Indonesia terkait vaksin. Menurutnya, ada yang sangat keliru bahkan menyesatkan.
" Di Indonesia, ada seorang patologi anatomi yang menyatakan secara imunologi ada sel memori tidak perlu disuntik, ini suatu hal yang keliru. Ada dokter ahli gizi menyatakan jika ada kuman disuntikkan kepada anak dengan daya tahan tubuh yang menurun, maka kuman itu akan menjadi aktif bahkan menginfeksi tubuh penerima," katanya.
Pernyataan terbaru dari seorang dokter yang mengatakan tidak perlu membuang uang untuk membeli vaksin. Karena tes PCR dinilai lebih efektif menangkal Covid-19.
" Beliau tidak paham kalau PCR itu dibutuhkan untuk screening penemuan kasus, vaksin untuk pencegahan. Basic saja dia tidak paham," tekannya.
Julitasari menjelaskan sejarah menunjukkan vaksinasi berperan dalam menangkal penyakit menular, mencegah kesakitan, dan kematian. Hal ini sudah terbukti baik di Indonesia maupun di dunia.
Pada abad 20 ini, vaksin karena berhasil mengeradikasi penyakit seperti cacar atau smallpox. Dengan adanya vaksinasi massal, Indonesia dinyatakan bebas cacar pada 1980.
Secara biologi, kata dia, vaksin merupakan virus atau bakteri yang dilemahkan. Sehingga dihasilkan kekebalan aktif saat dimasukkan ke tubuh manusia.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya