92% Masyarakat Tertib Pakai Masker tapi Cuci Tangan & Jaga Jarak Masih Rendah

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Senin, 28 September 2020 18:00
92% Masyarakat Tertib Pakai Masker tapi Cuci Tangan & Jaga Jarak Masih Rendah
"3M ini tiga komponennya harus berjalan paralel."

Dream - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis hasil survei perilaku masyarakat di masa pandemi Covid-19. Dari beberapa faktor yang diteliti, BPS menemukan 92 persen orang Indonesia yang disurvei sudah tertib dalam penggunaan masker.

" Persentase masyarakat menggunakan masker itu sebesar 92 persen, ini merupakan kabar menggembirakan," ucap Kepala BPS dr Suharyanto, saat memaparkan rilis surveinya, Senin 28 September 2020.

Laporan BPS juga menemukan tingkat kepatuhan masyarakat untuk mencuci tangan masih rendah yakni sebesar 75 persen. Sedangkan kepatuhan masyarakat untuk menjaga jarak sebesar 73,54 persen.

" Jadi dari temuan ini secara umum menggembirakan, tapi kita perlu memperhatikan, baik cuci tangan dan jaga jarak, kan 3M ini tiga komponennya harus berjalan paralel," jelas Suhariyanto.

 

1 dari 4 halaman

Pengguna Masker Meningkat

Menurut dia, penggunaan masker di September ini meningkat 8 persen dibanding April 2020. Tetapi yang perlu diperhatikan adalah, persentase cuci tangan dan jaga jarak justru mengalami penurunan.

" Jadi nampaknya ke depan kita perlu melakukan sosialisasi yang lebih supaya masyarakat terapkan 3M secara paralel, karena pakai masker tanpa jaga jarak enggak ada gunanya," ujarnya

Survei BPS ini dilakukan secara daring sejak 7 hingga 14 September 2020. Jumlah responden yang diwawancara sebanyak 90.967. 55 persen responden survei ini adalah perempuan dan 45 persen laki-laki.

Sebesar 69 persen responden berusia kurang dari 45 tahun dan 61 persen responden berpendidikan minimal strata satu (sarjana) ke atas.

 

2 dari 4 halaman

BPS: Penduduk Miskin Indonesia Naik 1,63 Juta

Dream - Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2020 sebesar 26,42 juta orang.

Angka itu meningkat 1,63 juta orang jika dibandingkan pada September tahun lalu atau meningkat 1,28 juta orang jika dibandingkan dengan Maret 2019.

" Jumlah penduduk miskin pada Maret 2020 sebesar 26,42 juta orang," kata Kepala BPS, Suhariyanto, dikutip dari Merdeka.com, Kamis 16 Juli 2020.

Secara persentase, penduduk miskin pada Maret 2020 sebesar 9,78 persen, meningkat 0,56 persen poin terhadap September 2019 dan meningkat 0,37 persen poin terhadap Maret 2019.

3 dari 4 halaman

Sementara, bila dilihat berdasarkan daerah tempat tinggal, pada periode September 2019 hingga Maret 2020, jumlah penduduk miskin di perkotaan naik sebesar 1,3 juta orang. " Persentase kemiskinan di perkotaan naik dari 6,56 persen menjadi 7,38 persen," kata Suhariyanto.

Di daerah perdesaan, jumlah penduduk miskin naik sebesar 333,9 ribu orang. Secara persentase penduduk miskin di perdesaan naik dari 12,6 persen menjadi 12,82 persen.

Sepanjang September 2019 hingga Maret 2020, peningkatan angka kemiskinan tertinggi ada di Provinsi DKI Jakarta. Dalam kurun waktu enam bulan terjadi peningkatan 1,11 persen poin. Semula 3,42 persen menjadi 4,53 persen pada Maret 2020.

Sementara itu penurunan tertinggi angka kemiskinan terjadi di Provinsi Sulawesi Tengah. Selama enam bulan turun 0,26 persen poin, yakni dari 13,18 persen menjadi 12,92 persen.

 

4 dari 4 halaman

Kemudian, persentase penduduk miskin terbesar pada Maret 2020 berada di wilayah Pulau Maluku dan Papua, yaitu sebesar 20,34 persen. Sementara itu, persentase penduduk miskin terendah berada di Pulau Kalimantan, yaitu sebesar 5,81 persen.

Namun dari sisi jumlah sebagian besar penduduk miskin masih berada di Pulau Jawa. Sebanyak 14,05 juta penduduk miskin ada di Pulau Jawa. Sedangkan jumlah penduduk miskin terendah berada di Pulau Kalimantan yakni sebanyak 97 ribu orang.

Beri Komentar