Gugur Karena Covid-19, Tak Ada Lagi Ultah ke-53 di Rumah Perawat Winarsih

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Jumat, 25 September 2020 14:01
Gugur Karena Covid-19, Tak Ada Lagi Ultah ke-53 di Rumah Perawat Winarsih
Winarsih tak bisa lagi berkumpul dengan keluarga untuk merayakan.

Dream - Tenaga medis yang berguguran saat menunaikan tugas menangani pasien Covid-19 di Surabaya kembali bertambah. Winarsih, seorang perawat di RSUD dr Soetomo meninggal setelah tiga minggu menjalani perawatan.

Meninggalnya Winarsih ini menambah jumlah tenaga medis di bagian perawat yang meninggal dunia di Jawa Timur menjadi 27 orang.

Gugurnya Winarsih terasa semakin pilu karena mendiang meninggal berselang dua bulan dari hari ulang tahunnya. Winarsih diketahui akan merayakan ulang tahunnya ke-53 pada 24 November mendatang ini. Namun perayaan itu dipastikan takkan bisa digelar sebab 21 September 2020 lalu, pukul 23.50 WIB, Winarsih dinyatakan meninggal dunia.

" Hal ini lah yang pernah ditanyakan oleh mama. Mas, saya kok bisa kena ya, bilangnya begitu usai mendapat kabar dari rumah sakit kalau beliau positif (covid-19)," ujar Ichlasul Amal Muhammad, putra kedua dari (alm) Winarsih, saat membuka pembicaraan dengan Merdeka.com.

1 dari 5 halaman

Tiga Kali Tes Rapid Reaktif

Hingga kini, pertanyaan Amal belum juga terjawab.

Di sisi lain, Amal menyebut sang mama tak pernah sekalipun mengeluh terkait dengan pekerjaannya. Meski demikian, di masa pandemi ini ia sempat mendengar kekhawatirannya saat menjalankan tugas.

" Ya beliau pernah mengungkapkan kekhawatirannya. Apalagi pada awal-awal Covid-19 itu, 3 kali rapid tes mama reaktif terus. Tapi setelah di Swab (tes usap) dua kali negatif dan baru yang terakhir dinyatakan positif," tambahnya.

 

2 dari 5 halaman

Mulai Muncul Gejala

Amal mengatakan, keluarga selalu mendukung keputusan yang dibuat sang mama. Ia menyebut, ayah maupun saudara-saudaranya, selalu mengingatkan sang mama agar terus menjaga kebugaran jasmaninya.

" Kita selalu ingatkan mama agar tidak lupa mengkonsumsi vitamin dan melakukan protokol kesehatan. Kita selalu suport beliau," tegasnya.

Meski telah berusaha, namun takdir berkata lain. Usai bertugas jaga malam, sang mama mulai jatuh sakit. Gejala yang dirasakan sang mama adalah demam tinggi selama hampir 1 minggu lamanya.

Lalu, sang mama mulai mengeluhkan hilangnya indra perasa dan penciuman. Bahkan, meski tengah menghirup minyak kayu putih yang tengah dipegangnya, ia sama sekali tak mencium aroma khas dari minyak tersebut.

Dari sinilah, sang mama mulai merasa curiga dengan kondisi klinisnya. Hal itu pun sempat diutarakan pada sang anak.

" Habis jaga tanggal 25 Agustus itu besoknya Mama badannya panas atau demam. Beliau mengeluh ke saya, Mas Mama tidak bisa mencium, sambil menempelkan minyak kayu putih di hidung. Dari situ mama mulai curiga aku covid aku covid. Pemikirannya Mama masih kayak gitu. Tapi sama keluarga disupport masih sehat masih sehat," tukasnya.

3 dari 5 halaman

Sempat Kontak Dengan OTG dan ODP

Usai dinyatakan positif terpapar virus corona, sang mama lalu menjalani isolasi dan perawatan di rumah sakit dr Soetomo. Di ruang isolasi pada minggu pertama, sang mama masih bisa berkomunikasi dengan keluarga melalui handphone yang dipegangnya.

Pada saat itu, sang mama diakuinya memiliki semangat yang luar biasa untuk bisa sembuh. Ia pun seringkali meminta pada keluarga agar tetap sabar dan tabah mendapatkan cobaan ini.

" Saat chating atau pun video call, mama sering menyemangati dirinya. Ia juga sempat meminta doa pada keluarga, agar dapat melewati masa kritis ini," tandasnya.

Namun sayang, takdir berkata lain. Sang mama harus kembali ke sang Khalik. Sebab, penyakit akibat virus corona ini, telah merenggut nyawa salah satu perawat senior di RSUD dr Soetomo ini. Keluarga pun mengaku telah ikhlas dengan kepergian Winarsih.

" Sejak pertama kali dirawat hingga sekarang, saya belum pernah ketemu lagi," kata Amal.

4 dari 5 halaman

Cobaan Lain Didera Keluarga Winarsih

Cobaan yang dialaminya ternyata belum berhenti. Sebab, dua dari tiga anak Winarsih ternyata turut tertular virus corona. Namun, pada minggu lalu, satu anak dinyatakan sudah negatif dari hasil tes usap, sedangkan satu anak lagi masih dinyatakan positif.

" Kakak saya sudah dinyatakan negatif. Sedangkan saya masih positif. Sehingga masih harus menjalani isolasi mandiri di rumah sampai saat ini," tutur Amal.

Lalu dari mana sang mama tertular virus corona, mahasiswa jurusan Radiologi Unair ini mengaku hingga kini tak mengetahuinya. Sebab, sepanjang pengetahuannya, sang mama tak pernah bertugas merawat pasien covid-19.

Namun, sang mama pernah bercerita, jika pada saat bertugas di Poli Anak, ia mengaku pernah bertemu dengan orang-orang yang berstatus OTG (Orang Tanpa Gejala) maupun ODP (Orang Dalam Pemantauan).

5 dari 5 halaman

Ingatkan Masyarakat Untuk Patuh Protokol Kesehatan

Amal pun memiliki pesan khusus untuk masyarakat. Ia meminta pada masyarakat agar tertib dan jujur soal Covid-19 ini. Sebab, ketertiban dan kejujuran masyarakat ini, akan dapat menyelamatkan orang lain, termasuk diantaranya para tenaga medis.

" Untuk masyarakat umum supaya tertib dan jujur agar tenaga medis bisa selamat. Kalau masyarakat umumnya dia ndablek (nakal) semua orang termasuk tenaga medis itu akan kena imbasnya juga," jelasnya.

" Semoga masyarakat umum lebih peduli bahwa virus ini benar-benar ada dan saya merasakan sendiri dan jangan menyepelekan juga, karena ini bisa membuat nyawa melayang apalagi khusus anak-anak muda yang banyak cangkruk, itu jangan dulu lah kasihan orang tua nanti rentan kena. Tolong hormati lah orang tua kalian," tutupnya.

Sumber: Merdeka.com

Beri Komentar