5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
Sisa Makanan (Shutterstock.com)
Dream - Jumlah makanan yang ada di dunia ternyata lebih banyak berakhir dengan membusuk di tempat sampah. Banyak makanan terbuang sia-sia dan akhirnya justru mencemari lingkungan.
Program Lingkungan PBB (UNEP) bersama organisasi mitra, WRAP, merilis Food Waste Index Report 2021. Laporan itu memuat sejumlah temuan terkait lingkungan.
Dalam laporan itu disebutkan sebanyak 931 juta ton makanan terbuang sia-sia sepanjang 2019. Jumlah ini hampir seperlima dari total produksi makanan di dunia.
Artinya, sebanyak 61 persen makanan rumahan tidak dikonsumsi hingga habis. Jumlah ini tidak termasuk bahan makanan yang terbuang akibat proses produksi atau tersimpang di gudang tanpa pernah sampai ke konsumen.
" Kalau kita mau serius menangani perubahan iklim, alam, mengurangi polusi dan sampah, pemerintah, pengusaha, dan warga dunia harus mengambil peran untuk mengurangi sampah makanan," ujar Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen, dikutip dari UN News.
Meskipun sampah makanan menjadi masalah di hampir kebanyakan negara kaya, laporan ini mendapati fakta serupa terjadi di seluruh negara. Terlebih pada negara-negara miskin.
Studi tersebut menunjukkan rumah tangga menghasilkan limbah makanan hingga 11 persen. Sementara pada layanan makanan dan toko retail menyumbang 5,2 persen sampah.
Ini membawa dampak substansial bagi lingkungan, sosial maupun ekonomi. Sekitar 8-10 persen gas emisi rumah kaca global dihasilkan dari makanan yang tidak terkonsumsi.
" Mengolah kembali sampah makanan akan memangkan emisi gas rumah kaca, memperlambat kerusakan alam di samping karena alih fungsi lahan dan polusi, meningkatkan ketersediaan makanan dan dengan demikian mengurangi kelaparan sekaligus menghemat uang pada saat resesi global," kata Andersen.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?