Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Manat Hiras Panjaitan
Dream - Lelaki berambut perak itu mengenakan kemeja berwarna biru. Sembari duduk dengan suara bergetar ia memperkenalkan diri. Jari tengahnya menutupi lubang di leher miliknya.
" Nama saya Manat Hiras Panjaitan. Dokter mengatakan bahwa kanker di pita suara sudah stadium 4A. Setelah diangkat, dia bilang inilah akibat dari merokok karena nikotin dan tar. Yang belum merasakan sakitnya, yang sekarang masih merokok. Berhentilah merokok sebelum rokok menikmati Anda."
Pria yang akrab disapa Panjaitan itu tak lain adalah sosok bintang iklan layanan masyarakat untuk kampanye bahaya asap rokok. Kamis, 5 November 2016 malam, dengan didampingi sang istri, Bertha, mendatangi pameran fotografi bertema 'Kolase Bicara: Kisah Para Korban Rokok' yang diadakan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dengan dua lembaga anti rokok Smoke Free Agent dan World Lung Foundation.
Seusai acara, Bertha berbagi kisah kepada Dream mengenai kondisi suaminya. Ia bercerita kronologi mengapa suaminya harus dioperasi.
" Awalnya karena dia enggak ada suara. Kemudian merasakan sesak di bagian leher sehingga harus dioperasi. Jadi sekarang nafasnya dari lubang di leher itu bukan dari hidung," jelasnya.
Menurutnya, pada awal-awal setelah operasi suaminya menjadi sosok yang emosional. Pesan yang kerap tak dipahami Bertha jadi alasannya.
" Apa-apa bawaannya emosi. Ya, saya kan enggak ngerti maunya apa, soalnya setelah dioperasi itu kan nggak bisa ngomong. Akhirnya diputuskan menggunakan tulisan," jelasnya.
Kemampuan bicara Panjaitan perlahan pulih setelah berlatih bicara di RS dr. Cipto Mangunkusumo. Namun, bagi Bertha proses pemulihan itu memakan waktu yang tak sebentar.
" Butuh setahunan untuk terapi. Di masa-masa itulah kondisinya lebih emosional," jelasnya.
Keluarga Tanpa Rokok
Dampak merokok yang mengakibatkan Panjaitan menderita kanker pita suara menjadikan cambuk bagi anak-anaknya yang merokok. Mengetahui bahaya asap rokok, anak-anaknya perlahan mulai meninggalkan gulungan tembakau itu.
Itu dialami sendiri oleh seorang peserta proyek Kolase Bicara: Suara Tanpa Rokok Ana Wijayanti. Mahasiswi Jurusan Pariwisata Universitas Negeri Jakarta itu mendengar jika lubang di leher Panjaitan mengubah pola hidup keluarganya.
" Anak-anak dan menantu Pak Panjaitan jadi tersadar bahaya asap rokok. Pak Panjaitan jadi korban nyata. Mereka kini lebih waspada mengenai asap rokok," jelas gadis berkerudung itu.
Ana yang selama hampir sepekan intens berkunjung ke rumah Panjaitan di Depok sempat mengabadikan momen yang mengernyitkan dahi. Momen yang diabadikan Ana, diambil saat Panjaitan membersihkan lubang di lehernya menggunakan 'cottonbud'.
" Momen itu sangat spesial menurut saya. Demi menjaga higienisitas, setiap dua hingga tiga kali sehari Pak Panjaitan membersihkan lubang itu. Cukup serem sih, tapi ya begitulah (dampak rokok)," katanya.
Bagi Panjaitan sendiri rokok kini seolah jadi kutukan. Untuk itu dirinya kini aktif berkampanye anti rokok. Cita-cita yang dia ingin bagi sederhana, " Jangan sampai Anda dan generasi muda lainnya jadi korban. Biar saya saja (yang jadi korbannya)," harapnya
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya