Membangun Benteng Alam Penahan Tsunami

Reporter : Maulana Kautsar
Kamis, 15 Agustus 2019 10:00
Membangun Benteng Alam Penahan Tsunami
Hutan manggrove mengurangi dampak kerusakan akibat tsunami.

Dream - Sejumlah cara dilakukan untuk mengurangi dampak tsunami. Salah satunya dengan membangun benteng alam dari pepohonan yang bisa tumbuh di pantai.

" Selain tanaman bakau, bisa juga menanam pohon cemara udang, cemara laut, pohon pule dapat juga mengurangi dampak dari tsunami," ucap Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo, di pantai Galau Labuan, Pandeglang, Banten, Rabu 14 Agustus 2019.

Selain menanam bakau di sepuluh desa di empat kecamatan di Pandeglang, BNPB juga memasang rambu rawan tsunami. Doni mengucap terima kasih kepada masyarakat sekitar yang telah mengikuti simulasi untuk meningkatkan budaya sadar bencana.

" Semoga Allah SWT menjaga kita semua dan tidak diberikan cobaan bencana besar," ucap dia.

1 dari 5 halaman

Menjaga Kawasan Strategis

 Penanaman bakau

Penanaman bakau

Doni menganjurkan perangkat daerah untuk menjaga kawasan strategis ini. Salah satu caranya, tidak membuang limbah ke laut.

" Saya anjurkan anak-anak dan para ibu untuk mengkonsumsi ikan yang banyak, agar sehat. Wilayah ini terkenal dengan hasil ikannya yang berlimpah, supaya anak-anak menjadi cerdas dan kuat," kata Doni.

Bupati Pandeglang, Irna Nuralita, mengatakan, pemerintah daerah terus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menjadi lebih peduli terhadap potensi bencana.

" APBD Pandeglang juga ada untuk penanggulangan bencana. Selain itu,mengajak dunia usaha seperti hotel, villa, untuk berperan juga menambahkan lampu sorot ke laut, untuk mengurangi korban bencana tsunami," ucap Irna

2 dari 5 halaman

Viral Potensi Gempa 8,8 Magnitudo dan Tsunami 20 M, Ini Kata BMKG

Dream - Pakar tsunami Badan Pengkajian Penerapan (BPPT) Widjo Kongko, memperkirakan gempa megathrust sebesar 8,8 magnitudo berpotensi terjadi di selatan Pulau Jawa. Gempa tersebut diperkirakan akan menimbulkan gelombang tsunami 20 meter.

"Ada segmen megathrust di sepanjang selatan Jawa hingga ke Sumba di sisi timur dan di selatan Selat Sunda," kata Widjo, kepada Liputan6.com, Rabu, 18 Juli 2019.

Merespon prakiraan itu, Deputi Bidang Geofisika, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Muhamad Sadly, menyebut, Indonesia sebagai wilayah aktif gempa bumi memiliki potensi gempa bumi yang dapat terjadi kapan saja dan dalam berbagi kekuatan.

BMKG, kata dia, tidak pernah mengeluarkan informasi prediksi. Menurut Sadly, pernyataan yang dikeluarkan ahli BPPT adalah potensi gempa dan tsunami bukan prediksi waktu terjadinya bencana alam paling merusak itu.

"Berdasarkan kajian para ahli bahwa zona megathrust Selatan Jawa memiliki potensi gempa dengan magnitudo maksimum 8,8 M. Tetapi ini adalah potensi bukan prediksi, sehingga kapan terjadinya tidak ada yang tahu," ucap Sadly.

      View this post on Instagram

Siaran Pers: Merespon keresahan masyarakat pantai selatan Jawa, akan terjadinya gempabumi dengan kekuatan 8,8 yang diikuti tsunami setinggi 20 meter di pantai Cilacap, Yogyakarta sampai Jawa Timur, berikut info resmi dari BMKG. #SiaranPers #BMKG #Cilacap

A post shared by BMKG (@infobmkg) on 

Sadly mengatakan, untuk merespon potensi tersebut masyarakat harus melakukan upaya mitigasi struktural dan non-struktural dengan membangun bangunan aman gempa. Selain itu masyarakat juga diminta melakukan tata ruang pantai yang aman tsunami serta menambah kemampuan masyarakat mengenai bumi dan tsunami.

"Masyarakta diimbau untuk tetap tenang dan tidak terpancing isu yang beredar," ucap dia.

3 dari 5 halaman

Sejarah Membuktikan

Sementara itu, Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono mengatakan, harus mengakui potensi dan kerawanan gempa di wilayah selatan Jawa. Tetapi, dia enggan mengakui prediksi yang disampaikan Widjo.

" Besarnya magnitudo gempa yang disampaikan para pakar adalah potensi bukan prediksi, sehingga kapan terjadinya tidak ada satupun orang yang tahu," kata dia.

Daryono meminta masyarakat tidak cemas. Dia menyebut, wilayah Samudra hindia selatan Jawa sudah kerap terjadi gempa besar dengan kekuatan di atas 7,0 magnitudo.

" Sejarah mencatat daftar gempa besar seperti gempa Samudra Hindia tahun1863,1867, 1871, 1896, 1903, 1923, 1937, 1945,1958, 1962, 1967, 1979, 1980, 1981, 1994, dan 2006," tulis Daryono di Twitter resmi BMKG.

Sementara itu tsunami Selatan Jawa juga pernah terjadi pada tahun 1840, 1859, 1921, 1994, dan 2006. " Ini bukti bahwa informasi potensi bahaya gempa yang disampaikan para ahli adalah benar bukanlah berita bohong," kata dia.

4 dari 5 halaman

Temuan Mengejutkan dari Gempa Bali Kemarin

Dream - Gempa 5,8 magnitudo melanda Bali pada Selasa, 16 Juli 2019. Gempa tersebut disebut memberi pesan aktifnya zona subduksi lempeng selatan Bali.

" Gempa ini menjadi alarm pengingat bahwa kita patut waspada. Manifestasi sikap waspada dapat diwujudkan dengan membenahi upaya mitigasi secara menyeluruh, baik upaya mitigasi struktural maupun non struktural," kata Kepala Bidang Informasi Gempa bumi dan Peringatan Dini Tsunasmi, BMKG, Daryono, Kamis, 18 Juli 2019.

Daryono menyebut, saat terjadi gempa, pusat gempa tidak bereda di kerak benua. Pusat gempa berada di zona slab interface.

" Artinya gempa ini berada di bidang kontak antar lempeng yang populer disebut sebagai interplate earthquake," ucap dia.

5 dari 5 halaman

Picu Tsunami?

 Gempa Bali Buat Gapura ITDC Rontok dan Kolam Renang Bergetar

Daryono menyebut, kondisi gempa tersebut masih wajar. Sebab, hiposenternya terletak di zona transisi Megathrust-Benioff.

Sumber murni sesar yang bergerak naik (thrust fault) biasanya berada di zona megathrust, yang punya kedalaman lebih dangkal.

Gempa yang terjadi di Bali kemarin, lanjut dia, memberikan pesan bahwa zona subduksi lempeng selatan Bali masih aktif dan mampu memicu gempa signifikan.

Sejarah mencatat, gempa di zona subduksi pernah terjadi pada 21 Januari 1917. Gempa itu terjadi pada pagi pukul 06.50 WITA.

Gempa itu mengakibatkan 1.500 orang meninggal, bangunan rumah dan istana rusak, sebanyak 64.000, serta 10.000 lumbung beras rusak, serta 2.431 pura termasuk Pura Besakih.

Menurut Daryono, gempa ini, kata ilmuwan Soloviev, memicu tsunami setinggi 2 meter di Klungkung hingga Benoa.

(Sah, Sumber: Liputan6.com/Muhammad Ali)

Beri Komentar
Terima Kritik Pedas, Nada Zaqiyyah: Ternyata Adik Kelas Aku Sendiri