Mitos Tanjung Pakis, Lokasi Jatuhnya Lion Air JT610

Reporter : Idho Rahaldi
Rabu, 31 Oktober 2018 10:37
Mitos Tanjung Pakis, Lokasi Jatuhnya Lion Air JT610
`Area jatuhnya pesawat sering terjadi kejadian aneh, dianggap area yang berbahaya dan harus dihindari nelayan,` kata seorang nelayan.

Dream - Pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkalpinang yang membawa 189 orang penumpang dan awak jatuh di perairan Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat, Senin 29 Oktober 2018.

Tanjung Pakis berada di wilayah utara Kabupaten Karawang atau masuk dalam kawasan pantai utara (Pantura) Laut Jawa. Sejak peristiwa jatuhnya pesawat Lion Air, nama Tanjung Pakis atau Tanjung Karawang mulai dikenal.

Tanjung Pakis adalah lokasi yang biasa digunakan nelayan setempat untuk mencari udang serta memancing. Tempat itu dikenal sebagai tempat yang sangat banyak ikan dengan berbagai spesies.

Namun siapa yang menyangka jika keberadaan Tanjung Pakis dahulu adalah tempat yang sangat jarang terjamah orang.

" Dulunya sekitar tahun 90-an di lokasi jatuhnya pesawat , nelayan tidak berani ke titik jatuhnya pesawat karena terbilang angker," kata Dadang, nelayan setempat, Selasa 30 Oktober 2018, seperti dilansir Liputan6.com. 

Lelaki 52 tahun ini mengatakan di lokasi itu merupakan berkumpulnya ikan-ikan besar seperti ikan hiu tutul, dan spesies lain. Sehingga nelayan sekitar tidak berani melintasi lokasi tersebut saking banyaknya ikan besar.

" Area di mana jatuhnya pesawat sering terjadi kejadian aneh, sehingga dianggap area yang berbahaya dan harus dihindari oleh nelayan," katanya.

Hal senada juga dikatakan warga setempat, Boros, memang dulu sering terjadi kapal nelayan terbalik di area jatuhnya pesawat dan korbannya hilang misterius, sehingga dianggap angker oleh warga dan nelayan sekitar .

" Menurut cerita orang tua dulu memang dianggap angker, nelayan tidak berani mencari ikan dilokasi tersebut," tutur Boros.

Seiring waktu berjalan, kata Boros, sekarang lokasi jatuhnya pesawat dengan kedalaman 30 meter itu menjadi tempat mencari ikan para nelayan dan warga untuk memancing di area itu.

Di area tersebut itu menjadi tempat mencari ikan udang bagi nelayan dan warga sekitar juga kerap memancing ikan di lokasi.

" Sekarang banyak warga dan nelayan mencari ikan ke lokasi itu karena ikan udang cukup banyak ditemukan ditempat itu," tambah Boros.

Nelayan sekitar wilayah Tanjung Pakis sering memanfaatkan lokasi itu untuk mencari ikan, karena kesan mistis seperti dulu tidak lagi dirasakan Masayarakat sekitar. Malah jarang ditemukan ikan-ikan besar seperti hiu di lokasi itu, yang ada hanya ikan-ikan kecil.

" Sekarang sudah tidak lagi dianggap angker oleh nelayan, malah sering menjadi tujuan untuk mencari ikan udang dengan sampan-sampan ukuran kecil," pungkasnya.

(ism, sumber: Liputan6.com)

1 dari 2 halaman

Begini Kehidupan Pilot Lion Air JT610 Sebelum Jatuh ke Laut

Dream - Diwali selalu menjadi hari istimewa bagi keluarga Bhavye Suneja. Mereka punya tradisi menunggu pilot itu dengan penuh suka cita. Namun tidak tahun ini.

Saat perayaan besar itu tinggal menghitung hari, mereka mendapat kabar duka.

Tradisi suka cita itu berubah duka. Bhavye yang selalu ditunggu tak akan pulang. Pilot berusia 31 tahun itu jatuh bersama Lion Air JT-610 yang dia kendalikan. Bhavye tak akan pulang dengan senyum, seperti tahun yang sudah-sudah.

Keluarga yang tinggal di Delhi, India, itu terguncang. Mereka berusaha menguatkan hati untuk menerima kabar dari Indonesia. Sang ibunda, Sangeeta Suneja, berurai air mata. Sambil menangkupkan tangan, dia meminta wartawan di depan rumah mereka di Mayur Vihar untuk berdoa.

“ Mohon berdoa untuk kami,” kata Sangeeta Suneja, sebagaimana dikutip Dreamdari laman News 18, Selasa 30 Oktober 2018.

Salah seorang tetangga, Anil Gupta, yang mengaku selalu bermain bersama Bhavye saat masih kecil, mengatakan bahwa Sangeeta tengah berangkat kerja saat mendengar kabar kecelakaan pesawat berisi 189 orang itu.

“ Ibunya sedang berangkat bekerja saat mereka mendengar kabar kecelakaan pesawat dan sejak itu, mereka berharap Bhavye baik-baik saja,” tutur Gupta.

2 dari 2 halaman

Tunggu Hasil DNA, Belum Ada Korban Lion Air JT610 Teridentifikasi

Dream - Tim DVI (Disaster Victim Identification) Mabes Polri hingga hari kedua kecelakaan Lion Air JT610 belum dapat mengidentifikasi korban pesawat yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat itu. 

Kapusdokkes Polri, Brigjen Arthur Patim, mengatakan proses dari 87 potongan tubuh yang diterima dalam 24 kantong jenazah, belum ada satupun yang teridentifikasi hingga Selasa (30 Oktober 2018) sore.

" Hari ini belum bisa identifikasi satu pun korban dari 24 kantong jenazah yang kita terima sampai siang tadi," kata Arthur, di RS Polri Kramat Jati, Jakarta, Selasa 30 Oktober 2018.

Dalam proses pengenalan jenazah, Arthur menyebut Tim Forensik Polri telah mendapatkan 185 data ante-mortem. Dari jumlah itu, sebanyak 147 sudah diambil sampel DNA.

Arthur menjelaskan belum adanya jenazah yang teridentifikasi lantaran masih menunggu hasil tes DNA. Uji DNA dibutuhkan untuk memastikan kecocokan fisik antara korban dengan keluarga.

" Paling cepat empat hingga delapan hari," ujar dia.

Hingga berita ini dibuat, dilaporkan sebanyak 35 kantong jenazah telah diterima RS Polri.

Sementara itu Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi berharap proses identifikasi DNA dan sidik jari berjalan baik. Budi menilai pekerjaan ini penting untuk proses identifikasi dan penyerahan jenazah korban ke keluarga.

" Bersama dengan itu juga tes DNA dan sidik jari penting banget untuk berikan suatu dasar bukti bagi jasa raharja berikan asuransi," ujar Budi.

Managing Director Lion Group, Daniel Putut Kuncoro Adi, berjanji memberikan informasi terkini kepada keluarga korban

" Kami akan sampaikan info-info ter-update sehingga tidak ada info simpang siur," ujar Daniel.

Daniel mengatakan saat ini terdapat 209 keluarga korban yang mencari informasi di RS Polri. Pihaknya telah menyiapkan fasilitas penginapan, akomodasi dan transportasi bagi keluarga korban hingga proses identifikasi selesai.

" Kami imbau keluarga korban yang masih belum teridentifikasi tidak berlama-lama di sini. Jadi kami persilakan tunggu di hotel. Kami siapkan family assistant sebanyak 180 orang," kata Daniel.(sah)

Beri Komentar
Ria Irawan Larang Rano Karno Jenguk Dirinya, Kenapa?