Nostalgia Bermain Meriam Bambu Saat Puasa

Reporter : Maulana Kautsar
Jumat, 17 Mei 2019 04:02
Nostalgia Bermain Meriam Bambu Saat Puasa
Harus dalam pengawasan orangtua.

Dream - Bocah kecil itu tertawa mendengar bambu yang meledak. Satu bambu dia dekati.

" Boom!" suara kencang itu dibarengi semburan api.

Bocah itu terkaget. Dia menghampiri bocah lain yang memantik meriam bambu.

Si pemantik ogah disalahkan. Bocah kecil yang terkena semburan suara itu akhirnya menangis.

Aksi bermain meriam bambu itu muncul di berbagai media sosial. Permainan yang punya banyak sebutan, long bumbung di Jawa Tengah atau Lodong di kalangan masyarakat Sunda.

Ada pula yang menyebut mercon bumbung. Atau di kawasan Banyumas, disebut dengan jeblugan.

Tapi, beragam penamaan itu mengarahkan pada satu obyek. Sebuah bambu yang sudah dilubangi di bagian tengah dan ujung atasnya. Digunakan untuk menjadi wadah minyak tanah atau karbit sehingga memunculkan letusan.

Permainan ini biasanya marak dimainkan saat berbuka. Tapi, di beberapa daerah, permainan meriam bambu ini juga digunakan untuk menandai waktu imsak.

Di daerah pedesaan Minangkabau, meriam bambu masih banyak dimainkan warga dari pinggir sungai untuk menandai waktu sahur.

Meski kerap dikorelasikan dengan waktu berbuka dan imsak, di beberapa daerah, meriam bambu digunakan untuk menandai waktu-waktu khusus.

Di Aceh dan Flores misalnya, meriam bambu digunakan untuk menandai kelahiran anak. Tak jarang, meriam bambu dimainkan untuk menyambut hari besar.

Meski tak berbahaya, permainan ini harus tetap dalam pengawasan orangtua. Sebab, permainan ini menggunakan api sebagai pemantik. (ism) 

Beri Komentar
Pengakuan Mencengangkan Aulia Kesuma, Dibalik Rencana Pembunuhan Suami dan Anak Tirinya