Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Seakan belajar dari kasus cokelat Cadbury beberapa saat lalu yang disebut mengandung DNA babi, kini sebuah alat pendeteksi bahan non-halal kabarnya tengah dikembangkan oleh tim peneliti University of Selangor (Unisel) Malaysia. Alat ini konon memudahkan umat muslim di Malaysia untuk mengetahui kandungan makanan yang akan dibelinya.
Alat pendeteksi ini sebenarnya bukan alat baru untuk para peneliti di Negeri Jiran tersebut. Namun yang membedakan alat baru ini telah mengusung penggunaan teknologi sensor nano.
Dalam proses pengembangan alat pendeteksi ini, Unisel kabarnya tengah mempertimbangkan untuk menjadikan alat ini sebagai yang paling maju dibandingkan pendeteksi lainnya. Di samping dengan bentuk yang lebih kecil tetapi mampu menawarkan hasil pengujian yang akurat sama halnya dengan uji laboratorium.
" Alat pendeteksi ini merupakan pengembangan dari alat sebelumnya yang hanya mampu mendeteksi kandungan DNA babi," ucap Wakil Rektor Unisel, Professor Doctor Anuar Ahmad seperti dilansir Amilin Post, Rabu 27 Agustus 2014.
Lebih lanjut Ahmad menyebut hasil pengujian alat ini dapat menghemat biaya pengujian laboratorium hingga ribuan Ringgit. Selain dapat mendeteksi kandungan bahan haram pada makanan, alat ini diharapkan juga dapat digunakan untuk mendeteksi kandungan bahan pada kosmetik dan obat-obatan.
Berbeda dengan alat uji laboratorium yang rumit, konsumen dapat lebih mudah menggunakan alat ini untuk menguji kandungan bahan non-halal. Cukup memasukkan dan melarutkan sampel dalam waktu sekitar 10 detik.
Setelah larut, sensor elektronik yang tertanam dalam alat ini akan mendeteksi dan menghasilkan lampu neon sesuai kadar kandungan bahan non-halal hingga batas terendah yakni 0,001 persen. Untuk proses pengujian ini, pengguna hanya memerlukan waktu sekitar dua menit.
Demi mengembangkan alat canggih ini, pihak Unisel mengaku telah mendapatkan suntikan dana sekitar 1,3 Ringgit Malaysia dari Pemerintah Selangor. Tim peneliti berharap proyeknya ini akan rampung pada bulan Desember 2015 dan siap diujicoba untuk digunakan secara massal.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya