Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Pemakaman Jenazah Covid-19 (Merdeka.com/Arie Basuki)
Dream - Fakta penolakan pemakaman jenazah Covid-19 menimbulkan keprihatinan banyak pihak. Padahal, para jenazah tersebut tidak sedang terkena azab namun justru dipandang buruk orang mereka yang masih hidup.
Fakta tersebut membuat hati pengusaha muda asal Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, Mardani H Maming tergerak. Melalui Yayasan Haji Maming, dia menyiapkan tanah khusus untuk jenazah tenaga medis terjangkit Covid-19 yang mengalami penolakan.
Lokasi tanah itu berada di Cappa Padang, Kelurahan Batu Licin, Kecamatan Batu Licin. Tepatnya di Komplek Pemakaman Alkah Haji Maming
" Kalau ada warga Tanah Bumbu yang menolak, makam Haji Maming siap menerima untuk dokter dan perawat," kata Mardani melalui keterangan tertulis.
Pengusaha yang juga Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) ini merasa prihatin dengan banyaknya penolakan pemakaman jenazah Covid-19 yang terjadi di Jawa. Dia tak ingin hal itu terjadi di tanah kelahirannya.
" Mereka yang meninggal dunia karena corona itu bukan aib. Mestinya tidak perlu ada penolakan seperti itu," jelas Mardani.
Tak hanya untuk tenaga medis, Mardani juga menyiapkan lahan khusus untuk pemakaman jenazah pasien Covid-19. Lahan seluas 2 hektare ini berlokasi di Desa Sungai Dunia.
" Untuk yang umum di situ. Ada 2 hektare. 1 hektare untuk makam warga Muslim, dan 1 hektare sisanya untuk warga Kristen dan Konghucu. Itu tanahnya hibah dari Yayasan Haji Maming," jelas mantan Bupati Tanah Bumbu tersebut.
Dream - Sebagian negara yang terdampak wabah Covid-19 mengeluarkan aturan bahwa warga yang kembali dari luar negeri harus dikarantina selama 14 hari sebelum dapat bersatu kembali dengan keluarga mereka.
Ini adalah langkah sangat penting untuk memastikan Covid-19 tidak menyebar lebih jauh lagi. Tapi masih ada saja warga negara yang tak taat aturan sehingga berakibat fatal bagi anggota keluarganya.
Sebuah kasus di Thailand membuktikan betapa pentingnya karantina mandiri dan mengapa kita harus benar-benar mematuhi aturan yang ditetapkan oleh pemerintah.
Menurut laman The Nation, seorang wanita Thailand menularkan virus corona penyebab Covid-19 kepada ibunya setelah menolak untuk mengkarantina dirinya sendiri seusai pulang dari luar negeri.
Membagikan kisahnya di Facebook, Dr Opass Putcharoen, kepala Emerging Infectious Diseases Clinical Center di Chulalongkorn University, mengatakan, sebagian besar orang yang datang dari luar negeri terkadang tidak menunjukkan gejala atau tanda-tanda infeksi awal tertular virus corona.
Karenanya banyak dari mereka yang kembali dari luar negeri memutuskan untuk tidak mengkarantina diri mereka sendiri. Seperti wanita dalam kasus ini yang tidak menunjukkan gejala meski dirinya adalah carrier (pembawa) virus corona dari luar negeri.
Seolah tidak terjadi apa-apa, wanita ini langsung pulang ke rumah dan berbaur dengan ibunya. Akibatnya, sang ibu tertular virus darinya tanpa disadarinya.
Wanita itu baru mulai menunjukkan gejala beberapa hari kemudian, tetapi saat itu sudah terlambat. Ibunya sudah terlanjur terinfeksi.
Sang ibu sepertinya menderita flu selama enam hari meskipun hasil rontgen paru-parunya tampak normal.
Namun, ia mengalami kesulitan bernapas beberapa hari kemudian dan harus dirawat di unit perawatan intensif (ICU).
Dr Opass kemudian menekankan pentingnya karantina sendiri dan mendesak semua orang untuk mematuhi aturan yang ditetapkan oleh pemerintah.
Walaupun kasus ini terjadi di Thailand, ini bisa terjadi di Indonesia juga. Semua tergantung kita untuk menurunkan jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia.
Jadi, belajar dan bekerja dari rumah. Patuhi anjuran social distancing dan lakukan karantina sendiri jika baru pulang dari luar negeri.
Sumber: World of Buzz
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya