Polisi Lepaskan Pencuri Roti, Alasannya Mengharukan

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 26 Juni 2019 10:00
Polisi Lepaskan Pencuri Roti, Alasannya Mengharukan
Si pencuri itu terpaksa mengambil roti karena anaknya belum makan.

Dream - Berprofesi sebagai polisi punya tanggung jawab besar. Seorang polisi wajib menjadi penegak hukum sekaligus pemberantas segala kejahatan.

Tetapi, ada kalanya para polisi berhadapan dengan situasi 'abu-abu' antara menegakkan hukum atau mengedepankan kemanusiaan. Salah satunya ketika berhadapan dengan pencuri yang kelaparan.

Seperti yang dialami petugas kepolisian Penang, Malaysia, Muhammad Azizan. Dia dan rekan seprofesinya memutuskan untuk melepaskan seorang bapak yang mencuri roti di sebuah toko.

Dikutip dari World of Buzz, Rabu 26 Juni 2019, kisah ini viral di media sosial belakangan setelah Azizan mengunggahnya di Facebook. Banyak netizen tersentuh saat menyimak kisah tersebut.

" Sekali waktu, ketika sedang tugas ada panggilan dari gerai Tesco melaporkan mereka telah menangkap pencuri dan meminta polisi membawanya," tulis Azizan.

Ketika tiba di ruang keamanan toko, Azizan melihat ada pria duduk di kursi. Sedangkan di atas meja ada dua bungkus roti.

" Kami diberitahu bahwa dia mencoba mencuri roti yang harganya tidak sampai 10 ringgit (setara Rp34 ribu)," kata dia.

1 dari 5 halaman

"Anak Saya Belum Makan Nasi Dua Hari"

Azizan tidak percaya dengan keinginan pihak pengelola ritel. Dia kembali bertanya kepada petugas keamanan apakah serius hendak memenjarakan pencuri yang mengambil barang dengan nilai sangat kecil.

" Petugas keamanan hanya berkata itu sudah perintah dari atasannya sehinga kami tak punya pilihan untuk membawa pelaku ke kantor polisi," ucap dia.

Saat dalam perjalanan menuju kantor polisi, dia menanyai pelaku mengapa sampai mencuri roti. Jawaban pencuri itu membuat hati teraduk-aduk.

" Anak saya belum makan nasi dua hari, saya hanya bisa membelikannya biskuit seharga 20 sen," kata Azizan menirukan ucapan pencuri itu.

2 dari 5 halaman

Teganya Pengelola Toko

Saat tiba di kantor polisi dan petugas keamanan toko hendak membuat laporan, atasan Azizan, Sersan Mayor Sharudin datang. Mendengar kisah pencurian itu, dia meminta petugas keamanan agar atasannya datang ke kantor polisi.

Saat pengelola toko datang, Sharudin menegurnya. Polisi itu mengatakan situasi si pencuri sangat memilukan.

Tetapi, pengelola toko justru mengatakan ke pelaku jika ingin kasus itu ditutup dia harus mengeluarkan uang 10 kali lipat dari harga barang yang dicuri. Mendengar itu, Sharudin segera membayarkan uang kepada pengelola toko.

Si pencuri seketika berlutut di kaki Sharudin dan menangis. Dia terharu dengan kebaikan polisi itu.

 

3 dari 5 halaman

Ujian Tuhan

" Sekarang Tuhan tidak sedang menguji kamu tapi Dia menguji saya. Dia ingin melihat apa yang bisa saya lakukan untuk menolong saudara saya yang membutuhkan," kata Sharudin.

Kepada polisi itu, si pencuri mengaku dia baru saja dipecat. Sedangkan istrinya kabur meninggalkannya dengan anak usia lima tahun.

Sharudin lalu memasukkan uang di kantong celana pencuri itu agar bisa memberi makan anaknya. Beberapa bulan kemudian, pencuri itu datang lagi ke kantor polisi dan hendak mengembalikan uang kepada Sharudin, sayangnya polisi itu sudah pindah tugas.

4 dari 5 halaman

Masuk Kantong Plastik dan Seberangi Sungai Deras demi Sekolah

Dream - Para orangtua tentu ingin melihat anak-anaknya sukses dalam kehidupan. Mereka pun yakin, salah satu jalan meraih kesuksesan adalah dengan pendidikan.

Mereka pun rela melalukan berbagai cara agar anak-anaknya bisa sampai ke sekolah. Meskipun cara untuk bisa pergi sekolah sangat ektrem dan berbahaya.

Seperti yang terjadi kampung Huoi Ha di Vietnam. Para orangtua rela bersusah payah untuk memastikan anaknya sampai di sekolah.

 Perjuangan ke sekolah

Dikutip dari Siakapkeli, Senin 24 Juni 2019, sejumlah siswa harus melintasi sungai selebar 20 meter untuk bisa sampai ke sekolah. Tidak ada jembatan, sedangkan air sungai itu cukup deras.

Para orangtua hanya bisa mengantarkan anak-anak mereka sampai di tepi sungai. Selebihnya, mereka menyewa jasa orang pandai berenang untuk menyeberangkan anak-anaknya.

5 dari 5 halaman

Cara Ekstrem Menyeberang

Cara penyeberangan siswa-siswa itu juga cukup mengerikan. Mereka dimasukkan ke dalam kantung plastik agar bisa diseberangkan dengan mudah.

Kondisi semacam ini terjadi sepanjang musim hujan. Ketika kemarau, terdapat jembatan kecil yang bisa dilewati.

Setiap kali musim penghujan, permukaan air sungai akan meninggi. Arus air yang deras merusak jembatan, sementara rakit tidak dapat melaju.

 Perjuangan ke sekolah

Saat para siswa itu diseberangkan, para orangtua menunggu dengan perasaan cemas di tepi sungai. Mereka baru tenang jika anak-anaknya sampai di seberang dan keluar dari kantong plastik.

Perjuangan para siswa itu belum selesai. Meski sudah bisa menyeberang, mereka masih harus berjalan kaki sejauh 15 kilometer dari sungai menuju sekolah.

Sumber: Siakapkeli.my

Beri Komentar
Babak Baru Daus Mini Vs Daus Mini ‘KW'