Mengaku Nabi dan Sebarkan Ajaran Sesat, Pria Toraja Ditangkap

Reporter : Maulana Kautsar
Senin, 20 Januari 2020 09:03
Mengaku Nabi dan Sebarkan Ajaran Sesat, Pria Toraja Ditangkap
Diduga telah melakukan penistaan agama.

Dream - Seorang pria dari Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Paruru Daeng Tau, diamankan polisi karena menyebarkan ajaran sesat dan mengaku sebagai nabi.

Penata Urusan Humas Polres Tana Toraja, Aiptu Erwin mengatakan, Paruru diamankan saat datang ke kantor polisi. Paruru datang ke kantor polisi untuk memenuhi panggilan kedua dari penyidik Satuan Reskrim Polres Tana Toraja.

" Paruru Daeng Tau datang sendiri ke Mapolres penuhi panggilan kedua penyidik, Rabu, 15 Januari. Diperiksa intensif, disusul gelar perkara, ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan," kata Erwin, akhir pekan lalu.

Kasus ajaran sesat yang diajarkan Paruru muncul karena laporan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tana Toraja.

Setelah dilakukan pengkajian, MUI Tana Toraja kemudian mengeluarkan fatwa ajaran yang dibawa Paruru adalah sesat.

MUI Tana Toraja melaporkan Paruru ke polisi atas dasar penistaan agama di pertengahan Desember 2019. Pelaku diduga telah beraktivitas menyebarkan ajarannya sejak Juni hingga Juli 2019 dan delapan kepala keluarga menjadi pengikutnya.

Erwin menyebut, Paruru diduga melanggar pasal 156 huruf A KUHP dengan ancaman pidana 5 tahun penjara. Kini, Erwin mengatakan, Paruru akan menjalani proses penyidikan.

Sumber:

1 dari 4 halaman

Geger Aliran Sesat di Mamuju, Bayar Rp600 Ribu Dijamin Surga

Dream - Warga Karampuang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat digegerkan kelompok pengajian yang dituding menyebarkan paham sesat.

Pengajian itu dibimbing seorang yang disebut pria yang disebut ustaz berinisial R. R sudah memiliki jemaah sebanyak 70 orang dari berbagai latar belakang.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Mamuju, KH Namru Asdar, menerima banyak laporan pengaduan terkait kelompok pengajian dituding sesat ini. Materi ceramah yang disampaikan dalam pengajian dianggap menyimpang dari ajaran Islam.

" Jadi sekelompok orang itu menjanjikan bisa melihat Tuhan asal bayar sejumlah uang, mulai dari Rp300 ribu hingga Rp700 ribu," ujar Namru, dikutip dari Liputan6.com.

Para pengikut pengajian itu dilarang menyebut Allah saat beribadah. Juga memandang tidak perlu mandi wajib ketika junub.

" Jadi ketika sholat itu dilarang menyebut nama Allah karena dianggap kafir dan musyrik. Tidak perlu juga mandi wajib karena air mani dianggap suci," kata Namru.

2 dari 4 halaman

Pengakuan Mantan Jemaah

Salah satu mantan jemaah, YS, membeberkan semua paham yang diajarkan dalam pengajian itu. Menurut dia, para jemaah memiliki beragam profesi mulai dari petani, ibu rumah tangga, hingga Pegawai Negeri Sipil (PNS).

YS mengaku rumahnya pernah dijadikan lokasi pengajian. Dia mengatakan R yang disebut sebagai ustaz berasal dari Bontang, Kalimantan Timur.

" Kajiannya tiga sampai empat kali dalam seminggu, mulai dari pukul 20.00 WITA sampai pukul 02.00 WITA (keesokan harinya)," kata YS.

YS membenarkan setiap jemaah diharuskan membayar sejumlah uang setiap kali ikut kajian kepada R. Para jemaah dijanjikan dapat melihat Tuhan sekaligus jaminan masuk surga dengan uang yang dibayarkan.

" Jemaah bayar Rp600 ribu untuk jaminan masuk surga," kata dia.

3 dari 4 halaman

Sholat Cukup Pagi Sore, Hanya Dianggap Olahraga

Selain itu, kata YS, R mengajarkan kepada jemaahnya ibadah sholat hanya dilakukan pagi dan sore hari. Tak hanya itu, dalam pandangan R, sholat hanyalah olahraga.

" Jadi sholat itu dilakukan hanya saat matahari terbit dan terbenam," kata dia.

Menurut YS, R telah menyebarkan ajarannya ke beberapa kabupaten lain di Sulsel.

" Dia juga ada pengikut di Sulsel, kalau tidak salah di Kabupaten Soppeng dan Kota Parepare," ucap dia.

4 dari 4 halaman

Dipantau Aparat

Keberadaan pengajian ini telah meresahkan masyarakat. Kepala Kantor Urusan Agama (KUA), Syamsuri Halim, mengatakan pihaknya kini terus mengawasi penyebaran pengajian itu. Ini lantaran kelompok pengajian tersebut telah menimbulkan keresahan.

" Kita bekerja sama dengan MUI, polisi, dan kejaksaan terus mengawasi, kami juga telah berkoordinasi dengan tokoh masyarakat setempat dan menjadi wilayah persebaran aliran sesat tersebut," kata dia.

Sementara, Direktur Intelkam Polda Sulbar, Kombes Hery mengatakan pihaknya terus memantau kelompok pengajian tersebut. Juga telah berkoordinasi dengan Kejaksaan dan MUI.

" Sedang diselidiki, kami terus berkomunikasi dengan Tim Pakem dari Kejaksaan dan pihak MUI," kata Hery.

(Sumber: Liputan6.com/Fauzan)

Beri Komentar
Babak Baru Daus Mini Vs Daus Mini ‘KW'