Semakin Mengkhawatirkan, Kasus Positif COVID-19 di Jatim Tembus 10 Ribu

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Rabu, 24 Juni 2020 13:00
Semakin Mengkhawatirkan, Kasus Positif COVID-19 di Jatim Tembus 10 Ribu
Mengapa tingkat infeksi COVID-19 di Jawa Timur sangat tinggi? Berikut penjelasannya.

Dream - Gugus Tugas Percepatan Penangan COVID-19 Jawa Timur mencatat 274 kasus baru pada Selasa 23 Juni 2020. Penambahan itu menjadikan kasus positif COVID-19 di Jatim naik menjadi 10.092.

Kota Surabaya menjadi wilayah dengan penambahan kasus positif tertinggi, yaitu 107. Dengan demikian, total kasus positif COVID-19 di Kota Pahlawan menjadi 4.878.

Disusul Sidoarjo dengan 60 kasus baru. Sehingga, total kasus positif COVID-19 di Kota Udang itu mencapai 1.260.

Kemudian Gresik. Di Kota Pudak itu terdapat penambahan 32 kasus baru, sehingga total positif COVID-19 menjadi 515.

1 dari 6 halaman

Pakar Kesehatan Masyarakat dari Universitas Airlangga (Unair), Dr Windhu Purnomo, menuturkan, kasus positif COVID-19 di Jawa Timur terus meningkat seiring masih ada penularan di masyarakat. Kasus positif COVID-19 sebagian besar di Surabaya.

" Jawa Timur diwarnai separuh di Surabaya. Penularan masih terus terjadi. Kasus positif COVID-19 terus meningkat karena masyarakat tertular dan pemerintah belum berhasil memutuskan rantai penularan. Warga sebagian masih menulari," ujar Windhu saat dihubungi Liputan6.com, Rabu 24 Juni 2020.

Ia mengatakan, kasus positif COVID-19 meningkat seiring rendahnya disiplin masyarakat terhadap protokol kesehatan.

" Kedisiplinan warga patuhi protokol kesehatan belum terjadi. Warga masih berdekatan tanpa masker, tidak jaga jarak, tidak cuci tangan sebelum pegang wajahnya. Kepatuhan yang buruk itu, kontrol pemerintah lemah," tutur dia.

2 dari 6 halaman

Selain itu, Windhu menilai, Surabaya juga tidak ada status di tengah masih tingginya kasus COVID-19. Kondisi tanpa status tersebut membuat masyarakat menganggap COVID-19 sudah tidak ada.

Namun, tambah Windhu, masyarakat yang sudah berpendidikan, sudah ada kesadaran untuk mematuhi protokol kesehatan, seperti memakai masker.

" Surabaya setelah PSBB jilid tiga sekarang tidak ada status jadi masyarakat sudah anggap berakhir,” kata dia.

3 dari 6 halaman

Kondisi Epidemiologi di Jawa Timur dan Surabaya

Oleh karena itu, kedisiplinan masyarakat Jawa Timur untuk mematuhi protokol kesehatan harus ditingkatkan, terutama di Surabaya.

Windhu menuturkan, attack rate atau angka kejadian serangan infeksi di Jawa Timur di angka 24,6 per 100 ribu penduduk.

" Ini artinya, setiap 100 ribu penduduk akan tertular 25 orang di Jawa Timur," kata dia.

Sedangkan penularan di Surabaya 148,9 per 100 ribu penduduk. Artinya setiap 100 ribu penduduk akan tertular sekitar 150 orang.

" Di Surabaya 148,9 dibulatkan 150. Pada akhir PSBB 90 sekarang 150 jadi hampir dua kali lipat naiknya selama dua minggu, risiko makin tinggi tertular COVID-19," ujar Windhu.

4 dari 6 halaman

Meski demikian, tambah Windhu, kalau melihat attack rate Jawa Timur berada di posisi 10 hingga 11 di antara provinsi lain.

" Ini artinya ada 9 sampai 10 provinsi lainnya yang lebih buruk dari pada Jawa Timur, di antaranya DKI, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, dan Papua," kata dia.

Demikian juga angka kematian di Jawa Timur, terutama Surabaya masih tinggi. Tercatat di Jawa Timur 7,4 dan Surabaya 7,8. Sedangkan nasional 5,6 hingga 5,7.

" Jadi kita lebih tinggi dua persen. Ini tidak boleh, menunjukkan tingginya kasus di Surabaya. Kapasitas rumah sakit sudah terlampaui, perawatan tidak optimal. Dari hulu ke hilir sehingga kematian kondisinya tinggi," ujar Windhu.

5 dari 6 halaman

Tingkat Penularan COVID-19

Kabar baiknya, kata Windhu, Jawa Timur dan Surabaya punya harapan untuk tingkat penularan COVID-19 atau transmission rate.

" Tingkat penularan atau Rt sudah turun. Pada 17 Juni 0,8 itu tapi cuma satu hari. Dua hari sebelumnya 1. 17 Juni 0,8 itu harapan di ujung terowongan. Cahaya sudah kelihatan dengan Rt di bawah 1,” kata dia.

Oleh karena itu, butuh pengendalian agar Rt atau tingkat penularan COVID-19 dapat konsisten di bawah 1. Terutama tingkat penularan di bawah 1 itu selama 14 hari berturut-turut.

" Kalau pemerintah daerah sabar, tunggu. Mengendalikan kedisiplinan, kita bisa berhasil. Kalau 30 Juni tunggu seminggu lagi, itu sudah bisa lolos dan masuk new normal. Pemerintah sabar, cahaya sudah kelihatan, untuk sampai di ujung terowongan itu,” kata dia.

Jika melihat data infocovid19.jatimprov.go.id, angka tingkat penularan masih di kisaran 1,65 dari sebelumnya 1,18.

6 dari 6 halaman

Perlu Sanksi Tegas

Windhu meminta pemerintah memperketat pengawasan kepada masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan, seperti memakai masker di luar rumah, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun.

Windhu menuturkan, salah satu langkah dilakukan dengan memberikan sanksi tegas seperti pemberian denda. Denda harus dijalankan. Windhu mencontohkan tak memakai masker dengan beri denda Rp 100 ribu.

" Kendalinya pemerintah agar masyarakat patuh protokol kesehatan," kata dia.

Hal senada dikatakan Ketua Rumpun Kuratif Tugas Penanganan COVID-19 Jawa Timur, dr Joni Wahyuhadi menuturkan, kasus positif COVID-19 bertambah seiring masyarakat juga belum disiplin. Oleh karena itu, salah satu langkah dilakukan dengan disiplin protokol kesehatan.

" Utamanya yang di sentrum kota besar, penertiban protokol kesehatan," tutur dia.

Beri Komentar