Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Virus Corona Jenis SARS-CoV-2 Penyebab Covid-19. (Foto: Pixabay.com)
Dream - Baru-baru ini Profesor Alberto Zangrillo, kepala ruang perawatan intensif di Rumah Sakit San Raffaele di Lombardy, Italia, mengatakan bahwa virus corona jenis SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19 sudah kehilangan kemampuannya. Profesor Zangrillo bahkan mengatakan bahwa virus corona tersebut secara klinis sudah tidak ada lagi.
Zangrillo, yang terkenal sebagai dokter pribadi mantan Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi, mengatakan komentarnya didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh rekan ilmuwan, Massimo Clementi, yang menurut Zangrillo akan diterbitkan minggu depan.
Namun pendapat Profesor Zangrillo itu dibantah oleh ahli dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan sederet ilmuwan lainnya. Mereka mengatakan tidak ada bukti yang mendukung pernyataan Profesor Zangrillo bahwa virus telah kehilangan potensinya.
Ahli epidemiologi WHO, Maria Van Kerkhove, serta beberapa pakar tentang virus dan penyakit menular lainnya, mengatakan komentar Profesor Zangrillo tidak didukung oleh bukti ilmiah.
Tidak ada data yang menunjukkan bahwa virus corona berubah secara signifikan, baik dalam bentuk penularannya atau tingkat keparahan penyakit yang ditimbulkannya.
" Dalam hal penularan, virus corona tidak berubah. Begitu juga dalam hal dampak parah yang ditimbulkannya," kata Van Kerkhove kepada wartawan.
Menurut Van Kerkhove bukan hal yang aneh bagi virus untuk memiliki kemampuan bermutasi dan beradaptasi ketika mereka menyebar.
Sementara itu Martin Hibberd, seorang profesor penyakit menular di London School of Hygiene & Tropical Medicine, mengatakan studi besar-besaran yang meneliti perubahan genetik pada virus SARS-CoV-2 tidak menunjukkan bahwa virus tersebut melemah.
" Dengan data dari lebih dari 35.000 genom virus, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa ada perbedaan signifikan terkait dengan tingkat keparahan yang ditimbulkannya," kata Hibberd dalam sebuah email.
Namun Profesor Zangrillo membantah bahwa dia mengatakan virus corona kehilangan kemampuannya dalam menular dan menimbulkan dampak parah kepada korbannya.
" Kami tidak pernah mengatakan bahwa virusnya telah berubah, kami mengatakan bahwa interaksi antara virus dan inangnya telah benar-benar berubah," katanya.
Penelitian oleh Clementi, yang merupakan direktur laboratorium mikrobiologi dan virologi San Raffaele, membandingkan sampel virus dari pasien Covid-19 di rumah sakit di Milan pada bulan Maret dengan sampel pada bulan Mei.
“ Hasilnya jelas, ada perbedaan yang sangat signifikan antara viral load pasien yang dirawat di bulan Maret dibandingkan dengan yang dirawat bulan lalu," Profesor Zangrillo menjelaskan.
Profesor Zangrillo menambahkan kondisi ini bisa disebabkan oleh perbedaan karakteristik virus yang belum diidentifikasi, atau karakteristik berbeda pada mereka yang terinfeksi.
Sumber: CNA
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya