Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI
Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli
Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest
3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram
Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian
Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini
Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Dream - Sebuah kisah cukup menghibur terjadi saat peristiwa pembebasan kota Mekah (fathul makkah) yang terjadi di zaman Rasululllah Muhammad SAW. Kisah ini melibatkan seorang sahabat Nabi dan salah satu musuh terbesarnya, Abu Sufyan.
Untuk diketahui, fathul makkah adalah salah satu peristiwa bersejarah dalam dunia Islam. Di hari itulah Rasulullah dan para sahabatnya kembali ke Mekah setelah hijrah dari Madinah.
Mengutip laman nu.or.id, Pakar bidang Tafsir Prof KH Nasaruddin Umar dalam buku Khutbah-khutbah Imam Besar (2018) menceritakan, di tengah kemenangan Nabi dan kaum Muslimin dalam peristiwa fathul makkah terjadi satu peristiwa.
Ketika Abu Sufyan dan para pembesar Quraisy akhirnya menyerah dan bersedia mengikuti petunjuk Nabi Muhammad.
Kala itu Nabi meminta para pimpinan pasukannya untuk menyatakan, al-yaum yaumal marhamah (hari ini hari kasih sayang).
Mendengar permintaan tersebut, seorang sahabat Nabi spontan berteriak: al-yaum yaumal malhamah. Jika diterjemahkan ucapan itu berarti hari ini adalah hari pertumpahan darah.
Sontak ucapan itu membuat penduduk Mekah yang tadinya gembira mendengar ucapan Nabi kembali diselimuti ketakutan. Termasuk salah satu pemimpin Bani Quraisy, Abu Sufyan.
Dia melayangkan protes dan mempertanyakan ucapan sahabat Nabi tersebut.
Melihat warga Mekah dan Abu Sufyan cemas, Rasulullah lalu menjawab tidak begitu maksudnya. Sahabat itu lidahnya cadel. Rasul menjelaskan jika sahabatnya itu tidak bisa menyebut huruf ra, sehingga huruf ra terucap la.
Penyelesaian Fathul Makkah berjalan sangat manusiawi meskipun menyalahi tradisi perang Arab yang penuh dengan pertumpahan darah, perampasan, dan lain-lain. Namun kasih sayang Nabi Muhammad lebih besar dalam hal ini sehingga betul-betul tidak ada balas dendam.
Baca kisah selengkapnya di sini
Advertisement

Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis

Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi

Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya

Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?


Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest