6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Denominasi Rupiah Yang Tinggi Menarik Minat Perhatian Pebisnis Dan Wisatawan.
Dream - Denominasi rupiah yang sangat tinggi sudah lama menarik perhatian orang asing, baik turis maupun pebisnis. Sang pemilik dolar AS, ringgit, atau poundsterling bisa menjadi jutawan instan usai menukarkan duit ke uang rupiah.
Misalnya, seseorang bisa mendapat Rp1 juta dengan menukarkan uang US$75.
Dilansir dari Finance Twitter, Rabu 21 Desember 2016, denominasi rupiah sangat tinggi kedua di Asia setelah Vietnam. Pecahan uang kertas rupiah terbesar adalah pecahan Rp100 ribu dan yang terkecil adalah Rp500. Anggaran Pendapatan Belanja Negara pun direpresentasikan dalam triliun rupiah.
Pada 2010, bank sentral Indonesia, Bank Indonesia (BI) mengembuskan wacana akan melakukan redenominasi mata uang, yaitu memangkas 3 angka nol dari belakang. Misalnya, Rp1.000 akan menjadi Rp1.Kementerian Keuangan berharap redenominasi rupiah bisa menjadi masuk ke proglegnas DPR, tapi tidak terlaksana.
Tidak semua senang dengan wacana rupiah menguat secara artifisial. Mereka menginginkan adanya kestabilan moneter daripada menerapkan wacana tersebut. Masyarakat dikhawatirkan masih menganggap langkah redenominasi sebagai sanering--kata dari bahasa Belanda yang merujuk kepada langkah untuk mengalahkan inflas dengan memangkas nominal uang kertas.
© Dream
Saat ini, diperlukan uang sebesar Rp13.405 untuk membeli uang senilai US$1. Padahal, dulu dolar AS tidak semahal sekarang. Tidak percaya? Pada tahun 1949, US$1 bisa dibeli dengan Rp3,8.
Lalu, pada 1959, uang Rp1000 didevaluasi menjadi Rp100. Sebuah inflasi besar-besaran pun terjadi pada 1969. Pemerintah pun melakukan redenominasi dari Rp1000 menjadi Rp1. Lalu, pada 1971, US$1 bisa dibeli Rp415.
© Dream
Kini, Gubernur BI, Agus D. W. Martowardoyo, pun ingin menghidupkan rencana redenominasi untuk menyederhanakan mata uang. Agus pun meminta dukungan Presiden Joko Widodo untuk memuluskan wacana redenominasi.
Jika RUU Redenominasi Rupiah sudah disahkan DPR menjadi Undang-Undang tahun depan, BI memerlukan waktu 2 tahun untuk menyiapkan uang kertas baru. Diperlukan waktu 7 tahun lebih untuk transisi. Pemerintah pun perlu menyesuaikan harga barang dan jasa dengan redenominasi rupiah.
" Harga barang dan jasa juga harus disesuaikan karena saat masa transisi, orang-orang menggunakan dua uang, yaitu uang denominasi lama dan uang denominasi baru. Kami optimistis tidak akan berpengaruh terhadap inflasi," kata dia.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
