Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Fokus Pemerintah Joko Widodo untuk mengembangkan berbagai proyek infrastruktur kerap terhambat masalah finansial. Untuk menyiasatinya, pemerintah pun menggandeng pihak swasta untuk bekerjasama.
Namun, Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro mengakui, peran pihak swasta dalam pembiayaan infrastruktur masih minim.
" Ide mengenai Private Public Partnership (PPP) adalah gagasan yang bagus, tapi sangat sulit diimplementasikan," kata Bambang dalam Konferensi Kerjasama Bank Indonesia (BI) dan International Monetary Fund (IMF) di Jakarta, Rabu 2 September 2015.
Bambang melanjutkan, sudah menjadi rahasia umum bahwa perancangan proyek di Indonesia sering tidak matang. " Jadi walaupun sudah mendapatkan investornya, namun persentasenya sangat kecil untuk dimulai," keluhnya.
Ia pun mencontohkan dalam proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berkapasitas 2.000 MW di Batang. Pelaksanaannya baru dimulai tahun ini padahal pemenang tendernya sudah diputuskan sejak 2012.
Menurut Bambang, memang terdapat beberapa masalah yang menghambat realisasi proyek tersebut hingga tiga tahun.
" Masalah yang harus diselesaikan pertama, pembebasan lahan dan kedua adalah kerumitan birokrasi perizinan yang sekarang sudah dibenahi," jelasnya.
Kini, pemerintah pun sepakat untuk tidak melempar proyek ke masyarakat sebelum perancangannya tuntas. Juga berkomitmen untuk menyokong PPP dengan pembiayaan jangka panjang.
Sebelumnya, aku Bambang, pembiayaan yang ditawarkan Bank dalam negeri hanya berjangka pendek dan menengah. Padahal, pembiayaan untuk infrastruktur memerlukan waktu yang lama sebab pengembalian modal tak bisa dilakukan dalam waktu cepat.
" Maka dari itu untuk PPP kita ambil pembiayaan dari multilateral," ungkapnya.
Bambang pun membeberkan, tahun ini pemerintah akan mengucurkan dana infrastruktur yang jumlahnya lebih besar ketimbang tahun-tahun sebelumnya, yaitu sebesar Rp 290 triliun.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya