Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Penutupan Gerai Ritel Disebut-sebut Karena Daya Beli Masyarakat Turun.
Dream – Belakangan ini, kabar penutupan gerai ritel menjadi perhatian publik. Perbincangan ini berawal dari PT Ramayana Lestari Sentosa yang menutup delapan gerainya di seluruh Indonesia.
Begitu pula dengan PT Matahari Department Store Tbk yang berencana akan menutup dua gerainya di Pasaraya Manggarai dan Pasaraya Blok M, Jakarta Selatan.
Penutupan gerai ritel ini disebut-sebut dipengaruhi oleh melemahnya daya beli masyarakat. Tapi, pemerintah membantah kabar itu.
Dilansir dari Merdeka.com, Selasa 19 September 2017, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, menepis anggapan daya beli masyarakat melemah. Sri Mulyani mengatakan data-data ekonomi menunjukkan kondisi perekonomian negara dalam keadaan baik.
“ Kami terus observasi. Data perpajakan kita menunjukkan ekonomi cenderung positif, bahkan lebih baik,” kata dia di Jakarta.
Sri Mulyani sedang mengkaji penyebab penutupan beberapa gerai perusahaan ritel ini. Perubahan pola konsumsi masyarakat merupakan salah satu komponen yang akan dipelajari.
“ Kehadiran secara fisik versus kegiatan-kegiatan retailer yang lain, ya, kami lihat saja apakah ini perubahan pola konsumsi dan lain-lain,” kata mantan Direktur Perencana Bank Dunia itu.
Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengakui kinerja ritel modern pada kuartal I 2017 memburuk.
Pada awal Ramadan 2017, pertumbuhan ritel turun dari 4,1 persen pada 2017 menjadi 3,6 persen pada Mei 2017. Ketua Umum Aprindo, Roy N Mandey, menengarai penyebabnya adalah menurunnya daya beli masyarakat yang cukup drastis sekitar 10-12 persen.
Alhasil, Roy mengatakan peritel harus melakukan efisiensi. Seperti penghematan listrik, pembatasan varian produk, dan memilih lokasi gerai.
Berbicara tentang penutupan, peritel menutup gerai di suatu tempat dan memindahkannya ke tempat baru.
“ Indonesia Timur masih berpeluang daripada Indonesia Barat dan Tengah. Kalaupun ada toko yang tidak ekonomis, akan direlokasi,” kata dia. (ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang