Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Pembantu Rumah Tangga Di Kuwait (theguardian.co.uk)
Dream - Masalah pekerja rumah tangga (PRT) yang seringkali berpindah kerja tak hanya dialami penduduk Indonesia. Dengan status sebagai negara kaya dan gaji yang lebih baik, para pembantu juga kerap melarikan diri atau berpindah majikan. Fenomena ini malah makin marak jelang Ramadan.
Mengutip laporan Zawya, seperti dikutip Dream.co.id, Kamis, 19 Juni 2014, sebuah statistik menunjukan jumlah pembantu rumah tangga yang melarikan diri kian marak jelang memasuki bulan Ramadan. Salah satu alasan mereka melarikan diri adalah mencari gaji yang lebih tinggi.
Namun harus diakui, kasus pembantu yang melarikan diri juga kerap kali dipicu kesalahan majikan. Para pemberi kerja sering memperkerjakan pelayan tanpa memeriksa latar belakang dari pegawainya.
Laporan itu menyebutkan, kurang dari 20 persen PRT meninggalkan majikannya untuk bekerja di rumah tangga lain dengan gaji yang lebih tinggi.
Menurut statistik tersebut, saat ini ada 1 juta pembantu rumah tangga yang bekerja di keluarga Saudi. Para pemberi kerja ini menghabiskan lebih dari 1 miliar riyal atau Rp 3,18 triliun untuk menggaji para pembantu rumah tangga itu dalam setahun, termasuk makan, tiket dan biaya lainnya.
Saat pertama kali bekerja di Saudi, seorang pembantu rumah tangga bisa mengantongi gaji sebesar 1000 riyal atau Rp 3,18 juta.
Dalam statistik itu disebutkan kinerja pemerintah dan negara-negara pengekspor tenaga kerja serta kedutaan mereka termasuk fleksibel. Meski demikian, statistik mengkritik pengawasan dan pengendalian sistem untuk memastikan kesepakatan yang ditandatangani antara Arab Saudi dan negara-negara pengekspor tenaga kerja bisa diterapkan sesuai perjanjian. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya