Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dokter Reisha Broto Asmoro (Instagram @reisabrotoasmoro)
Dream - Dokter Reisha Broto Asmoro meminta masyarakat berhati-hati menggunakan obat dexamethasone untuk penanganan Covid-19. Meski direkomendasikan Badan Kesehatan Dunia (WHO), obat ini harus sesuai dengan resep dokter.
" WHO mengeluarkan rilis yang merekomendasikan penggunaan obat dexamethasone. Namun mohon berhati-hati karena dosis dan lama penggunaannya diberikan berdasar usia dan reaksi terhadap obat tersebut," ujar Reisa, dikutip dari Merdeka.com, Jumat 19 Juni 2020.
Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 itu menambahkan, penggunaan obat ini memiliki efek samping yang berkepanjangan. Obat ini juga sejatinya digunakan untuk mengurangi peradangan, oleh karena itu harus sesuai dengan resep dokter agar tidak memberikan efek samping.
" Obat ini direkomendasikan untuk (pasien) Covid-19 yang (memiliki gejala) berat. Obat ini dianjurkan untuk penurunan kasus kematian 20 hingga 30 persen, obat ini bukan untuk terapi penyakit ringan atau OTG (orang tanpa gejala)," kata dia.
Dexamethasone, tambah dia, juga bukan obat untuk menangkal penularan Covid-19. Tidak pula berfungsi sebagai vaksin. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akan memantau peredaran obat ini.
" Obat ini tidak punya khasiat pencegahan, ini bukan vaksin, ini merupakan kombinasi obat-obatan.
Menurut dia, BPOM akan memantau peredaran dexamethasone. Meski sudah merekomendasikan, WHO belum menentukan obat atau regimen pengobatan tetap bagi perawatan pasien.
" WHO dan Kemenkes tetap berpesan ikuti anjuran dokter, hindari penggunaan antibiotik karena bisa sebabkan resistensi," dia menambahkan.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya