#BeGood: Menjawab Tangisan Wuhan

Reporter : Mutia Nugraheni
Kamis, 20 Februari 2020 11:45
#BeGood: Menjawab Tangisan Wuhan
“Seorang teman yang hadir kala dibutuhkan adalah teman sejati,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying.

Dream - Wanita itu menangis. Meringkuk di lantai atas apartemen. Di sudut balkon. Tangan memukul bejana besi. Keras, tanpa henti. Berdentang-dentang, beradu nyaring dengan raungan pilu dari balik masker. Mencari perhatian. Suaranya bergetar. Tersendat. Memohon dan meratap.

“ Tidak ada yang bisa aku lakukan, tolong bantu kami,” wanita berbaju merah jambu itu berteriak.

Itu bukan adegan sinetron. Bukan pula film Mandarin Cry Me a Sad River. Drama yang menguras air mata. Wanita Wuhan dalam video viral itu tak sedang akting. Tangisan ini nyata. Dia sedang bersusah hati. Putus asa.

Wanita itu benar-benar hilang akal. Sang ibu terjangkit Corona. Berada di tubir kematian. Segala rumah sakit sudah didatangi. Pintu tiap klinik dimasuki. Lintang pukang. Tapi usahanya mentok. Semua menolak. Tak ada kamar kosong.

Sejak Januari lalu, seluruh rumah sakit di Wuhan memang penuh dengan pasien terinfeksi virus Corona. Meluber. Berjejal hingga lorong. Tak ada dipan tanpa tuan.

Dan, wanita di balkon itu sudah buntu. Tak punya jalan keluar. Dia tak tahu harus minta bantuan kemana lagi. Hanya bisa bersedu-sedan. Tanpa harapan. Rintihan itu tak menemukan jawaban.

Cerita itu bukan satu-satunya. Di media sosial bejibun. Lebih horor, bahkan. Video-video itu menyebar ke segala penjuru. Beradu cepat dengan penularan virus mematikan, yang belakangan diberi nama Covid-19 itu.

Berselancarlah ke Weibo. Kalau tak punya akun, pindah ke Twitter atau YouTube. Ketik Wuhan. Pasti muncul video menyeramkan. Banyak orang ambruk di jalan. Menggelepar di rumah sakit. Kejang di atas ranjang. Semua diklaim terjangkit Corona.

Wuhan mencekam. Virus Corona merajalela. Tak terkendali. Semua was-was. Takut tertular. Warga sehat mengurung diri, yang terjangkit dikarantina. Saban hari kabar duka seliweran. Mereka seolah hanya bisa menunggu: kapan dan siapa korban berikutnya.

Tak hanya manusia, Corona juga membunuh kota berpenduduk sebelas juta itu. Jantung metropolitan itu seolah berhenti berdegup. Padahal, Januari lalu ada perayaan Imlek. Tahun baru China.

Tahun yang sudah-sudah, hari besar itu selalu meriah. Festival dihelat di sana-sini. Gempita di tiap sudut. “ Tapi waktu itu sudah sepi seperti kota mati,” ujar Siti Mawaddah, mahasiswi Universitas Hubei asal Indonesia.

Wuhan benar-benar mati setelah diisolasi mulai 23 Januari 2020. Sejak itu, tak ada orang boleh keluar masuk semaunya. Dunia ngeri.

1 dari 3 halaman

Petaka dimulai Desember lalu. Sebanyak 40 orang mengalami gejala flu: demam, batuk, napas tersengal. Inilah kelompok pertama pasien Corona. Dua pertiga dari mereka diduga pernah berkunjung ke pasar tradisional Haenan di Wuhan.

Desas-desus segera merebak. Percakapan online ramai membahas penyakit misterius. Kelelawar disebut-sebut sebagai pembawa virus. Maklum, sebagian orang yang terjangkit itu diduga makan daging mamalia terbang tersebut.

Semula, warga Wuhan tenang-tenang saja. Tak peduli dengan virus Corona yang baru muncul. Li Wenliang bahkan bernasib tragis. Dokter –yang belakangan meninggal karena terinfeksi– itu diciduk setelah mengingatkan bahaya Corona. Dianggap menyebar hoaks.

Dengar kesaksian Chen Qiushi, vlogger yang masuk Wuhan sehari setelah isolasi. Dia melihat banyak orang menyepelekan virus penebar maut tersebut.

“ Saya juga melihat orang-orang sama sekali tidak peduli dengan masalah ini dan tidak memakai masker wajah,” tutur Chen, dikutip Quartz.

Tak hanya kaum awam. Para petugas medis juga demikian. Menurut laporan Business Insider, semula dokter dan perawat tidak pakai pelindung. Mereka belum tahu manusia bisa menularkan virus Corona.

Tapi semua berubah ketika wabah tak lagi terkendali. Virus tak hanya pindah dari hewan ke manusia. Penularan juga terjadi dari manusia ke manusia. Makin ganas.

Kian hari, korban makin bertambah. Melonjak. Puluhan jadi ratusan. Berubah ribuan hingga tembus puluhan ribu. Ratusan orang tewas. Rumah sakit membeludak. Banjir pasien Corona.

“ Saya belum pernah melihat begitu banyak pasien sebelumnya. Saya takut karena ini virus baru dan angkanya mengkhawatirkan,” kata seorang dokter di Wuhan, dikutip BBC News.

Sejak itulah mereka sadar. Virus maut tak bisa dibendung lagi. Tak hanya China. Dunia juga khawatir. WHO, Organisasi Kesehatan Dunia, menetapkan dunia dalam status darurat Corona di penghujung Januari 2020.

2 dari 3 halaman

China sebenarnya tak tinggal diam. Mereka berperang melawan Corona. Mengerahkan 7.000 pekerja. Menyusun rencana kolosal. Dua rumah sakit darurat berdiri dalam sepuluh hari. Proyek ‘bim salabim’ ini bikin dunia terbelalak.

Rumah Sakit Huoshenshan dibangun mulai 24 Januari. Di tepian Wuhan. Di lahan 269.000 kaki persegi. Muat seribu kasur. Rumah Sakit Leishenshan di lahan 323.000 kaki persegi. Bisa menampung 1.300 tempat tidur. Dua rumah sakit itu beroperasi awal Februari.

Tak hanya rumah sakit, China juga mengirim ribuan tenaga medis. Militer Negeri Panda bahkan menerjunkan 2.600 dokter. Mereka jumpalitan melawan virus Corona. Tujuh hari dalam seminggu. Siang malam. Berpisah dengan keluarga. Bertaruh nyawa.

Lihatlah wajah mereka. Pipi, hidung, dan jidat, semua bergurat. Bekas masker tampak jelas di muka pucat. China bahkan mengumumkan enam petugas kesehatan tewas dan 1.700 lainnya turut terinfeksi Corona.

Rumah sakit sudah ditambah. Dokter dan perawat telah berjuang mati-matian. Tapi virus tak kunjung jinak. Korban terus tambah. Bahkan hingga ke seberang negara. Corona makin menggila.

Bacalah data John Hopkins. Hingga 19 Februari 2020, virus itu sudah menggerayangi 29 negeri. Sebanyak 75.282 orang terinfeksi, 15.084 di antaranya sembuh. Tapi 2.012 tak selamat. Tewas. Sebagian besar di China daratan.

Semua negara ketar-ketir. Apalagi penangkal virus belum juga ditemukan. Sejumlah negara ramai-ramai memulangkan warga dari China, khususnya Wuhan.

3 dari 3 halaman

Negara sahabat memang berlomba menarik warga dari Wuhan. Mereka juga menutup pintu bagi orang dan barang dari China. Tapi banyak negara membuka gudang-gudang bantuan untuk Negeri Tirai Bambu. Sebanyak 21 negara mengulurkan tangan. Dunia tak membiarkan Wuhan dalam nestapa.

Negeri Asia Tenggara, misalnya. Mereka berduyun membawa bantuan. Malaysia menyumbang 18 juta sarung tangan karet. Singapura kirim alat medis senilai hampir sepuluh miliar rupiah. Indonesia memasok masker.

“ Saya juga menyampaikan bahwa Indonesia akan selalu bersama dengan RRT dalam masa-masa yang sulit seperti ini,” kata Presiden Joko Widodo usai menelepon Presiden China, Xi Jinping.

Tak hanya negara. Bantuan juga datang dari dunia hiburan. Jackie Chan menawarkan dana satu juta yuan untuk pengembangan antivirus Corona. Hampir dua miliar rupiah.

Aktor Hong Kong itu juga bergabung dengan 50 artis lain. Mereka menggalang dana. Juga memberi semangat kepada warga di pusat karantina dan petugas medis lewat lagu Wuhan, Are You Okay?

Mari pindah ke dunia industri. Orang terkaya di China, Jack Ma, menyumbang US$14 juta, sekitar Rp190,15 miliar, untuk membantu pengembangan vaksin virus corona. Pendiri Alibaba ini memang berjanji menyumbang US$144 juta atau sekitar Rp1,96 triliun untuk membantu rumah sakit dan membeli obat-obatan.

Miliarder Amerika Serikat, Bill Gates, berdonasi US$10 juta, atau sekitar Rp136,07 miliar. Perusahaan-perusahaan raksasa China, seperti Tencent, Baidu, dan ByteDance, tak mau ketinggalan. Mereka menyumbang US$115 juta, sekitar Rp1,56 triliun, untuk iset pengobatan baru. Huawei membangun Rumah Sakit Huoshenshan di Wuhan.

Bukan hanya pesohor, warga biasa juga memberi bantuan. Bacalah kisah Ba Baintolle. Pria asal Xinjiang. Dia rela menjual sebelas kuda untuk membantu Wuhan. Dana Rp170 juta dia kirim untuk membantu korban Corona.

“ Jangan menyerah. Hatiku bersamamu meski terpisah ribuan mil,” kata Ba, yang saban tahun menjual 400 kuda.

Ada pula donatur misterius. Seorang wanita dan anaknya dari Yixing, Provinsi Jiangsu, China Timur, menyumbang uang senilai 10 juta yuan atau Rp19,6 miliar untuk membendung penyebaran Covid-19.

Kemurahan-kemurahan hati itu memang belum meredakan virus Corona. Tapi, China merasa terbantu. Mereka sangat berterima kasih kepada negara sahabat.

“ Seorang teman yang hadir kala dibutuhkan adalah teman sejati,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying.

Beri Komentar
Roger Danuarta Ogah Lihat Cut Meyriska Tampil Modis