Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Panik Corona, Pelajar China Merajuk Keluar dari AS Naik Jet Pribadi

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 26 Maret 2020 17:01
Panik Corona, Pelajar China Merajuk Keluar dari AS Naik Jet Pribadi
Harga tiket untuk satu pesawat jet pribadi dari AS ke China bisa mencapai Rp373 juta.

Dream - Sejumlah pelajar China di Amerika Serikat berusaha menghindar dari wabah virus corona Covid-19. Mereka yang berasal dari keluarga kaya membujuk orangtuanya mengeluarkan ribuan dolar AS untuk membeli tiket pesawat jet pribadi agar bisa pulang.

Penerbangan yang harus mereka jalani sebenarnya bisa lebih lama, hingga 60 jam. Ini karena pesawat harus transit di sejumlah titik di kawasan pasifik.

Pengacara di Shanghai, Jeff Gong, membenarkan fenomena yang tengah terjadi itu. Dia sempat bertanya kepada anaknya yang bersekolah di Wisconsin apakah mau 180 ribu yuan (setara Rp410 juta) untuk uang saku atau tiket pesawat.

" Putriku memohon kepadaku untuk membawanya pulang. Dia bilang, 'Tidak Papa, saya tidak mau uang, saya mau pulang'," kata Jeff.

Pelajar dan mahasiswa China di AS berebut untuk bisa pulang. Angkanya fantastis, mencapai 50 ribu orang.

1 dari 5 halaman

Panik Gara-gara Banyak Penerbangan Dibatalkan

Kepanikan mereka semakin parah dengan adanya pemangkasan jadwal penerbangan. Pada Selasa, 24 Maret, 3.102 dari 3.800 jadwal penerbangan komersial dari dan menuju China dibatalkan, menurut penyedia data penerbangan VariFlight.

" Agensi pendidikan dan pihak sekolah mengadakan kontak dengan keluarga China apabila mereka ingin hadir dalam penyerahan piagam, mengingat kurangnya penerbangan," kata Annelies Garcia, direktur komersial Private Fly, perusahaan global untuk layanan sewa penerbangan.

Alhasil, harga tiket untuk bangku pesawat sewaan naik. Tidak hanya karena jumlah permintaan meningkat, tetapi juga diberlakukannya pembatasan penerbangan.

Beijing sudah melarang penerbangan dari luar negeri dan Shangai akan menyusul secepatnya. Sedangkan Hong Kong dan Makau sudah memblokir penerbangan transit.

2 dari 5 halaman

Harga Tiket Bisa Rp373 Juta

Air Charter Service yang berbasis di AS bisa menerbangkan penumpang dari Los Angeles menuju Shanghai menggunakan pesawat Bombardier 6000 berkapasitas 14 bangku. Tiketnya dijual dengan harga luar biasa mahal, US$23 ribu, setara Rp373 juta per bangku.

" Kami telah mengatur sejumlah jet pribadi yang bepergian dari AS ke China, memulangkan warga negara China dengan rute termasuk New York dan Boston ke Shanghai, San Jose ke Hong Kong dan Los Angeles ke Guangzhou," kata manager humas dan pemasaran Air Charter Service, Glemm Phillips.

Meski demikian, orang kaya pun tetap harus bergulat dengan logistik. Sebab, ada pemberitahuan bagi para penyedia jasa sewa penerbangan menyebutkan pesawat jet pribadi yang terdaftar di China tidak diizinkan mendarat di AS.

Demikian pula dengan pesawat yang terdaftar di AS tidak bisa mendarat di China. Sehingga, menjadi tantangan tersendiri untuk bisa masuk ke masing-masing negara tersebut.

" Pemerintah Tiongkok enggan membiarkan orang-orang di luar negeri kembali, meskipun mereka tidak dapat membuatnya terlalu jelas. Kami telah menerima banyak panduan verbal untuk membatasi penerbangan charter hari ini dan pintu ditutup dengan cepat," kata salah satu penyedia jasa sewa penerbangan.

Sumber: Straits Times

3 dari 5 halaman

Kisah Nembro, Desa yang Tak Sanggup Lagi Bunyikan Lonceng Kematian karena Corona

Dream - Seperti puluhan negera lain, Italia kini berjuang melawan virus corona baru, Covid-19. Sudah 74.386 orang di Negeri Spaghetti terinfeksi, 7.505 di antaranya meninggal dunia.

Italia seolah jadi episentrum baru pandemi ini. Angka infeksi di negeri para Don itu hampir menyusul jumlah kasus di China, yang tercatat mencapai 81.726. Tingkat kematian di Italia bahkan dua kali lipat dari Negeri Tirai Bambu, yang tercatat 3.291 kasus. Separuh angka kematian di Italia.

Laporan jurnalis senior, Mario Calabresi, yang dimuat laman South China Morning Post, cukup kiranya menggambarkan betapa berat rakyat Italia menghadapi pandemi yang sudah merenggut lebih dari 21 ribu nyawa di seluruh dunia ini.

Dalam artikel itu, Calabresi melaporkan situasi di Nembro. Kota kecil di Bergamo timur. Di Lombardy. Di wilayah itu, lonceng kematian terakhir kali berdentang pada 7 Maret silam. Bukan karena tak ada warga yang meninggal. Tapi mereka sudah tak sanggup lagi membunyikan lonceng tanda kematian itu.

" Kami memutuskan tidak membunyikan mereka [lonceng] sejak Sabtu itu, hari keempat pemakaman," kata Don Matteo Cella, pastor yang diwawancara oleh Calabresi.

Bila lonceng itu tetap dibunyikan saban ada warga meninggal, maka kota itu tak pernah sepi dari dentangan. Itu artinya bakal menimbulkan penderitaan tak terperi bagi warga. " Kami pikir itu yang terbaik untuk membiarkan semuanya terjadi," tambah Cella.

4 dari 5 halaman

Nembro berpenduduk 11.500 jiwa. Ada banyak gereja berdiri di bawah naungan satu parokhi, yang dipimpin oleh lima pastor. Kini, empat pastor sakit, hanya Cella satu-satunya yang masih bugar. Dia pastor termuda. Baru 40 tahun.

Selama wabah corona, Nembro tercatat sebagai wilayah dengan persentase kematian tertinggi. Baru-baru ini, sebanyak 70 orang meninggal hanya dalam 12 hari. Sepanjang tahun lalu, hanya ada 120 kematian di wilayah ini, atau rata-rata 10 kematian dalam sebulan.

Nembro memang punya sejarah wabah yang kelam. Pada tahun 1630, wabah membunuh hampir tiga perempat penduduk kota yang kala itu baru berjumlah 2.700. Hanya tersisa 744 orang yang hidup, untuk menceritakan tragedi mengerikan itu.

Cella mengungkap data paroki yang mencatat kematian di awal wabah corona. Pada awal merebaknya wabah itu, mereka telah mengadakan 39 upacara pemakaman di gereja, 26 di kuburan, dan 26 jasad lain mengantre untuk disemayamkan.

" Itu terjadi pada 91 orang, tanpa menghitung lagi orang yang mungkin meninggal dalam beberapa hari terakhir, yang belum kami dengar, atau bahkan orang nin-Katolik," tutur Cella.

Kini Nembro bak kota mati. Tak ada satupun orang berkeliaran di jalan. Semua toko tutup. Warung sembako dan apotek hanya melayani pesan antar. Kota kecil itu benar-benar beku mulai Sabtu itu, sejak Italia memutuskan menutup total Lombardy.

5 dari 5 halaman

Kebisuan Nembro memendam cerita awal merebaknya virus corona. Seorang pria dari Codogna, wilayah Lodi, menjadi orang pertama yang dites dan dinyatakan positif terjangkit virus corona. Pria tersebut dijuluki sebagai " Pasien Satu" . Sejak itu, rupanya epidemi benar-benar sudah menyebar.

Cella yakin wabah itu telah bergentayangan di kotanya sejak awal tahun, bahkan kala Natal tahun lalu, tanpa teridentifikasi. " Sebagai permulaan, panti jompo di Nembro terjadi anomali kematian."

" Pada bulan Januari, 20 orang meninggal karena pneumonia. Terakhir minggu ini menimpa ketua Yayasan Gueseppe Pezzotta, yang dikenal sebagai Bepo," sambung Cella.

Selama satu tahun lalu, tambah Cella, hanya ada tujuh kematian di panti jompo tersebut. Sejak Januari itu, jumlah jasad yang dimakamkan jadi banyak, minggu demi minggu. Semua orang mulai kasak-kusuk membicarakan pneumonia itu.

Sebelum Merdi Gras --karnaval untuk menyambut perayaan pra-paskah-- separuh penduduk kota itu menggigil di atas ranjang mereka. Sakit.

Cella ingat betul kala itu sedang berdiskusi membahas apakah perayaan itu akan melibatkan anak-anak. Tapi rencana itu harus pupus karena sebagian besar relawan yang bertugas mengawasi anak-anak jatuh sakit.

" Tapi saat itu tidak ada pembicaraan tentang virus corona di Italia. Siapa yang tahu berapa banyak dari kami yang sudah sakit dan membaik," kata dia.

Beri Komentar