Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Nima Arkani-Hamed (quantumdiaries.com)
Dream - Bicara soal ilmuwan muslim hebat di abad 21, kurang lengkap jika tidak membahas Nima Arkani-Hamed. Pria kelahiran Huston, 5 April 1972 ini tersohor di kalangan fisikawan dunia lewat beberapa temuannya. Bahkan, dia digadang-gadang menjadi pesaing Albert Einstein.
Sejak kecil Arkani sudah menyukai fisika. Maklum saja ayah dan ibunya yang merupakan warga Iran adalah fisikawan. Namanya mulai melambung sejak ia mempelajari teori dawai atau string theory.
Teori dawai ini muncul di tahun 1980-an sebagai pendekatan memahami sejumlah hal yang belum terjawab oleh fisika konvensional, misalnya gravitasi yang lemah. Teori ini diharapkan menjadi " Teori Segala Sesuatu" yakni, segala sesuatu terdiri dari untaian miliaran-miliaran dawai lebih kecil dari inti atom.
Sayangnya, dawai-dawai ini sebegitu kecilnya. Tak seperti inti atom yang mudah digambarkan, sehingga teori ini terkesan lebih filsafati daripada fisika.
Begitu lulus S1 fisika di Universitas Toronto, dengan gelar kehormatan ganda fisika dan matematika pada 1993. Dia mulai mendalami teori kuantum yang mendasari teori dawai.
Ia kemudian melanjutkan kuliah sampai meraih gelar PhD dari University of California Berkeley di tahun 1997. Selang empat tahun kemudian, Nima pindah meneliti di Universitas Harvard. Pada 2003 dia mendapatkan Gribov Medal dari Masyarakat Fisika Eropa dan di 2005, ia meraih 'Phi Beta Kappa' dari Universitas Harvard karena mengajar dengan terpuji.
Di 2008, Universitas Princeton 'membajaknya' dari Harvard untuk duduk di Institute of Advanced Studies, sebuah posisi yang pernah ditempati Albert Einstein, pada 1935-1955.
Arkani berhasil menorehkan namanya dalam tinta emas di bidang fisika partikel lewat teori revolusioner yang diusungnya tentang fungsi alam semesta. Jika terbukti benar, itu akan menjadi tambahan baru pertama bagi teori fisika partikel sejak Albert Einstein merevolusi bidang itu beberapa dekade lalu.
Situs Ground Report melaporkan, akselerator partikel terbesar yang sedang dibangun di Swiss telah menghabiskan dana antara US$5-10 miliar. Dan Arkani, fisikawan keturunan Iran, sedang menunggu kejeniusannya diuji.
Partikel memiliki perilaku yang kompleks dan membawa energi sedemikian rupa, sehingga sangat sulit untuk menentukan kecepatan dan posisi partikel pada waktu yang sama.
Baru-baru ini sebuah teori yang disebut teori superstring berusaha menjelaskan bahwa partikel bukanlah bentuk terkecil di dunia tetapi sebuah loop bergetar berukuran kecil yang disebut string. String tersebut bergetar di dalam 11 dimensi. Manusia hanya bisa mengenali tiga, termasuk dimensi waktu, dari 7 dimensi yang ada.
Arkani bersama ahli fisika Dimopoulos dan Dvali menyatakan bahwa beberapa model dimensi ini lebih besar dari yang diasumsikan, yang disebut model ADD (Arkani-Dimopoulos-Dvali). Sayangnya dimensi ini tidak bisa diamati karena dilindungi oleh kekuatan gravitasi. Mereka yakin bahwa pemecah partikel Hadron Collider akan dapat membantu dalam menjawab teori-teori tersebut.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya