Cegah Gelombang Baru Covid-19, Vaksin Johnson&Johnson Kantongi EUA di India

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Selasa, 10 Agustus 2021 12:01
Cegah Gelombang Baru Covid-19, Vaksin Johnson&Johnson Kantongi EUA di India
Menteri Kesehatan India Mansukh Mandaviya mengatakan kebijakan tersebut diambil sebagai upaya perang melawan pandemi di India,

Dream - India memberikan persetujuan penggunaan darurat satu suntikan vaksin Covid-19 produksi Johnson & Johnson. Langkah tersebut diambil sebagai upaya peningkatan kampanya vaksinasi Covid-19 di India karena adanya kekhawatiran gelombang infeksi baru.

Dilansir dari The Indian Express, Senin 9 Agustus 2021, Menteri Kesehatan India Mansukh Mandaviya mengatakan kebijakan tersebut diambil sebagai upaya perang melawan pandemi di India. Dilaporkan setidaknya 200.000 orang telah meninggal akibat infeksi Covid-19 selama dua bulan terakhir.

" India memperluas keranjang vaksinnya! Vaksin COVID-19 dosis tunggal Johnson & Johnson diberikan persetujuan untuk Penggunaan Darurat di India," kata menteri Mandaviya di Twitter.

1 dari 5 halaman

Diketahui kini terdapat empat vaksin yang telah diberi persetujuan penggunaan darurat di India yakni Covishield dari Serum Institute yang merupakan vaksin Oxford-AstraZeneca versi India, Covaxin dari Bharat Biotech, Sputnik V Rusia dan vaksin mRNA Moderna.

" Dengan senang hati kamu memberitahu Anda bahwa pada 7 Agustus 2021, Pemerintah India telah mengeluarkan Emergency Use Authorization (EUA) untuk vaksin dosis tunggal Johnson & Johnson Covid-19 di India," jelas keterangan pihak Johnson & Johson dalam sebuah pernyataan.

Sementara itu belum diketahui kapan vaksin buatan perusahaan AS tersebut akan sampai di India.

(Sumber: Indian Express)

2 dari 5 halaman

Cuma Sekali Dosis, Vaksin Johnson & Johnson Diklaim Efektif Lawan Varian Baru

Dream - Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat melaporkan hasil positif hasil pengujaian vaksin Covid-19 produksi dari Johnson & Johnson (J&J). Tak seperti vaksin Covid-19 lain, vaksin buatan perusahaan Negeri Paman Sam ini diklaim hanya butuh suntikan 1 dosis saja.

Dilansir Forbes, Kamis 25 Februari 2021, vaksin Johnson & Johnson memiliki keampuhan hingga 66 persen dalam mencegah Covid-19. Selain itu, vaksin ini juga efektif 73 persen melawan penyakit parah dari varian Afrika Selatan (501Y.V2).

Vaksin ini juga sangat efektif mencegah hospitalisasi terkait Covid-19. Hingga kini, belum ada orang yang dilaporkan meninggal setelah 28 hari disuntik vaksin Johnson & Johnson.

Bila vaksin J&J mendapat izin, Johnson & Johnson akan menjadi vaksin ketiga di AS. Saat ini, AS sudah memakai vaksin Pfizer dan Moderna yang butuh dua kali suntikan.

3 dari 5 halaman

Cara Kerja Vaksin

Vaksin J&J menggunakan adenovirus untuk mengirmkan DNA ke dalam sel. Setibanya di sel, DNA itu membuat sel mereplika spike protein SARS CoV-2. Replika itu lalu " mengajari" sistem imun untuk melawan Covid-19 yang memiliki spike protein serupa pada permukaannya.

Wall Street Journal menyebut studi evaluasi vaksin J&J dilakukan di AS, Afrika Selatan, dan beberapa negara lainnya. Namun, vaksin ini hanya 42,3 persen efektif kepada Lansia berusia 60 tahun ke atas dan memiliki penyakit seperti diabetes serta hipertensi.

Di AS saja, vaksin J&J ampuh 72 pesen.

Sementara di Afrika Selatan vaksin ini ampuh dari 52 persen hingga 64 persen. Namun, vaksin J&J bisa melindungi dari kasus parah sebesar 73,1 persen hingga 81,7 persen pada dua pekan hingga sebelum usai vaksinasi.

4 dari 5 halaman

Target 100 Juta Vaksin

Vaksin J&J juga tidak harus disimpan di tempat penyimpanan ultra-dingin seperti vaksin Pfizer. Rencananya, 20 juta vaksin J&J akan siap beredar pada akhir Maret 2021.

Setelahnya, pihak J&J berambisi untuk mendistribusi hingga 100 juta vaksin COVID-19 tersebut pada akhir Juni.

Kesiapan vaksin J&J dinilai sebagai simbol bahwa perusahaan selalu siap melawan pandemi global, seperti yang dilakukan pada pandemi 1918.

" Satu abad lalu, Johnson & Johnson memaikan peran terdepan dalam melawan pandemi flu 1918, dan sejarah kita untuk mengkonfrontasi tantangan-tantangan kesehatan global terus berlanjut hingga hari ini," ujar Richard Nettles, wakil presiden J&J di bidang U.S. Medical Affairs.

(Sah, Sumber: forbes.com)

5 dari 5 halaman

Pemerintah AS Hentikan Pemberian Vaksin Covid-19 Produksi Johnson & Johnson

Dream - Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CD) dan Badan Regulator Obat AS (Food and Drugs Administration/FDA) Amerika Serikat mengumumkan penghentian sementara vaksin Covid-19 produksi Johson&Johnson (J&J) pada Selasa 13 April 2021 waktu setempat

Hal tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut karena dilaporkannya 6 kasus pembekuan darah pada waarga yang menerima vaksin. Dalam sebuah pernyataan resmi, FDA mengatakan 6,8 juta dosis vaksin J&J telah diberikan.

Kini FDA tengah menyelidiki enam kasus pembekuan darah langka dan parah yang dilaporkan terjadi pada pasien yang menerima vaksin. Penghentian sementara dan diumumkannya ke publik dianggap sebagai langkah penting.

" Jelas bagi kami bahwa kami perlu memberi tahu publik. Langkah ini juga akan memberikan waktu bagi komunitas perawatan kesehatan untuk mempelajari apa yang perlu mereka ketahui tentang cara mendiagnosis, mengobati, dan melaporkan," kata Janet Woodcock, MD, penjabat komisaris FDA, dikutip dari WebMD.

Dari enam kasus yang dilaporkan terkait pemberian vaksin Johnson dan Johnson, semuanya terjadi pada wanita berusia antara 18 dan 48 tahun. Satu wanita meninggal dan lainnya dalam kondisi kritis.

" Saya tahu informasi hari ini akan sangat mengkhawatirkan orang Amerika yang telah menerima vaksin Johnson dan Johnson," kata Anne Schuchat, MD, wakil direktur utama di CDC.

Sakit kepala, sakit kaki, sakit perut dan sesak napas adalah beberapa gejala yang juga dilaporkan setelah vaksin. Keenam kasus tersebut muncul dalam 6 hingga 13 hari sejak diterimanya vaksin Johnson and Johnson.

Beri Komentar