Katib Aam PBNU: Selesaikan Persoalan dengan Bersaudara

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 17 Januari 2020 06:12
Katib Aam PBNU: Selesaikan Persoalan dengan Bersaudara
Gus Yahya menyampaikan pesan Paus Fransiskus mengenai pentingnya menyelesaikan konflik antaragama dengan pendekatan persaudaraan.

Dream - Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Yahya Cholil Staquf, mengingatkan masyarakat dunia agar kembali pada akar keberadaan manusia dalam menyelesaikan semua persoalan, yaitu persaudaraan. Pesan itu disampaikan, dengan mengutip Paus Fransiskus dalam forum Inisiatif Agama-Agama Ibrahim yang digelar di Vatikan, 14 hingga 17 Januari 2020.

" Diskusi yang digelar sejak pagi hingga sore seharian pada Rabu (15 Januari) di Gregorian University, Roma mengerucutkan sikap dan langkah bersama dalam menghadapi kemelut kemanusiaan dewasa ini, yang sangat kental diwarnai oleh konflik antarkelompok agama," jelas Gus Yahya, melalui keterangan tertulis diterima Dream, Kamis 16 Januari 2020.

Gus Yahya bersama 18 tokoh agama dari seluruh dunia sempat mengunjungi Pemimpin Tertinggi Umat Katolik. Mereka diterima Paus Fransiskus di Basilica, Vatikan pada Rabu malam waktu setempat.

Dalam pertemuan itu, terang Gus Yahya, Pastor Bob Roberts asal Amerika Serikat menjelaskan kepada Sri Paus tentang hasil-hasil diskusi. Termasuk penegasan dukungan terhadap Piagam Persaudaraan Kemanusiaan yang ditandatangani bersama antara Paus Fransiskus dan Imam Agung Al Azhar, Syeikh Ahmad Al Tayeb, di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada Februari 2019 lalu.

1 dari 4 halaman

Keprihatinan Dunia

Pada kesempatan yang sama, kata Gus Yahya, Duta Besar Keliling AS untuk Kebebasan Beragama juga menyampaikan keprihatinan yang mendalam terhadap konflik antar-agama yang terjadi dewasa ini. Konflik seolah dibiarkan terjadi hingga ujungnya melanggar nilai-nilai kemanusiaan.

" Ungkapan itu persis seperti analisis yang dipaparkan dalam 'Deklarasi Gerakan Pemuda Ansor Tentang Islam Untuk Kemanusiaan (Humanitarian Islam)' pada 2017 yang lalu," ucap Gus Yahya.

Dia mendorong deklarasi tersebut harus ditindaklanjuti dengan langkah-langkah strategis yang nyata. Caranya dengan mambangun strategi transformatif melalui aktivisme sosial berupa pelayanan bagi masyarakat dalam arti luas, termasuk melindungi hak-hak kelompok minoritas sebagaimana selama ini dijalankan NU.

" Tentu dengan dukungan instrumen-instrumen dan sumberdaya-sumberdaya yang penuh," kata Gus Yahya.

2 dari 4 halaman

Diundang Vatikan, Khatib Aam PBNU: Agama Harus Jadi Solusi Atasi Masalah

Dream - Khatib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf, akan menghadiri Pertemuan Tingkat Tinggi Agama-agama Ibrahim yang digelar di Vatikan 14 hingga 17 Januari 2020. Dia diminta menyampaikan pandangan untuk membangun gerakan bersama menciptakan perdamaian dunia.

" Kali ini saya harus hadir karena agendanya luar biasa penting,” kata Gus Yahya melalui keterangan tertulis diterima Dream, Senin 13 Januari 2020.

Pria yang akrab disapa Gus Yahya itu mengatakan undangan ini merupakan kali kedua yang diterimanya dari Vatikan. Pada Oktober silam, dia diundang dalam pertemuan dunia membahas isu seputar euthanasia, namun berhalangan hadir.

Menurut Gus Yahya, forum kali ini diinisiasi oleh Multi-Faith Neighbours Network, organisasi antaragama berbasis di Amerika Serikat. Organisasi ini didirikan bersama oleh Imam Eksekutif All Dulles Area Muslim Society (ADAMS) Center, Mohamed Magid, pendiri Gereja Northwood di Keller, Texas, Pastor Bob Roberts, dan Presiden World Union for Progressive Judaism, Rabbi David Saperstein.

3 dari 4 halaman

Saatnya Semua Bergerak Bersama

Dalam pertemuan nanti, Gus Yahya akan mendorong digalakkannya dialog antaragama secara terus menerus. Juga diwujudkan dalam tindakan nyata, tidak hanya sebatas kutipan-kutipan dari Kitab Suci maupun pernyataan para tokoh agama.

" Sudah terlalu lama umat manusia menunggu para tokoh agama bicara sejujur-jujurnya tentang masalah-masalah yang nyata-nyata sedang menimpa umat manusia dewasa ini, termasuk permusuhan dan konflik yang bengis di antara kelompok-kelompok berbeda agama," kata Gus Yahya.

Ulama kelahiran Rembang, Jawa Tengah, itu menegaskan, hakikat agama diturunkan ke bumi untuk menolong manusia mencari jalan keluar dari setiap persoalan. Tetapi karena lemahnya sifat dasar manusia, agama tereduksi sebatas menjadi identitas kelompok dan digunakan untuk bersaing dan bertarung dengan yang berbeda.

" Pada titik itulah, agama menjadi sumber konflik," kata dia.

Dia menambahkan, agama harus dimerdekakaan dari jeratan posisi sebagai sumber masalah. " Mengembalikannya kepada tujuan hakiki sebagai landasan memecahkan masalah," ucap Gus Yahya.

4 dari 4 halaman

PBNU Apresiasi Sikap Anggota Banser yang Tak Terprovokasi

Dream - Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Robikin Emhas, mengapresiasi ketenangan Eko, anggota Badan Ansor Serba Guna (Banser) yang mendapat persekusi di Jakarta Selatan.

" Sikap sahabat Eko patut dipuji. Tenang, sabar, dan tidak terpancing provokasi berupa olokan, cacian, paksaan dan tindakan yang mengesankan diri paling tahu Islam," ujar Robikin dalam keterangan tertulisnya, Rabu 11 Desember 2019.

Dengan bersikap tenang, kata dia, membuktikan bahwa Eko memiliki kedalaman ilmu pemahaman yang lebih baik.

" Respons kader Banser tersebut justru membuktikan kedalaman kualitas pemahaman keagamaan warga nahdliyyin dan keluhuran akhlaknya. Sesuatu sebagaimana diajarkan oleh agama," kata dia.

Robikin mengatakan, Islam melarang pengafiran orang lain, apalagi sesama Muslim.

" Mudahnya menjatuhkan vonis kafir ini boleh jadi disebabkan karena ideologi takfiri yang belakangan berkembang di Indonesia," ujar dia.

Beri Komentar
Cara Samuel Rizal Terapkan Hidup Sehat Pada Anak