Kemenag: Saudi Janji Indonesia Jadi Negara Pertama Terima Kabar Musim Haji 2021

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 17 Maret 2021 08:01
Kemenag: Saudi Janji Indonesia Jadi Negara Pertama Terima Kabar Musim Haji 2021
Kepastian ini didapat setelah tim Ditjen PHU Kemenag bertemu dengan Dubes Saudi.

Dream - Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Haji dan Umroh (PHU) Kementerian Agama, Khoirizi, mengungkapkan Indonesia akan menjadi negara pertama yang mendapat informasi mengenai kepastian penyelenggaraan haji dari Pemerintah Arab Saudi. Hal ini didapat setelah Khoirizi bersama sejumlah pejabat Ditjen PHU bertemu dengan Duta Besar Arab Saudi, Esam Abid Althagafi.

" Kepada kami, Dubes menyampaikan bahwa Indonesia akan menjadi negara pertama yang menerima informasi kepastian haji, mengingat jumlah jemaahnya terbesar di dunia," ujar Khoirizi, dikutip dari Kemenag.

Pertemuan dengan Dubes Saudi berlangsung pada Selasa, 16 Maret 2021. Khoirizi menyatakan silaturahmi tersebut membahas kepastian serta persiapan haji 2021.

" Pertemuan juga membahas kemungkinan kunjungan tim akomodasi, katering, dan transportasi untuk melakukan persiapan pengadaan layanan jemaah haji 1442H/2021M di Saudi," kata dia.

 

1 dari 4 halaman

Rencana Baru Saudi

Khoirizi juga mengatakan Esam menjelaskan sampai saat ini belum ada keputusan terkait penyelenggaraan haji. Dalam pertemuan itu, didapat informasi mengenai rencana Saudi meminta update data penduduk Muslim kepada seluruh negara pengirim jemaah haji.

" Ini sepertinya akan digunakan untuk pemutakhiran pemberian kuota haji setiap negara pada musim-musim haji yang akan datang," ucap dia.

Diketahui, selama ini kuota haji ditetapkan dengan perhitungan 1 per 1.000 penduduk Muslim di suatu negara. Perhitungan ini mengacu pada Keputusan Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja sama Islam di Amman, Yordania, pada 1987.

Berdasarkan perhitungan tersebut, kuota jemaah haji Indonesia tiap tahunnya yaitu 211 ribu orang. Kuota itu dibagi menjadi 194 ribu untuk jemaah haji reguler dan 17 ribu jemaah haji khusus.

2 dari 4 halaman

Lihat Dua Sinyal Ini, Menag Masih Berharap Musim Haji 2021 Akan Digelar

Dream - Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, optimistis jemaah haji Indonesia tahun ini dapat berangkat ke Tanah Suci. Keyakinan ini muncul karena beberapa faktor terutama keberhasilan Saudi menggelar program vaksinasi Covid-19.

" Kami optimis kemungkinan diselenggarakannya haji tahun ini masih terbuka," ujar Gus Yaqut, dikutip dari Kemenag.

Gus Yaqut mengungkapkan Kerajaan Saudi sukses menjalankan program vaksinasi Covid-19 secara nasional, sama seperti yang telah dilakukan sama seperti di Indonesia.

Indikasi kedua adalah Saudi akan membuka kembali penerbangan internasional pada 17 Mei 2021.

Dari kedua hal tersebut, Gus Yaqut menangkap langka Saudi itu sebanyak sinyal positif terhadap peluang digelarnya musim haji pada tahun inii.

" Situasi ini lebih positif dibandingkan tahun lalu yang menutup penerbangan luar negeri, tak terkecuali selama musim haji 2020," kata Gus Yaqut.

 

3 dari 4 halaman

Persiapan Terus Dilakukan

Dia juga mengungkapkan persiapan penyelenggaraan haji terus dilakukan meski kemungkinan terlaksananya sangat tipis. Pihaknya juga telah melakukan berbagai upaya seperti berdiplomasi dengan otoritas Saudi.

" Antara lain dengan Duta Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia, Menteri Urusan Haji dan Umroh Arab Saudi yang baru saja di-reshufle, serta lembaga-lembaga terkait lainnya, baik melalui pertemuan tatap muka langsung, melalui video conference, serta melalui surat," kata dia.

Kemenag juga telah menyusun sejumlah skenario haji. Utamanya berdasarkan asumsi jumlah kuota dan penerapan protokol kesehatan.

" Skenario penyelenggaraan haji tahun ini yang kami susun meliputi beberapa hal, di antaranya penerapan protokol kesehatan, pergerakan jemaah di Tanah Suci, durasi masa tinggal jemaah, dan aspek ibadah haji di masa pandemi," kata dia.

 

4 dari 4 halaman

Biaya Haji Diprediksi Naik

Terkait biaya haji, Gus Yaqut menyatakan terdapat kemungkinan akan naik di masa pandemi Covid-19. Dia menjelaskan terdapat empat variabel yang menentukan kenaikan biaya tersebut.

" Terdapat 4 variabel berpengaruh, yaitu kuota, prokes, pajak tambahan dan kurs," kata dia.

Dari sisi kuota jemaah, Gus Yaqut menerangkan biaya akan semakin besar jika kuota jemaah kecil. Ini karena berkaitan dengan penerapan protokol kesehatan dan biaya transportasi yang mewajibkan tes PCR hingga pengaturan jarak antar kursi penumpang.

" Kami berharap ada kesepahaman atau sinkronisasi antara ketentuan protokol kesehatan dari Kementerian Kesehatan dan penerapannya dalam kegiatan transportasi menurut Kementerian Perhubungan, terutama mengenai jarak fisik atau physical distancing dan persyaratan test swab," kata Gus Yaqut.

Beri Komentar