Madrasah Indonesia Guncang Dunia

Reporter : Puri Yuanita
Rabu, 3 Agustus 2016 20:22
Madrasah Indonesia Guncang Dunia
Usia mungkin masih belia, Jejak Ocha dan Ave meninggalkan bekas manis di kancah dunia. Dari madrasah mereka terbang ke kancah internasional. Ini kisahnya.

Dream - Jarum jam mengarah ke angka 2. Matahari diluar sangat terik. Siang itu waktu belajar nyaris selesai. Tersisa satu jam lagi sebelum bel pulang berbunyi. Tapi tak ada raut gelisah di wajah anak-anak di ruangan itu. Masih asyik menyimak.

Wajah-wajahnya lugu itu serius menatap ke depan. Seorang guru berdiri di hadapan mereka. Sesekali dia melempar pertanyaan. Acungan tangan para siswa bersahutan. Mengacung tinggi-tinggi agar terlihat sang guru. Berharap ditunjuk dan menjawab pertanyaan itu.

Saat jawaban benar, seketika tepuk tangan seisi kelas bergemuruh. Kelas kian riuh ketika guru melanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan lain. Kegiatan itu berulang saban hari.

Begitulah suasana sehari-hari di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Pembangunan UIN Jakarta. Tak jauh beda dengan sekolah setingkat SD lainnya. Aktivitas belajar diselingi dengan candaan antara guru dan murid.

Hanya ada satu yang berbeda. Madrasah ini sangat spesial. Disini lahir siswa-siswa berprestasi. Bersinar di tingkat lokal bahkan sampai internasional.

Dan dunia pendidikan belum lama mereka buat bangga. Dua siswa MI ini menyedot perhatian masyarakat. Berhasil menyabet Gold Prize dalam kejuaraan Asian Robotic di Malaysia.

Dua calon cendekiawan itu Syahrozad Zalfa Nadia atau Ocha. Usianya baru 9 tahun. Dia duduk di bangku kelas 5 Ibtidaiyah. Seorang lagi, sang adik bernama Avicenna Roghid Putra Sidik. Karib disapa Ave, dia baru berusia 6 tahun. Murid Taman Kanak-kanak (TK) B Madrasah Pembangunan UIN Jakarta.

Usianya mereka memang belia. Belum belasan tahun. Tapi jangan remehkan umur itu. Ocha dan Ave adalah raja kompetisi robotik level dunia. Lawannya tak sembarangan. Mereka berdua menundukan kontestan lain yang sudah mahasiswa.

*****

1 dari 2 halaman

Jatuh Cinta pada Robot

Dream - Meski jenius, sepintas sosok Ocha dan Ave tak berbeda dari anak-anak kebanyakan. Senang bermain. Tak melulu Berkutat dengan buku ajar. Namun bakal cerdas seolah hadir dalam diri mereka. Sosok yang aktif dan selalu ingin tahu.

Ya, di sekolah, Ocha dikenal aktif dan rajin. Selalu antusias ketika gurunya mengajukan pertanyaan. Di sela-sela jam istirahat, bocah itu senang membaur bersama siswa lainnya.

Tak puas hanya sibu di kelas, Ocha juga memiliki segudang kegiatan lain di madrasah. Dua kegiatan eksktrakurikuler diambilnya, Tahfidz Quran dan Pramuka.

Tak kalah aktifnya dengan Ocha, sang adik Ave yang masih TK, juga mengikuti kegiatan ekstrakurikuler robotik. Dari sinilah perkenalan kakak beradik itu dengan 'dunia robot' dimulai.

Ave lebih dulu memahami cara merakit robot. Sampai akhirnya jadi hobi dan berhasil menularkan ilmunya pada sang kakak.

" Awalnya belajar di ekskul TK, mulai sukanya di situ," kata Ave saat berbincang dengan Dream di Madrasah Pembangunan UIN Jakarta, Selasa, 2 Agustus 2016.

Ocha baru jatuh cinta pada bidang robotik sejak pertengahan 2015. Berawal dari keisengan sang adik mengajaknya bermain merangkai robot.

" Awalnya suka nemenin adik. Sejak nemenin adik latihan robot jadi aku suka, ikut ngerakit juga, jadi tertarik ikut lomba juga," ujar Ocha.

Kesenangan merakit robot awalnya cuma dianggap sekadar hobi oleh sang ibu. Sampai kabar mengejutkan menghampirinya. Instruktur ekskul robotik Ave mengatakan, bocah TK itu meraih nilai tertinggi di bidang robot.

" Awalnya Ave yang ikut ekskul robot di TK-nya, kemudian disampaikan sama instrukturnya kalau Ave mempunyai nilai lebih dari teman-temannya," ujar sang ibunda, Hj. Himatul Laily Waisnaini, M.Pd.

Sejak tahu potensi Ave itu, sang ibu mulai mendukungnya untuk menjajal level kompetisi. Diawali dari ajang lomba robotik tingkat daerah. Tak dinyana perjalanannya cukup mulus. Ave melenggang hingga lolos ke tingkat nasional.

Di tahap inilah rintangan muncul. Ave tak boleh tampil sendiri. Hanya peserta yang terdiri dari beberapa orang yang boleh ikut kompetisi. 

" Kenapa tidak ditimkan dengan kakaknya Ocha? Sementara kan yang nemenin Ave kan Ocha. Alhamdulillah terus-terusan juara sampai juara tingkat internasional dua kali," kenang Laily.

Selama berlaga di tiap kompetisi, Laily turun tangan langsung menjadi pembimbing kedua buah hatinya. Hebatnya, wanita itu sama sekali tak memiliki dasar keilmuan bidang robotik. Ia hanya belajar otodidak. Pelan-pelan mempelajari keterampilan anak-anaknya.

" Alhamdulillah sampai saat ini saya masih jadi pembimbing mereka, saya tidak ada basic sama sekali ke arah sana (robotik), mengalir begitu saja. Berbarengan dengan Ave bermain merakit robot, belajar dari internet juga akhirnya," ujar dia.

Seiring waktu kemampuan Ocha dan Ave merakit robot kian mumpuni. Apalagi banyak event mereka ikuti. Tapi mereka tak berpuas diri. Keduanya tetap rajin mengasah keterampilan merakit robot. Selepas pulang sekolah, mereka berkutat dengan dunai robotic.

Sementara di sekolah, keduanya berusaha fokus pada pendidikan reguler yang dijalani. Alhasil nilai akademisnya pun konsisten di atas rata-rata. Berbanding lurus dengan pretasi cemerlang yang diukir di bidang robotik.

" Belajarnya kalau mau ada lomba dan biasanya di waktu kosong, pulang sekolah belajar dulu pelajaran sekolah, terus main robot sama adik," ucap Ocha, yang bercita-cita menjadi Dokter Spesialis Anak.

Dalam tiap proses pembuatan robot, Ocha lebih sering membuat program komputer yang berfungsi sebagai penggerak robot. Sementara sang adik bertugas sebagai perakit robot sekaligus yang memainkannya ketika lomba.

" Ocha yang bikin programnya di komputer, kalau adik yang maininnya," ujar dia.
-----


2 dari 2 halaman

Menggenggam Dunia dengan Madrasah

Dream - Pilihan Laily menitipkan Ocha dan Ave ke pendidikan MI terbukti tak salah. Maklum, masih ada anggapan tak sedap dengan sekolah madrasah. Kebanyakan menganggap tak lebih baik dari SD.

Tapi Laily yakin dengan putusannya itu. Menjadi juara tingkat dunia membuat Laily bersyukur dengan pilihannya. Madrasah telah turut andil dalam memuluskan langkah anak-anaknya menuju level dunia.

Tak kalah dengan sekolah-sekolah bergengsi berlabel internasional, madrasah mampu mengembangkan kemampuan intelektual bahkan spiritual buah hatinya.

" Madrasah itu jangan salah, madrasah adalah sekolah yang sangat bergengsi dan jangan remehkan madrasah," pungkasnya.

Pihak madrasah tempat Ocha dan Ave mengenyam pendidikan saat ini pun selalu mendukung pengembangan bakat bocah-bocah 'ajaib' itu. Meski bukan dukungan materil.

" Alhamdulillah, dari madrasah sebagai pendukung. Memang dari MI-nya belum ada fasilitas khusus, tetapi support dan dukungannya sangat besar untuk membantu mengembangkan untuk berlanjut ke tingkat Internasional berikutnya," kata Laily.

Puas melihat pencapaian sang anak, Laily pun bertekad akan kembali menyekolahkan Ocha di Madrasah Tsanawiyah (MTs). Demikian pula Ave. Harapannya, lewat madrasah mereka tak hanya akan cerdas secara intelektual tapi juga spiritual. 

" Saya bangga kepada seluruh anak saya, dan berharap mereka jadi individu yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar, bangsa dan negara, serta agama," tandasnya.

Riuh kelas MI setelah kemenangan Ocha dan Ave mungkin akan terus bergema. Masih akan ada anak-anak belia mengacungkan jari tangan menjawab pertanyaan sang guru. Hingga nantinya lahir cendekia-cendekia baru harapan bangsa. (Laporan: Maulana Kautsar)

 

Beri Komentar