Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Pengecekan Pemprov (Merdeka.com)
Dream - Kepala Biro Tata Pemerintahan DKI Jakarta, Premi Lasari, menyatakan masih terdapat beberapa rukun warga (RW) yang termasuk dalam zona merah virus COVID-19.
Premi menyebutkan, pengendalian ketat berskala lokal (PKBL) tahap pertama untuk mengendalikan penyebaran Covid-19 yang telah dilakukan sejak 4 hingga 18 Juni 2020 dan diikuti oleh 66 RW. Setelah PKBL tahap pertama, tingga 5 RW yang berstatus zona merah.
" Jadi kita punya PR 5 RW yang merah yang harus kita ubah menjadi kuning atau bahkan hijau," kata Premi dalam diskusi dalam akun YouTube SDGs Jakarta, Kamis 25 Juni 2020.
Premi juga menyebut adanya penambahan RW berstatus zona merah di Jakarta. RW tersebut diyakini berjumlah 22 RW, sehingga saat ini total yang masuk zona merah ada 27 RW.
" Jadi nanti di PSBL tahap ke dua yang kami langsungkan pada 19 Juni hingga 2 Juli, ada 27 RW," kata dia.
Premi lalu mengimbau agar semua pihak dapat bekerjasama dalam mematuhi aturan yang ada. Bila aturan dipatuhi, kata Premi, RW yang berzona merah dapat berubah menjadi zona kuning ataupun hijau.
" Semua elemen masyarakat yang lainnya untuk bisa bersama-sama dengan Pemprov DKI, kita melaksanakan rencana aksi kegiatan pada lokasi-lokasi tersebut," jelasnya.
Sumber: Merdeka.com
Dream - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan membenarkan laporan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 yang menyatakan Jakarta Pusat sebagai kota dengan kasus Corona tertinggi di Indonesia.
Menurut Anies, banyaknya jumlah pasien Covid-19 di salah satu kota administrasinya itu dikarenkan gencarnya langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan tracing dan tes kepada masyarakat.
" Memang benar di sini dilakukan active case finding, jadi karena digenjot untuk mencari kasus," kata Anies Baswedan di Balai Kota Jakarta, Rabu 24 Juni 2020.
Dia menyebut kasus Corona di Jakpus kebanyakan berasal dari masyarakat yang tak memperlihatkan gejala alias Orang Tanpa Gejala (OTG). Inilah yang menyebabkan tidak ada kenaikan jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit.
" Kebanyakan tanpa gejala, jadi kalau lihat jumlah yang dirawatnya tidak mengalami lonjakan tapi jumlah yang ditemukan positifnya," tutur Anies.
Anies menyatakan, rekor sebagai kota paling banyak kasus Covid-19 tidak lantas membuat pihaknya mengurangi upaya tes pemeriksaan kepada masyarakat. Dengan aktif memeriksa warga terduga Covid-19, masyarakat bisa terlindungi dan segera diisolasi.
" Kita akan terus melakukan active case finding, jadi bagi kami ketemu kasus positif itu adalah kesempatan untuk mengisolasi masyarakatnya lebih selamat, yang positifnya juga jadi tahu karena masih ada wabahnya," kata Anies Baswedan.
Namun Anies memastikan Jakarta tidak lagi berada di zona merah Corona. Mantan Mendikbud itu juga mengatakan penularan Covid-19 berangsur terkendali.
" Kita berharap seperti dulu banyak wilayah kan Jakarta kan merah, tapi dengan kita melakukan testing yang meningkat, kemudian pelayanan kesehatan untuk mereka, akhirnya sekarang posisinya mayoritas sudah aman," ucap Anies.
Meski demikian, dia tidak menampik masih ada RW yang rawan Corona.
" Tadi juga masih ada RW-RW yang masih ada monitoring lebih ketat. ada sekitar 20-an (RW)," tandas Anies.
Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 merilis data kabupaten/kota yang memiliki kasus Corona tertinggi.
Berikut daftarnya:
1. Jakarta Pusat, DKI Jakarta (149,2 per 100.000 penduduk)
2. Kota Jayapura, Papua (108 per 100.000 penduduk)
3. Kota Surabaya, Jawa Timur (107,6 per 100.000 penduduk)
4. Kota Banjarmasin, Kalsel (94,5 per 100.000 penduduk)
5. Kota Mataram, NTB (20,10 per 100.000 penduduk)
6. Luwu Timur, Sulsel (87,6 per 100.000 penduduk)
7. Mimika, Papua (87,3 per 100.000 penduduk)
8. Kota Manado, Sulut (79,6 per 100.000 penduduk)
9. Jayapura, Papua (78,5 per 100.000 penduduk)
10. Kota Makassar, Sulsel (73,7 per 100.000 penduduk).
Sumber: https://www.liputan6.com/news/read/4287894/kasus-corona-di-jakarta-pusat-tertinggi-di-indonesia-ini-kata-anies
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya