Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Plt Direktur Sahabat Peduli Lombok (PLT) Dyah Ayu Pratiwi Sahertian (Foto: Al Azhar Peduli)
Dream - Gempa Lombok telah menghancurkan ribuan rumah dan membuat sekitar 555 nyawa melayang. Salah satu perempuan yang menjadi korban Gempa Lombok yaitu Dyah Ayu Pratiwi Sahertian, 35 tahun.
Meski rumah Dyah hancur, dia tetap memilih membantu warga dengan terjun langsung ke lapangan bersama relawan. Dyah pun kini didapuk menjadi Plt Direktur Sahabat Peduli Lombok (PLT).
SPL merupakan mitra LAZ Al Azhar dalam melakukan aksi kemanusiaan di Lombok termasuk pada saat masa tanggap bencana dan pemulihan. Selama masa recovery kini LAZ Al Azhar dan SPL menargetkan mendirikan 1.000 rumah sementara, 500 masjid darurat dan 500 sekolah darurat.
Dalam proses pemulihan ini, Dyah terus mengawal pendirian rumah bagi para korban. Di mata Dyah, gempa Lombok bukan hanya menghancurkan apa yang dia miliki, namun juga menghancurkan tanah kelahirannya.
“ Saya memang cukup tak peduli dengan diri saya sendiri. Karena bagi saya, kebutuhan saudara saya adalah prioritas utama”, ujar Dyah.

Saat ini Dyah dan relawan dari SPL tinggal di tenda bersama relawan dari berbagai daerah lainnya. Ibu satu anak ini hampir setiap hari menyusuri wilayah-wilayah yang belum tersentuh bantuan.
Selama itu juga Dyah rela bangun lebih awal hanya untuk memberikan bantuan pada para korban berupa makanan, layanan medis, dan perlengkapan lainnya.
“ Saya pribadi membuang segala ego saya sendiri, sekalipun rumah saya juga hancur. Saya merasa harus mampu bisa berbagi dengan sesama. Selagi Allah memberi saya kesempatan segala kemudahan dan segala kenikmatan. Dan bagi saya, senyum di wajah pengungsi merupakan pembalasan paling berharga atas perjuangan selama ini," ucap Dyah. (ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya