Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Kisah Memilukan Insiden Surabaya Membara

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 13 November 2018 08:01
Kisah Memilukan Insiden Surabaya Membara
Tiga penonton tewas saat menyaksikan pagelaran drama kolosal ini.

Dream - Pagelaran drama kolosal `Surabaya Membara` yang seharusnya meriah berubah menjadi getir. Sejumlah orang yang menyaksikan pagelaran pada Jumat malam, 9 Oktober 2018, mengalami kecelakaan.

Mereka terjatuh dari jembatan rel atau viaduk setinggi enam meter ketika kereta api melintas. Tiga orang meninggal di tempat dan belasan lainnya luka-luka.

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini sempat menyebut tidak ada izin kepada Pemkot atas pagelaran itu. Dia pun mengaku tidak mengetahui seluk-beluk pagelaran tersebut.

Pernyataan itu dibantah Ketua Panitia Penyelenggara Pagelaran Drama `Surabaya Membara`, Taufik Hidayat. Dia mengaku mengantongi izin sekaligus mendapatkan bantuan personel pengamanan dari kepolisian.

Dikutip dari Liputan6.com, para korban yang meninggal yaitu Erikawati, 9 tahun, Helmi Surowijaya, 16 tahun, dan Bagus Ananda, 17 tahun.

1 dari 3 halaman

Digenggam Ibu Namun Lepas

Erikawati meninggal akibat jatuh dari viaduk. Bocah wanita 6 tahun ini sempat digenggam sang ibu namun terlepas akibat terdorong kerumunan orang. Mereka panik lantaran ada kereta api melintas.

" Di tengah kerumunan orang panik, putri saya terlepas dari genggaman ibunya," ujar ayah Erika, Sahluki.

Sahluki menyaksikan langsung istri dan anaknya terjatuh dari ketinggian. Sang istri, Liana, mengalami luka akibat kejadian tersebut.

" Istri saya sekarang dirawat di Rumah Sakit Primasatya Husada Citra (PHC) Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya karena ada bagian tulang di tubuhnya yang patah," ucap Sahluki.

 

2 dari 3 halaman

Pamit Terakhir Kalinya

Helmi Surowijaya meninggal dalam kondisi mengenaskan. Jenazahnya sempat hanya diberi keterangan Mr. X karena tidak teridentifikasi.

Harijanto sempat melihat jenazah Mr. X. Dia begitu terpukul ketiga menyaksikan sendiri jasad di depannya adalah Helmi, anaknya.

Harijanto mengatakan Helmi sebelumnya sempat pamit ingin menonton pagelaran drama kolosal `Surabaya Membara`. Remaja itu belum pernah menyaksikan pagelaran itu sebelumnya.

Harijanto tidak menyangka pamitan itu sekaligus untuk yang terakhir kalinya. Anaknya kini sudah tidak ada di dunia.

" Ini baru pertama kalinya anak saya nonton drama kolosal Surabaya Membara di Tugu Pahlawan. Dia nonton sendirian," kata dia.

 

3 dari 3 halaman

Mimpi Buruk Ayah

Bagus Ananda menjadi salah satu korban tewas insiden maut Surabaya Membara. Jenazahnya tiba di rumah duka pada Sabtu pagi, 10 November 2018, keesokan hari setelah kejadian.

Ayah Bagus, Sumari, mengatakan anaknya baru pertama kali menyaksikan pagelaran tersebut. Menurut dia, Bagus sempat meminta izin namun Sumari tidak mengabulkan.

Pertimbangan Sumari, lokasi pagelaran tersebut pasti sangat ramai. Ditambah lagi, kondisi anaknya belum pulih benar usai mengalami kecelakaan jatuh dari motor.

Tetapi, Bagus tak mendengarkan larangan Sumari. Pemuda itu tetap pergi untuk melihat pagelaran drama tersebut.

Sumari mengaku sempat bermimpi buruk lima hari sebelum kejadian. Tetapi, dia tidak menyangka mimpi tersebut adalah firasat anaknya akan tertimpa kemalangan.

" Saya bermimpi celana dalam saya dicuri orang, orang itu lalu lari, ketika saya teriaki maling, orang itu malah meringis, itu firasat saya tidak enak," ucap dia.

(ism, Sumber: Liputan6.com/Maria Flora)

Beri Komentar