Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
© MEN
Dream - Aturan duduk berjarak di KRL Commuter Line telah dihapuskan untuk rute perjalanan Jabodetabek dan Yogyakarta-Solo pada Rabu, 9 Maret 2022, kemarin. Kebijakan baru ini tertuang dalam Surat Edaran Kemenhub Nomor 25 Tahun 2022.
Marka di tempat duduk penumpang juga telah dicabut oleh para petugas. Hal tersebut dikarenakan adanya peningkatan kapasitas di KRL yang sebelumnya adalah 45 persen menjadi 60 persen.
Selain itu anak usia di bawah lima tahun (balita) juga sudah diperbolehkan menggunakan KRL di luar jam-jam sibuk, dengan syarat didampingi orang tua dan mengikuti protokol kesehatan secara ketat.
Terkait hal ini, Epidemiolog Centre for Environmental and Population Health Griffith University Australia, Dicky Budiman mengungkapkan bahwa sebenarnya hal ini begitu berbahaya.
" Kalau bicara protokol kesehatan tidak ada jarak ini berbahaya sekali. Kita ini enggak boleh euphoria," ujar Dicky dalam keterangan wawancaranya bersama Liputan6.com pada Rabu, 9 Maret 2022.
Menurut Dicky, meskipun dikatakan bahwa Indonesia telah melewati puncak Omicron hal tersebut bukan berarti kita telah melewati masa kritis.
" Ini yang saya khawatirkan, kita euphoria. Pandemi belum selesai, berbahaya. Ingat lho vaksinasi yang disebut 70 persen sekalipun bukan dari total populasi," kata Dicky.
" Bicara booster masih kurang dari 10 persen, kurangnya juga jauh, dan itu berbahaya. Kematian juga masih bisa terjadi, tinggi," tambahnya.
Menurut Dicky, pelonggaran yang diberikan sebaiknya tidak dilakukan secara bersamaan pada semua aspek apalagi terkait dengan protokol kesehatan. Justru, penguatan dalam hal protokol kesehatanlah yang sebenarnya harus dilakukan saat ini.

" Kalau ada pelonggaran di satu aspek, sekali lagi, penguatan di aspek 5M itu jadi jangkar terakhir. Perilaku itu, personal hygine, sanitasi lingkungan, community behaviour itu jadi jangkar terakhir pengaman kita," ujar Dicky.
Tak hanya soal protokol kesehatan berupa jaga jarak, Dicky mengungkapkan pelonggaran terkait penggunaan masker pun saat ini belum bisa untuk dilakukan.

" Belum ada landasan yang bisa memperkuat rekomendasi mencabut masker. Bahkan saya melihat sampai akhir tahun atau awal tahun depan masih perlu (menggunakan masker)," ujar Dicky.
Dicky mengungkapkan bahwa bicara pandemi tidak hanya berfokus pada situasi yang sedang melandai. Melainkan pula soal kualitas udara terutama indoor.
" Bahkan era Omicron ini mensyaratkan masker ini harus N95, KN95, atau yang setara. Ini sangat menyayangkan sekali kalau akhirnya terjadi orang abai atau pemerintah tidak memperkuat masalah 5M ini," kata Dicky.
Sumber: Liputan6.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya