Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Survei: Kelamaan Karantina, Bikin Lupa Hari

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Selasa, 19 Mei 2020 15:02
Survei: Kelamaan Karantina, Bikin Lupa Hari
Orang jadi lupa karena terlalu lama berada di dalam ruangan.

Dream - Sejumlah negara menerapkan karantina di tengah pandemi virus corona. Hal ini dilakukan sebagai upaya pencegahan persebaran Covid-19.

Kebijakan karantina atau isolasi diri mengharuskan tiap orang untuk berdiam di rumah. Kondisi ini membuat banyak orang mulai kesulitan mengingat hari dan minggu yang dilaluinya.

Dikutip dari Foxnews.com, penelitian yang dilakukan OnePoll atas nama RXBAR mengungkapkan, banyak orang di Amerika Serikat lupa hari ketika bekerja di rumah dan melakukan isolasi mandiri.

Menurut hasil studi, sekitar 59 persen responden merasa tidak yakin dalam menentukan hari ketika mereka menjawab pertanyaan survei.

Dari 2.000 responden, tingkat kelupaan orang-orang terhadap hari mencapai rata-rata lima kali dalam seminggu. Selain itu, 80 persen responden merasa perbedaan hari menjadi samar karena terlalu banyak menghabiskan waktu dalam ruangan.

 

1 dari 5 halaman

Efek Lain

Berdasarkan survei tersebut, berdiam di dalam rumah untuk waktu yang lama ternyata memiliki efek lainnya.

Hampir tiga perempat dari responden mengatakan, mereka telah menyerah mengenakan busana formal selama bekerja di rumah. Mereka kini memilih menggunakan piyama dan celana training.

Lebih lanjut, 65 persen menyebut, sulit menjaga diri untuk tetap termotivasi akibat terlalu banyak menghabiskan diri di dalam rumah.

Namun, 22 persen responden lainnya tetap berpakain rapi dan formal untuk tetap termotivasi dan fokus saat bekerja di rumah.

Berdiam diri selama masa pandemi ini juga ternyata membawa pengaruh baik terhadap sebagian orang.

Misalnya, sebanyak 69 persen responden menerapkan kebiasaan ngemil makanan sehat serta tetap berolahraga demi menjaga motivasi diri.

2 dari 5 halaman

Penelitian: Virus Corona Lebih Cepat Menular Lewat Mata

Dream - Menurut penelitian Hong Kong University (HKU), mata dan saluran pernapasan atas menjadi rute yang paling membahayakan bagi penularan virus corona ke dalam tubuh manusia.

Tim peneliti menemukan virus SARS-CoV-2, jenis virus corona yang menyebabkan penyakit Covid-19, 100 kali lebih menular ketika melewati mata dan saluran pernapasan atas daripada Sindrom Pernapasan Akut (SARS) dan flu burung.

Tes laboratorium mengungkapkan jumlah virus SARS-CoV-2 jauh lebih banyak daripada SARS di saluran pernapasan dan sel-sel yang melapisi permukaan mata yang disebut dengan konjungtiva.

3 dari 5 halaman

Penemuan Pertama di Dunia

Tim yang dipimpin oleh Dr. Michael Chan Chi-wai, dari jurusan kesehatan masyarakat HKU, menjadi salah satu peneliti pertama di dunia yang membuktikan bahwa virus corona dapat menginfeksi manusia melalui kedua titik masuk tersebut. Temuan Dr. Michael dan timnya ini telah dipublikasikan di The Lancet Respiratory Medicine.

Dr. Michael dan timnya membiakkan sampel virus SARS-CoV-2 yang diambil dari saluran pernapasan atas dan mata di laboratorium. Setelah itu mereka mempelajari dan membandingkannya dengan SARS dan H5N1.

4 dari 5 halaman

Lebih Mudah Menular Melalui Mata

" Kami menemukan bahwa SARS-CoV-2 jauh lebih efisien dalam menginfeksi saluran pernapasan bagian atas dan konjungtiva manusia daripada SARS, dengan jumlah virus sekitar 80 hingga 100 kali lebih tinggi," terang Dr. Michael.

" Hal ini menjelaskan bahwa cara penularan SARS-CoV-2 lebih tinggi daripada SARS. Studi ini juga mengungkapkan fakta bahwa mata mungkin merupakan rute penting infeksi SARS-CoV-2 pada manusia," tambah Dr. Michael.

5 dari 5 halaman

Imbauan Tidak Menyentuh Mata

Studi ini memperkuat imbauan kepada masyarakat untuk tidak menyentuh mata dan sering mencuci tangan untuk menghindari infeksi virus corona.

Apalagi para peneliti sebelumnya menemukan bahwa virus corona bisa bertahan selama tujuh hari pada permukaan stainless steel dan plastik.

Temuan dari Dr. Michael dan lainnya juga menantang asumsi yang dipegang secara luas di tahap paling awal krisis Covid-19.

Sebelumnya ada asumsi bahwa staf medis akan terlindungi secara memadai hanya dengan memakai masker N95 dan pakaian pelindung, tanpa kacamata khusus.

Sumber: SCMP

Beri Komentar