Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Sebagian Responden Mengaku Lupa Hari Apa. (Foto: Shutterstock)
Dream - Sejumlah negara menerapkan karantina di tengah pandemi virus corona. Hal ini dilakukan sebagai upaya pencegahan persebaran Covid-19.
Kebijakan karantina atau isolasi diri mengharuskan tiap orang untuk berdiam di rumah. Kondisi ini membuat banyak orang mulai kesulitan mengingat hari dan minggu yang dilaluinya.
Dikutip dari Foxnews.com, penelitian yang dilakukan OnePoll atas nama RXBAR mengungkapkan, banyak orang di Amerika Serikat lupa hari ketika bekerja di rumah dan melakukan isolasi mandiri.
Menurut hasil studi, sekitar 59 persen responden merasa tidak yakin dalam menentukan hari ketika mereka menjawab pertanyaan survei.
Dari 2.000 responden, tingkat kelupaan orang-orang terhadap hari mencapai rata-rata lima kali dalam seminggu. Selain itu, 80 persen responden merasa perbedaan hari menjadi samar karena terlalu banyak menghabiskan waktu dalam ruangan.
Berdasarkan survei tersebut, berdiam di dalam rumah untuk waktu yang lama ternyata memiliki efek lainnya.
Hampir tiga perempat dari responden mengatakan, mereka telah menyerah mengenakan busana formal selama bekerja di rumah. Mereka kini memilih menggunakan piyama dan celana training.
Lebih lanjut, 65 persen menyebut, sulit menjaga diri untuk tetap termotivasi akibat terlalu banyak menghabiskan diri di dalam rumah.
Namun, 22 persen responden lainnya tetap berpakain rapi dan formal untuk tetap termotivasi dan fokus saat bekerja di rumah.
Berdiam diri selama masa pandemi ini juga ternyata membawa pengaruh baik terhadap sebagian orang.
Misalnya, sebanyak 69 persen responden menerapkan kebiasaan ngemil makanan sehat serta tetap berolahraga demi menjaga motivasi diri.
Dream - Menurut penelitian Hong Kong University (HKU), mata dan saluran pernapasan atas menjadi rute yang paling membahayakan bagi penularan virus corona ke dalam tubuh manusia.
Tim peneliti menemukan virus SARS-CoV-2, jenis virus corona yang menyebabkan penyakit Covid-19, 100 kali lebih menular ketika melewati mata dan saluran pernapasan atas daripada Sindrom Pernapasan Akut (SARS) dan flu burung.
Tes laboratorium mengungkapkan jumlah virus SARS-CoV-2 jauh lebih banyak daripada SARS di saluran pernapasan dan sel-sel yang melapisi permukaan mata yang disebut dengan konjungtiva.
Tim yang dipimpin oleh Dr. Michael Chan Chi-wai, dari jurusan kesehatan masyarakat HKU, menjadi salah satu peneliti pertama di dunia yang membuktikan bahwa virus corona dapat menginfeksi manusia melalui kedua titik masuk tersebut. Temuan Dr. Michael dan timnya ini telah dipublikasikan di The Lancet Respiratory Medicine.
Dr. Michael dan timnya membiakkan sampel virus SARS-CoV-2 yang diambil dari saluran pernapasan atas dan mata di laboratorium. Setelah itu mereka mempelajari dan membandingkannya dengan SARS dan H5N1.
" Kami menemukan bahwa SARS-CoV-2 jauh lebih efisien dalam menginfeksi saluran pernapasan bagian atas dan konjungtiva manusia daripada SARS, dengan jumlah virus sekitar 80 hingga 100 kali lebih tinggi," terang Dr. Michael.
" Hal ini menjelaskan bahwa cara penularan SARS-CoV-2 lebih tinggi daripada SARS. Studi ini juga mengungkapkan fakta bahwa mata mungkin merupakan rute penting infeksi SARS-CoV-2 pada manusia," tambah Dr. Michael.
Studi ini memperkuat imbauan kepada masyarakat untuk tidak menyentuh mata dan sering mencuci tangan untuk menghindari infeksi virus corona.
Apalagi para peneliti sebelumnya menemukan bahwa virus corona bisa bertahan selama tujuh hari pada permukaan stainless steel dan plastik.
Temuan dari Dr. Michael dan lainnya juga menantang asumsi yang dipegang secara luas di tahap paling awal krisis Covid-19.
Sebelumnya ada asumsi bahwa staf medis akan terlindungi secara memadai hanya dengan memakai masker N95 dan pakaian pelindung, tanpa kacamata khusus.
Sumber: SCMP
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya