Kisah Miris Anak Cari RS Selama 36 Jam untuk Ayah Terpapar Covid-19

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Senin, 3 Mei 2021 18:00
Kisah Miris Anak Cari RS Selama 36 Jam untuk Ayah Terpapar Covid-19
Namun sayang, pengorbanan dan usaha yang dilakukannya berujung pahit.

Dream - Pada 14 April 2021, Ashish Shrivastav, 39 tahun, memasukan sang ayah, Sushil Kumar, 70 tahun, yang mengeluh sesak napas ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit Vivekanand di Lucknow, ibu kota negara bagian Uttar Pradesh.

Sesampainya di rumah sakit, sang ayah dinyatakan positif Covid-19 tetapi pihak rumah sakit tidak bisa menerima sang ayah lantaran tidak ada tempat tidur yang tersedia. Ashish pun memohon kepada pihak rumah sakit. Namun pihak rumah sakit tetap menolaknya. Dia disarankan mencari rumah sakit pemerintah.

Dengan rasa pilu, Ashish memasukan kembali ayahnya ke dalam mobil dan membeli 2,5 liter tabung oksigen dan mencari rumah sakit yang mau menerima ayahnya.

1 dari 5 halaman

Diusir Satpam

Dengan penuh harap, Ashish menuju pusat perawatan Covid di wilayah Lalbagh. Dia pun mendaftar secara formal melalui jalur resmi, namun pihak rumah sakit pemerintah tetap menolak ayahnya.

“ Semua rumah sakit minta surat rujukan dari Kepala Petugas Medis (CMO). Ketika saya ke kantor CMO, saya harus menunggu (karena banyak orang). Saat saya menunggu, saya dipaksa meninggalkan tempat itu oleh polisi yang ditugaskan di sana,” jelasnya, dikutip dari Al Jazeera, Senin 3 Mei 2021.

Selama paruh pertama bulan April, pasien positif Covid yang dirawat di rumah sakit mana pun di Lucknow membutuhkan surat rujukan dari kantor CMO. Untuk mendapatkan surat itu, pasien wajib menunjukkan tes RT-PCR yang mengonfirmasi infeksi Covid. Tetapi setelah protes publik, pemerintah Uttar Pradesh baru-baru ini menghapus persyaratan surat rujukan.

Tsunami Covid India: 36 Jam Pencarian Tak Pasti yang Berujung Tragis© MEN

Sushil Kumar (Foto: merdeka.com/Al Jazeera)

2 dari 5 halaman

Berujung Pahit

Ashish mengatakan telah mencoba mendatangi fasilitas kesehatan swasta dan yang dikelola pemerintah di Lucknow. Tetapi tidak ada satupun yang mau menerima.

“ Saya kesana kemari seperti pengemis dan mencoba banyak rumah sakit lain melalui telepon juga. Ayah saya menyuruh saya untuk membawanya pulang dan dia akan baik-baik saja tetapi saya tahu kondisinya semakin memburuk,” tuturnya.

Saat itu, Ashish harus mengisi ulang tabung oksigen dua kali agar ayahnya tetap hidup.

“ Kami akhirnya mengantarkannya ke klinik swasta dengan bantuan kawan dokter saya setelah 36 jam,” ujarnya.

Namun sayang, pengorbanan dan usaha yang dilakukannya berujung pahit. Pada 16 April 2021, ayahnya dinyatakan meninggal dunia.

3 dari 5 halaman

Bagaikan Ditusuk Belati

Dua hari setelah kematian ayahnya, Ashish menerima telepon dari Pusat Pengendalian Komando Covid, mengatakan ada sebuah tempat tidur yang disiapkan untuk ayahnya di rumah sakit Lucknow. Dia mengatakan saat itu dirinya seperti ditusuk belati.

“ Hanya dua hari sebelum tanggal itu, bisa jadi ada perbedaan besar untuk menyelamatkan ayah saya,” kata dia.

Sekarang, Ashish dan istrinya juga dinyatakan positif Covid-19 dan melakukan isolasi mandiri.

“ Kami tidak tahu harus berbuat apa. Haruskah saya berduka untuk ayah saya yang tidak dapat saya selamatkan atau haruskah saya menjaga diri saya dan istri saya? Saya tidak tahu bagaimana mengatasi kehilangan atau apa yang harus dilakukan tapi jika ada intervensi yang tepat dari pemerintah pada waktu yang tepat, mungkin kondisi keluarga saya atau ribuan keluarga seperti kami akan berbeda,” sesalnya.

 

4 dari 5 halaman

Situasi Bangsal Mengerikan

Uttar Pradesh menjadi salah satu negara bagian terpadat di India, dengan populasi 200 juta orang. Infeksi meningkat lebih dari 22.000 kasus setiap hari.

Pada 28 April, jumlah total kasus kumulatif di Uttar Pradesh mencapai 300.041 sementara 11.943 orang telah meninggal dunia. Di Lucknow, jumlah kumulatif total adalah 46.596 dengan 1.726 total kematian.

Harjit Singh Bhatti, seorang dokter yang berbasis di Delhi dan Presiden Nasional Progresif Medicos & Scientists Forum (PMSF), yang berpraktik di rumah sakit swasta yang telah diubah menjadi fasilitas Covid, mengatakan, “ Ini merupakan keadaan darurat kesehatan. Situasi di bangsal mengerikan. Terkadang kita harus menempatkan dua orang di satu tempat tidur karena kita harus menyelamatkan nyawa mereka. Lingkungan bekerja di luar batas kemampuan tenaga medis. Sumber daya terbatas dan jumlah pasien yang datang ke rumah sakit di luar bayangan."

“ Kami para dokter merasakan kesedihan dan kelegaan pada saat yang sama, ketika seorang pasien meninggal karena kami dapat memberikan ventilator oksigen kepada pasien lain yang memiliki harapan untuk diselamatkan dengan bantuan medis. Pemerintah harus segera mengambil bantuan tentara dan menyediakan tempat tidur sebanyak mungkin karena virus menyebar dengan kecepatan yang tidak terbayangkan," pungkasnya.

 

5 dari 5 halaman

Kasus Harian Mencapai 400.000

Pada 1 Mei, India mencatat kasus harian infeksi Covid-19 melampaui angka 400.000 dan 3.500 kematian akibat virus corona. Rekor baru ini tercatat saat India berencana mmevaksinasi 800 juta penduduk berusia 18 tahun ke atas.

Sementara itu, tingkat positif, yang mencapai 6,1 persen pada awal April, telah melonjak menjadi 22 persen, dengan 22 dari 100 orang dinyatakan positif terinfeksi virus corona.

Dihadapkan dengan krisis mengerikan, Peredana Menteri Narendra Modi mengumumkan upaya vaksinasi pada 21 April 2021 lalu dan dimulai sejak 1 Mei kemarin.

(Sah, Sumber: merdeka.com)

Beri Komentar