Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Shutterstock.com)
Dream - Pandemi Covid-19 belum kelar, namun kini sudah muncul kabar mengkhawatirkan soal infeksi virus yang bisa menyebabkan mimisan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan sudah memberi peringatan peningkatan infeksi virus 'mimisan' yang disebarkan oleh kutu tersebut.
Secara resmi disebut demam berdarah Crimean-Congo, penyakit ini menyebabkan pendarahan internal dan eksternal yang cepat dan parah, termasuk melalui hidung.
Penyakit ini telah terdeteksi pada 120 orang di Irak sejak Januari dan sejauh ini menyebabkan setidaknya 18 orang meninggal dunia. Pejabat WHO khawatir penyakit tersebut menyebar pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Virus ini terdapat pada kutu dan orang menular melalui kontak dengan seseorang yang terinfeksi darah hewan, yang biasanya bekerja dengan ternak atau di rumah pemotongan hewan.
Menurut WHO, gejala utamanya adalah pendarahan hebat, demam, nyeri tubuh, pusing, sakit leher, sakit kepala, dan sakit mata. Selain itu, orang yang terinfeksi juga terdeteksi mengalami sakit tenggorokan, diare, mual, dan muntah.
Presiden Irak, Mustafa al-Kadimi, telah mengalokasikan satu miliar dolar untuk menyemprot peternakan dengan pestisida untuk membunuh kutu yang menjadi biang kerok virus tersebut.
Selain itu, klinih hewan juga disemprot dengan pestisida. Masyarakat didesak untuk membeli daging hanya dari pemasok berlisensi.
Menurut perwakilan WHO di Irak, Ahmed Zouiten, peningkatan kasus infeksi tersebut dapat disebabkan oleh kegagalan negara itu untuk melakukan kampanye penyemprotan pestisida pada tahun 2020 dan 2021 karena Covid.
" Kami belum mencapai tahap epidemi, tetapi infeksi lebih tinggi dari tahun lalu," kata Ahmed Zouiten awal bulan ini.
" Prosedur yang diadopsi oleh otoritas yang berbeda tidak selaras, terutama berkaitan dengan penyembelihan yang tidak diatur," tambah dia. (metro.co.uk)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya