Ma'ruf Amin: Jangan Bangun Narasi Konflik Saat Khotbah

Reporter : Maulana Kautsar
Senin, 17 Februari 2020 10:00
Ma'ruf Amin: Jangan Bangun Narasi Konflik Saat Khotbah
Para penceramah diminta tak buat dakwah yang menimbulkan konflik.

Dream - Wakil Presiden Ma'ruf Amin meminta para penceramah agar punya komitmen kebangsaan. Para penceramah juga diminta membingkai dakwah dengan nilai kebangsaan dan kenegaraan.

" Karena kita sudah komitmen negara kita adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dasarnya Pancasila," kata Ma'ruf saat membuka Rakernas ke II dan Khalakah Khatib Se-Indonesia, Jumat, 14 Februari 2020.

" Itu kesepakatan, titik temu, karena ada titik temu maka lahirlah NKRI, karena itu Pancasila dan NKRI adalah kesepakatan, saya menyebutnya negara ini kesepakatan," tambah dia.

Menurut Ma'ruf, Pancasila dan NKRI merupakan kesepakatan nasional. Sehingga dia berharap para penceramah khatib tidak menyinggung ideologi lain, misalnya khilafah.

" Kalau ada khilafah, jelas menyalahi kesepakatan. Saya kira jelas itu, nah ini harus dimiliki wawasannya oleh para khatib," ujar dia.

Ma'ruf juga berharap para khatib memiliki komitmen menjaga persatuan. Selain itu, para khatib diharapkan bisa merawat persatuan dengan cara menjaga teologi kerukunan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

" Dalam khotbah itu jangan bangun narasi konflik. Jadi sikap intoleran itu yang harus kita pinggirkan, karena intoleran itu yang lahirkan sikap radikalisme," ucap dia.

Sumber:

1 dari 4 halaman

Wamenag Minta Masyarakat Tegur Pendakwah yang Ajarkan Kebencian

Dream - Wakil Menteri Agama (Wamenag), Zainut Tauhid Sa'adi merasa prihatin dengan maraknya penceramah yang berdakwah dengan cara menyebar kebencian dan adu domba.

Untuk itu, Zainut meminta masyarakat bisa menegur penceramah yang berdakwah dengan cara seperti itu.

" Begini, kepada masyarakat untuk berani mengingatkan menegur kepada setiap penceramah yang menebarkan kebencian yang melakukan fitnah adu domba masyarakat," ujar Zainut di DPP PPP, Jakarta, Jumat, 6 Desember 2019.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu mengatakan, selama ini masyarakat masih bersikap abai dengan apa yang disampaikan penceramah.

" Selama ini masyarakat kesannya permisif kepada penceramah seperti itu," kata dia.

Zainut kembali menegaskan dan meminta masyarakat jangan abai dengan materi ceramah yang disampaikan, sehingga dapat memecah belah persatuan.

" Kalau ada penceramah jelas-jelas menyampaikan ujaran kebencian fitnah adu domba, masyarakat harus berani dengan menegur, jangan dibiarkan," ucap dia.

2 dari 4 halaman

Tujuan Sebenarnya Kemenag Bikin Sertifikasi Pemuka Agama

Dream - Kementerian Agama (Kemenag) ternyata membuat kebijakan sertifikasi penceramah untuk seluruh agama yang ada di Indonesia. Sebelumnya ramai diberitakan imbauan yang bersifat sukarela ini hanya berlaku untuk para dai atau penceramah agama Islam.

Menteri Agama Fachrul Razi menegaskan program sertifikasi pemuka agama menyasar tujuan utama yaitu menghilangkan isi ceramah yang disampaikan bertentangan dengan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.

" Tujuannya agar semua punya kecintaan kepada bangsa yang tinggi, hati-hati dalam angkat topik, karena bisa sebabkan goyah kalau angkat topik salah," ucap Fachrul, di kompleks parlemen, Jakarta, Kamis 28 November 2019.

Meski begitu, Fachrul tidak mewajibkan aturan tersebut. Sebab, sertifikasi itu tidak akan berdampak apa-apa bagi penceramahan yang belum atau tidak bersertifikat.

Penceramah bersertifikat, kata dia, akan dibekali pengetahuan nasionalisme. Sebab, ada materi mengenai penjelasan wawasan kebangsaan bagi penceramah yang sudah tergabung dalam pelatihan sertifikasi.

" Penceramah bersertifikat semua agama, nggak mengikat, silakan. Kalau mau ikut kita senang, kita tambahkan pengetahuan nasionalisme," kata dia.

3 dari 4 halaman

Sertifikasi Penceramah Dilakukan untuk Semua Agama di Indonesia

Dream - Menteri Agama (Menag), Fachrul Razi menyatakan program sertifikasi penceramah akan dilakukan pada agama. Namun Fachrul menegaskan jika program bersifat sukarela.

" Saat rapat kabinet lalu, kami rapat untuk menamakannya menjadi penceramah bersertifikat. Tidak wajib. Siapa pun boleh ikut, yang mau tidak ikut, tidak apa-apa," ujar Fachrul, Rabu 27 November 2019.

Fachrul menjelaskan tujuan sertifikasi penceramah adalah untuk menekan penyampaian ajaran agama yang selama ini dinilai tidak tepat. Pesan yang disampaikan dikhawatirkan akan merusak nilai-nilai kebangsaan.

" Memang keaadaan sekarang ini harus dilakukan, terutama tentang nasionalisme, tentang kehati-hatian mengangkat tema-tema ceramah," kata dia.

4 dari 4 halaman

Berlaku untuk Dai Pengisi Ceramah Masjid Pemerintah

Mantan Wakil Panglima TNI itu berujar, di negara demokrasi ini seyogyanya masyarakat mampu menerapkan nilai-nilai moderasi beragama. Sehingga, mampu hidup rukun meski memiliki keyakinan yang berbeda.

" Moderasi beragama ini kita harapan kami berlaku untuk semua agama," ucap dia.

Saat ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah melakukan pembekalan standarisasi dai. Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi MUI, Masduki Baidlowi mengatakan, dai yang belum memiliki sertifikat tidak dapat melakukan ceramah di masjid milik instansi pemerintah.

" Pemerintah juga akan membuat satu kebijakan, dai-dai yang akan melakukan dakwah khotbah di masjid pemerintahan itu dai-dai yang bersertifikat," ujar Baidlowi.

Beri Komentar
Cara Samuel Rizal Terapkan Hidup Sehat Pada Anak