Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Ini Disokong Oleh Belanja Pemerintah.
Dream – Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2016 tercatat sebesar 5,18 persen. Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) berpesan kepada pemerintah untuk bisa memanfaatkan pertumbuhan ini untuk mencapai pertumbuhan yang inklusif.
“ Stimulus dari belanja pemerintah ini diharapkan mampu dapat memicu pergerakan di sektor riil,” ujar kata Wakil KEIN, Arif Budimanta, di Jakarta, dikutip dalam keterangan tertulis yang diterima Dream, Sabtu 6 Agustus 2016.
Sekadar mengingatkan, Badan Pusat Stastistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal II tahun ini lebih baik daripada kuartal II tahun sebelumnya. Salah satu pendorong utamanya adalah pertumbuham komponen pengeluaran konsumsi pemerintah, yaitu sebesar 6,28 persen.
Berbicara tentang komponen belanja pemerintah, Arif mengharapkan komponen belanja bisa menjadi stimulus terhadap peningkatan produktivitas. Peningkatan tersebut terjadi pada kinerja industri atau dunia usaha, sehingga bisa mendorong penciptaan lapangan kerja yang bisa dinikmati masyarakat.
" Dengan demikian, ketahanan sosial masyarakat akan serta-merta tercipta," kata dia.
Untuk mencapai target itu, Arif meminta pemerintah memperhatikan efek ganda (multiplier effect) dalam merealisasikan belanja pemerintah. Pada belanja infrastruktur ini, belanja pemerintah harus diupayakan supaya bisa menciptakan kesempatan keterlibatan sektor usaha padaat karya dan punya hubungan dengan kebutuhan investasi langsung (direct investment) dan industrialisasi.
Dengan skenario tersebut, akan semakin banyak menciptakan kesempatan kerja. Kondisi ini akan sangat membantu meningkatkan konsumsi masyarakat, sebagai faktor penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan ketahanan sosial masyarakat melalui daya beli yang baik.
" Dengan demikian, pertumbuhan yang dicapai bisa jadi pengungkit untuk mencapai pertumbuhan yang inklusif," kata dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya