Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Sudah bukan rahasia umum jika penampilan yang menarik dapat meningkatkan peluang seseorang dalam segala hal.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penampilan yang menarik memiliki pengaruh terhadap perekrutan dan promosi.
Namun, penelitian terbaru dari UCL School of Management, London, Inggris bertentangan dengan temuan itu. Menurut penelitian mereka, penampilan yang menarik justru dapat menghambat peluang Anda meraih pekerjaan yang menonjolkan kompetisi atau persaingan.
Disebutkan dalam penelitian itu bahwa pria tampan mungkin ditolak untuk pekerjaan yang mengutamakan persaingan tetapi mereka lebih disukai untuk peran yang membutuhkan kerja sama.
Penulis penelitan Sun Young Lee menemukan bahwa pria tampan dilihat sebagai lebih kompeten. Sehingga manajer di tempat kerja yang menonjolkan kerja sama seperti di departemen R & D mempekerjakan kandidat pria tampan.
Demikian pula, di tempat kerja dengan kinerja tim, manajer lebih memilih karyawan pria tampan, karena mereka bisa mempercepat kesuksesan mereka sendiri.
Lain ceritanya jika peran kompetitif dibutuhkan seperti di departemen penjualan. Logika di balik alasan ini adalah bahwa ketampanan memberi sinyal kompetensi sehingga membuat pria tampan terlihat menjadi ancaman bagi rekan-rekan di masa depan.
" Jika pembuat keputusan berharap untuk bersaing, mereka lebih suka mendiskriminasi mereka," kata penulis studi tersebut seperti dikutip dari Emirates 247, Sabtu, 19 Desember 2015.
Lee bersama dengan rekan-rekan penulis dari University of Maryland, London Business School, dan Insead, tidak menemukan efek yang sama bagi perempuan cantik.
" Perempuan yang atraktif tidak dikaitkan dengan kompetensi. Itu karena stereotip fisik berinteraksi dengan stereotip gender.
" Manajer dipengaruhi oleh stereotip dan membuat keputusan perekrutan untuk melayani kepentingan diri mereka sendiri sehingga perusahaan mungkin tidak mendapatkan calon yang paling kompeten," kata Lee.
" Semakin banyaknya perusahaan yang melibatkan karyawan dalam proses perekrutan, poin penting ini perlu perhatian. Kesadaran bahwa perekrutan dipengaruhi oleh hubungan kerja potensial dan kecenderungan stereotip dapat membantu perusahaan meningkatkan proses perekrutan mereka.
" Misalnya, melibatkan perwakilan eksternal yang dapat meningkatkan hasil seleksi karena orang luar cenderung memberikan masukan yang lebih adil. Juga, jika perusahaan bisa membuat manajer lebih akuntabel dalam membuat keputusan, mereka akan kurang termotivasi untuk mengejar kepentingan pribadi dengan mengorbankan perusahaan."
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya