Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil
Tak Perlu Trial and Error Pilih Susu Formula Anak, Cukup Scan & Check AceKid Sumber Susunya Transparan
Golkar Putuskan Prabowo Capres 2029, Bagaimana Nasib Gibran?
Sampah Dibakar, Mikroplastik di Udara Mengintai
Rute Kereta Terpanjang yang Bisa Ditempuh dalam Sekali Jalan, Tembus 10.000 Kilometer Lebih
Punya Rumah atau Masih Menyewa, Ketahui Mana yang Lebih Memengaruhi Kebahagiaan
Terjaga Setelah Tengah Malam Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja, Ini Penjelasan Ilmuwan
Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas
S&P Memprediksi Pertumbuhan Sukuk Kurang Menggembirakan Tahun Ini.
Dream – Penerbitan sukuk global diprediksi akan tidak akan terlalu kuat pada tahun ini. Kondisi ini disebabkan likuiditas global yang semakin ketat, risiko geopolitik yang meningkat, dan lambannya standardisasi produk keuangan syariah.
Hal ini diungkapkan oleh lembaga pemeringkat global, Standar and Poor Global Ratings (S&P).
Dikutip dari Salaam Gateway, Jumat 12 Januari 2018, dalam laporan Global Sukuk Market Outlook 2018, S&P menyebut penerbitan sukuk global tahun ini diprediksi sebesar US$70 miliar-US$80 miliar (Rp1.073,88 triliun-Rp1.208,12 triliun).
“ Kami mencatat lambannya standardisasi produk sukuk, tetapi ada kesadaran yang lebih besar akan kebutuhan standardisasi,” bunyi laporan itu.
S&P juga mencatar, pada 2017, penerbitan sukuk global meningkat 45,3 persen dari US$67,4 miliar (Rp904,75 triliun) menjadi US$97,9 miliar (Rp1.314,17 triliun). Pertumbuhan ini didorong oleh penerbitan sukuk beberapa negara Kawasan Teluk (GCC).
Institusi ini juga memperkirakan likuiditas global akan semakin ketat dengan alasan tingkat suku bunga The Fed meningkat sebesar 75 basis poin. Untuk risiko geopolitik, S&P melihat kondisi ini akan membebani beberapa investor, termasuk sanksi terhadap Qatar oleh sekelompok negara Arab pada Juni 2017.
Mereka juga memprediksi bahasan tentang prinsip pembagian untung rugi secara mendalam di dokumentasi hukum sukuk dan akan menghilangkan pasar kelas ritel. Pada akhirnya, pembagian untung rugi ini akan menghasilkan harga yang lebih tinggi dan mengurangi daya tarik sukuk.
“ Untuk badan usaha atau individu, tren ini cenderung mengurangi daya hukum karena hukumnya kompleks dan biayanya tinggi,” tulis S&P. (ism)
Advertisement

3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi

Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026

Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya

Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil


Golkar Putuskan Prabowo Capres 2029, Bagaimana Nasib Gibran?