Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Bursa Saham
Dream - Indeks saham emiten syariah kembali bergerak di zona hijau meski sempat tergelincir di awal perdagangan. Sentimen data ekonomi terbaru membuat bursa saham Indonesia menguat usai libur Hari Buruh.
Pada perdagangan jelang akhir pekan, Jumat, 2 Mei 2014, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dibuka melemah ke level 158,58. Namun seiring munculnya data deflasi April 2014, ISSI kembali masuk zona hijau.
Hingga perdagangan pukul 09.50 WIB, indeks ISSI tercatat telah menguat 0,22 poin (0,14%) ke level 159,05.
Kondisi yang sama dialami indeks saham bluechips syariah. Indeks Jakarta Islamic Index (JII) dibuka melemah ke level 646,04. Seiring menghijaunya bursa saham domestik, indeks JII juga ikut menguat 1,07 poin (0,16%) ke level 648,63 pada perdagangan pukul 09.53 WIB.
Volume perdagangan transaksi saham kali ini mencapai 6,22 miliar dengan nilai Rp 993,02 miliar.
Sebanyak 70 emiten syariah berhasil mencetak kenaikan harga saham. Sementara 78 lainnya masih terpuruk di zona merah dan 39 emiten bergerak stagnan.
Emiten GMTD menjadi pencetak kenaikan harga saham tertinggi (top gainer) setelah menguat Rp 1.200 ke level 7.400 saham. Top gainer lainnya adalah CTRS yang menguat Tp 65. ASII Rp 50, ACES Rp 40, dan ARNA Rp 40 per saham.
Sementara saham perusahaan perkebunan milik Astra, PT Astra Agro Lestari (ASII) yang sebelumnya menjadi top gainer, kini terkena aksi ambil untung. AALI menjadi pencetak koreksi terdalam (top losser) setelah harga sahamnya turun Rp 775 ke level 28.625 per saham.
Top losser lainnya adalah CIPN yang terkoreksi Rp 50, CPIN, ECII, EXCL, dan BTON masing-masing senilai Rp 50 per saham.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya