Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi. (Foto: Freepik.com)
Dream - Setelah menjalani serangkaian uji klinis yang panjang, seorang pejabat China mengatakan bahwa para ahli akhirnya mengkonfirmasi obat yang dikenal sebagai Chloroquine Phosphate memiliki efek kuratif tertentu pada virus corona.
Para profesional medis ini telah 'dengan suara bulat' sepakat bahwa obat tersebut dimasukkan dalam pengujian berikutnya untuk perawatan pasien virus corona.
" Sehingga dapat diterapkan dalam berbagai uji klinis yang lebih luas sesegera mungkin," kata Sun Yanrong, wakil kepala Pusat Pengembangan Bioteknologi Nasional China.
Penemuan obat untuk penderita virus corona ini tentu menjadi sesuatu yang perlu disyukuri. Namun Chloroquine Phosphate sebenarnya bukan obat baru.
Chloroquine Phosphate adalah obat untuk mengatasi malaria dan sudah digunakan selama 70 tahun terakhir.
" Obat ini telah dipilih dari puluhan ribu obat yang ada karena terbukti berfungsi selama beberapa kali dilakukan screening," tambah Yanrong.
Selanjutnya dia mengatakan bahwa obat tersebut telah menjalani uji klinis di lebih dari 10 rumah sakit di Beijing, Hunan dan Guangdong. Semuanya telah menunjukkan tingkat keberhasilan yang cukup baik.
Pasien yang menggunakan obat ini menunjukkan indikator penyembuhan yang lebih baik daripada kelompok yang diuji, dengan meredanya demam dan membaiknya paru-paru mereka. Hasilnya sangat efektif sehingga kelompok pasien ini bahkan dites negatif dalam tes asam nukleat virus.
Obat ajaib ini tidak hanya membuat pasien menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang baik. Tetapi kemungkinan sembuh yang lebih singkat.
Untuk membuktikan kasusnya, Yanrong memberi contoh seorang pria berusia 54 tahun dari Beijing yang dirawat di rumah sakit empat hari setelah menunjukkan gejala.
Semua indikatornya membaik dan setelah minum obat, tes asam nukleat menunjukkan hasil negatif hanya dalam seminggu.
Tidak hanya itu. Angka-angka pasti mendukung hasil pengujian para ahli China ini. Sejauh ini, lebih dari 100 pasien yang diuji klinis tidak menunjukkan reaksi negatif dari obat tersebut.
Sumber: World of Buzz
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya