Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Kerokan sering dipercaya efektif untuk meredakan masuk angin. Banyak orang bahkan mengungkapkan bahwa kerokan lebih baik ketimbang minum obat.
Namun nyatanya, masuk angin atau istilah angin duduk tidak terdapat di dalam dunia medis. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Ade Median Ambari, mengatakan, sesungguhnya masuk angin adalah gejala dari serangan jantung.
"Ini sebenarnya merupakan gejala pompa jantung yang terganggu," kata Ade dalam diskusi media bersama AstraZeneca, Jakarta, Senin 18 Februari 2019.
Dia menambahkan, gejala itu diawali dengan nyeri di ulu hati, badan terasa pegal, mual, dan muntah. "Itulah yang dikira masuk angin," tambah Ade.
Terhambatnya kinerja jantung disebabkan oleh pembuluh darah yang tersumbat. Hal ini dapat memberi sensasi nyeri di bagian dada, pegal, sensasi kesemutan di lengan atas sampai tercekik.
Jika dibiarkan, kata dia, akan terjadi kondisi Sindrom Koroner Akut (SKA) di mana jantung kehilangan kemampuannya untuk bekerja. SKA adalah peristiwa terjadinya kematian otot jantung.
"Semakin luas otot yang mati, maka semakin besar kemungkinan pasien meninggal dunia," tutur Ade.
Kondisi ini harus diatasi dengan tindakan medis. Kerokan justru memperburuk keadaan, terutama untuk pasien yang sedang mengonsumsi obat pengencer darah.

Sebab, kerokan pada dasarnya hanya melukai pembuluh darah sehingga terlihat merah dari permukaan kulit. Pecahnya pembuluh darah dapat memperbesar risiko kematian.
Masuk angin yang berlangsung lebih dari 20 menit patut dicurigai. Terutama ketika sakit terasa semakin hebat, disertai dengan keringat dingin, mual hingga muntah.
"Dalam penyakit jantung, time is muscle. Masa emas atau golden period hanya 12 jam. Jika lewat dari itu akan semakin jelek prognosisnya bahkan bisa gagal jantung," tambah Ade
Advertisement
Bagaimana Industri Pangan Mengurangi Limbah? Ini Strategi yang Dilakukan

Mengapa Sampah dari Industri Makanan Berbahaya bagi Lingkungan?

Ekonomi RI Ditekan Perang, Bencana, dan Korupsi, JK: 'Punya Uang Saja Tidak Cukup'

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran


Inggris dan Jepang Minta Warga Siapkan Stok Makanan untuk 3 Hari, Ada Apa?

Benarkah Oksigen di Bumi Bisa Habis? Ilmuwan Perkiraan Kapan Hal Itu Bisa Terjadi

Sering Disalahpahami, Ini Perbedaan Frugal Living dengan Hidup Pas-pasan

Beeru Stevia Diduga Berisi Pemanis Buatan, Apa Risikonya bagi Penderita Diabetes Jika Terkonsumsi?

Tak Selalu Bawa Sajadah, Inisiatif Ini Bantu Jamaah Salat Jumat Lebih Nyaman

Bagaimana Industri Pangan Mengurangi Limbah? Ini Strategi yang Dilakukan

Pantat Terasa Nyeri Bukan Selalu karena Salah Duduk, Bisa Jadi Ini Penyebabnya