5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
Kondisi Otak Pasien Covid-19 Yang Sembuh. (Foto: News Regional Media)
Dream - Virus corona yang menyebabkan penyakit Covid-19 telah merenggut sekitar 4,5 persen dari hampir 12 juta orang yang dikonfirmasi positif.
Tetapi, mereka yang dinyatakan telah sembuh dari Covid-19 tidak bisa hidup dengan tenang. Karena sebagian mengalami kerusakan parah pada organ vital.
Setengah tahun menjadi pandemi, namun para ilmuwan masih belum banyak tahu tentang apa yang dilakukan virus terhadap tubuh.
Namun banyak laporan baru yang menyebut penyakit Covid-19 ini menyerang otak pasien yang terinfeksi virus corona.
Menurut seorang profesor neurologi di University College London, virus corona memiliki empat dampak penting pada otak dan sistem saraf.
" Satu hal penting yang perlu dicermati adalah keparahan penyakit paru-paru tidak selalu berkorelasi dengan keparahan penyakit saraf," kata Profesor Michael Zandi dalam The Conversation.

Artinya, kata profesor Zandi, menderita penyakit paru-paru ringan bukan berarti bebas dari komplikasi penyakit yang parah akibat terinfeksi virus corona.
Dia mencontohkan adanya pasien yang mengalami kondisi bingung yang dikenal sebagai delirium atau ensefalopati, kadang-kadang juga mengalami gangguan psikosis dan memori.
Laporan lainnya menyebutkan adanya pasien Covid-19 yang mengalami peradangan otak, yang merupakan salah satu bentuk dari terjadinya luka pada otak.
Dia juga melaporkan adanya pembekuan darah yang dapat menyebabkan stroke, dan potensi kerusakan saraf yang dapat menimbulkan rasa sakit dan mati rasa saat sistem kekebalan tubuh menyerang sistem saraf.
" Efek-efek ini dilaporkan di seluruh dunia. Beberapa meninggal sebagai akibatnya, sementara yang lain mengalami kerusakan mental dan fisik jangka panjang," katanya.
Profesor Zandi menduga Covid-19 juga dapat menyebabkan epidemi sekunder pada penyakit otak, yang disebut dengan encephalitis lethargica atau penyakit tidur.
Penyakit ini juga pernah muncul ketika pandemi flu Spanyol merebak pada 100 tahun yang lalu. Epidemi penyakit tidur sebenarnya dimulai beberapa tahun sebelum flu Spanyol.
Meski keduanya terjadi secara kebetulan, Profesor Zandi mengatakan sulit untuk secara langsung menghubungkannya satu sama lain.
Dia menambahkan perasaan bingung dan linglung yang dialami oleh beberapa pasien Covid-19 sebagian besar berumur pendek.
Tetapi kemungkinan bisa berdampak jangka panjang atau bahkan berubah jadi demensia.
" Semua efek pada otak dan sistem saraf ini memiliki potensi kerusakan jangka panjang dan dapat menumpuk pada seseorang," pungkasnya.
Sumber: News.com.au
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?