Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Memasuki masa puber, anak-anak pasti menyadari adanya perubahan pada diri mereka. Salah satunya, bentuk tubuh. Bagi anak perempuan, bentuk tubuh merupakan perubahan yang paling jelas terlihat saat mereka memasuki masa pubertas.
Payudara mulai membesar, mengalami haid, serta perubahan lain. Tidak menutup kemungkinan, perubahan tersebut bisa membuat anak kehilangan rasa percaya diri dan malu akan bentuk tubuhnya. Apalagi jika melihat bintang-bintang di televisi yang memiliki tubuh ramping dan semampai.
Berdasarkan survei dari Yahoo Health, sekitar 1.993 remaja dan perempuan dewasa dengan rentang usia 13-64 tahun mulai merasa malu pada perubahan fisiknya saat menginjak usia 9 atau 10 tahun. Lalu kondisi ini muncul lagi saat usia 13 hingga 17 tahun.
Sebanyak 60 persen dari responde mengatakan hal yang membuat mereka malu dengan tubuhnya adalah komentar negatif dari teman atau kerabat. Lalu, sebanyak 25 persen mengungkap kalau gambaran tubuh yang ideal mereka dipengaruhi oleh teman dan media.
" Media massa berperan penting. Banyaknya penggambaran yang dilakukan media tentang ukuran kecantikan seorang perempuan, menjadi pemicu remaja perempuan gemar membandingkan tubuhnya dirinya dengan orang lain," kata Robyn Silverman, penulis buku Good Girls Don't Get Fat.
Alhasil, jika mereka mendapati dirinya tidak sesuai dengan seseorang yang menjadi panutannya, mereka akan merasa minder dan tidak percaya diri. Lalu, apa yang bisa orang tua lakukan untuk meningkatkan kembali rasa percaya diri pada anak?
Peran orangtua dinilai sangat penting dalam mengawasi informasi yang didapat anak. Orangtua perlu memberi tahu bahwa tidak semua informasi, terutama dari media kecantikan, dapat ditiru atau ditelan mentah-mentah.
Selain itu, berpikir positif dan selalu bersyukur juga menjadi salah satu hal yang perlu ditanamkan pada diri anak. Jika kedua hal tersebut sudah tertanam, anak dengan sendirinya akan mengetahui kelebihan dirinya dan memandang pribadinya bukan hanya dari aspek fisik saja.
(Sah/Sumber: Parents)
Baca Juga: Dahsyatnya 'Pelukan Kangguru' untuk Bayi Prematur Kesulitan Belajar Bukan Hanya Disleksia, Ada Jenis Lain Ini Cara Aman Membersihkan Hidung Bayi Facebook Bikin Panduan Khusus untuk Orangtua 3 Alasan Buah Hati Selalu Mengabaikan Omongan Anda Tak Perlu Selalu Ditemani, Biarkan Si Kecil Main Sendiri
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya