Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Foto: Shutterstock
Dream - Liburan tahun ini terasa sangat berbeda dengan adanya pandemi Covid-19. Pemerintah telah mengimbau masyarakat untuk tetap berada di rumah untuk memutus rantai penularan corona. Meski begitu, terlalu lama berada di rumah juga dapat berdampak pada kesehatan psikologis.
" Efek sampingnya menimbulkan kejenuhan dan Cabin Fever Symptoms, salah satunya yang biasa disebut baper. Kita mudah tersinggung, mudah cemas dan terganggu," kata Turo Wongkaren, Ph.D, Anggota Tim Pakar Satgas Covid-19 Bidang Perubahan Perilaku/Kepala Lembaga Demografi FEB Universita Indonesia, di kanal YouTube BNPB Indonesia.

Kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang di rumah dapat memberi dampak buruk bagi mental seseorang.
Kejenuhan dapat diatasi dengan pergi ke daerah sekitar rumah, misalnya pergi berolahraga. Pastikan untuk tetap memakai masker dan menghindari kerumuman orang.
" Bisa juga dengan membuat target. Misalnya minggu ini kita bersihkan rumah, minggu depan berkebun atau melakukan kegiatan lainnya agar tetap produktif dan menghindari kejenuhan," ujarnya.
Jika ingin tetap berlibur, masyarakat diminta untuk menerapkan protokol kesehatan dan menjalankan panduan liburan yang aman.
Selain menerapkan 3M (Mencuci Tangan, Memakai Masker dan Menjaga Jarak), masyarakat diimbau agar dapat memilih lokasi wisata yang aman. Sebaiknya hindari acara perkumpulan yang melibatkan banyak orang.
" Kalau liburannya berupa perkumpulan keluarga dengan interaksi yang kuat, ini lebih meningkatkan risiko penularan. Berbeda jika kita datang ke tempat wisata yang sepi dan terbuka," kata dr. Dwi Agustian, MPH, Ph.D, Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran UNPAD.

Sebelum berlibur, masyarakat juga harus memastikan daerah yang didatangi termasuk ke dalam zona hijau. Carilah lokasi wisata yang belum banyak diketahui masyarakat untuk meminimalisir adanya kerumunan.
" Misalnya kita liburan ke pantai, bisa cari lokasi yang agak sepi dan terpencil. Berbeda dengan pantai yang memang sudah populer dan banyak dikunjungi wisatawan," tegasnya.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang