Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
(Foto: Shutterstock.com)
Dream - Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Kusnandi Rusmil, mengatakan, sebanyak 1.620 relawan sudah disuntik vaksin Covid-19 buatan Sinovac. Sebanyak 1.590 di antaranya sudah dua kali mendapatkan suntikan.
Menurut Kusnadi, tim riset belum mendapat temuan munjulnya efek samping penyuntikan vaksin dari para relawan tersebut. Dia menyatakan, proses uji klinis berjalan baik.
" Dengan proses uji klinis yang selama ini sementara waktu itu cukup baik," ujar Kusnandi dalam dialog virutal 'Menjawab Berbagai Keraguan Soal Vaksin" , disiarkan Channel Youtube FMB9ID_IKP.
Sampai saat ini, tambah dia, tim riset tidak mendapat gejala mengkhawatirkan. Semua relawan dalam kondisi normal, seperti sebelum disuntik vaksin.
" Selama ini tidak kami temukan hal-hal yang menakutkan, paling panas badan sedikit, demam sedikit yang dalam dua hari hilang," kata Kusnandi.
Kusnandi mengatakan dari 1.620 relawan, terdapat 15 orang yang mengundurkan diri dari uji klinis. Alasannya lebih karena masalah teknis seperti pindah kerja dan sakit yang bukan disebabkan oleh vaksin.
" Saya pikir sampai saat ini keamanannya masih bisa dipertanggungjawabkan," kata dia.
Usai disuntik, kata Kusnandi, semua relawan dalam pemantauan tim selama enam bulan. Dia juga menegaskan riset uji klinis tahap tiga tidak dijalankan secara terburu-buru.
Kusnandi pun menerangkan uji klinis vaksin ini bersifat multicenter. Selain Indonesia, vaksin yang sama juga diuji klinis di Brazil dan Turki.
Uji klinis di Bandung akan menjadi bahan Pemerintah untuk dibandingkan dengan hasil di negara lain. " Kalau sudah lulus tahap tiga, vaksin bisa diguakan dan diperjualbelikan," kata dia.
Sepanjang pengalamannya terlibat dalam berbagai riset uji klinis vaksin, Kusnandi menyebut uji klinis vaksin Sinovac tergolong aman. Dari sekian imunisasi, potensi munculnya reaksi berat usai imunisasi sangat kecil sekitar 0,1 sampai 1 kejadian per satu juta orang.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Dream - Kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan menjadi kunci memutus rantai penularan Covid-19. Sayangnya, muncul tren penurunan dalam penerapan penggunaan masker dan jaga jarak di tempat wisata di masa libur panjang.
Anggota Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Dewi Nur Aisyah, mengatakan temuan ini didapat dari pemantauan terhadap 1.026.138 orang yang berkunjung ke 173.079 tempat wisata di 407 kabupaten dan kota di Indonesia. Periode pemantauan dijalankan pada 28 Oktober hingga 1 November 2020.
" Kalau kita lihat trennya saat libur panjang lebih sedikit turun dibandingkan hari-hari sebelumnya pada pekan berbeda," ujar Dewi dalam talk show virtual " Covid-19 Dalam Angka: Protokol Kesehatan di Tempat Wisata" .
Berdasarkan data yang dia terima, Dewi mengatakan pada Rabu, 28 Oktober 2020 persentase kepatuhan memakai masker di tempat wisata sebanyak 88,50 persen. Angka ini menurun dibandingkan hari yang sama pekan sebelumnya sebanyak 88,62 persen.
Sehari kemudian yaitu Kamis, 29 Oktober 2020, persentase kepatuhan turun dari 89,77 persen di pekan sebelumnya menjadi 87,73 persen. Di Jumat, 30 Oktober 2020, kepatuhan memakai masker di tempat wisata turun signifikan dari 88,82 persen ke 86,25 persen.
Pada Sabtu, 31 Oktober kembali terjadi penurunan persentase kepatuhan protokol kesehatan. Tercatat tingkat kepatuhan turun signifikan dari 89,09 persen menjadi 86,35 persen.
" Minggu turun dari 85,88 persen menjadi 85,06 persen," kata Dewi.
Penurunan tingkat kepatuhan jaga jarak juga terjadi dalam kurun waktu tersebut. Seperti pada 28 Oktober, tingkat kepatuhan jaga jarak hanya 83,35 persen dari hari yang sama pekan sebelumnya sebesar 84,32 persen.
Pada Kamis, 29 Oktober 2020 jadi 79,04 persen. Padahal, pekan sebelumnya sebanyak 84,70 persen.
" Jumat turun dari 82,57 persen menjadi 81,08 persen," kata Dewi.
Pada Sabtu, 31 Oktober terjadi penurunan cukup tajam menjadi 78,49 persen. Di pekan sebelumnya, tingkat kepatuhan jaga jarak tercatat 83,31 persen.
Sedangkan pada Minggu, 1 November, penurunan tingkat kepatuhan tercatat hampir tiga persen. Dari 80,12 persen pada pekan sebelumnya menjadi 77,80 persen.
" Jadi kemungkinannya orangnya banyak, berkumpul dalam satu waktu akhirnya kemampuan untuk menjaga jarak sulit," kata Dewi.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya